Kamis, 31 Mei 2012

PPST Ar-Risalah dan Oase Para Thawalib

Matahari begitu garang membakar tubuh ketika kami bersama beberapa penumpang lainnya keluar dari dalam gerbong kereta. Riuh rendah suara penumpang yang hendak melanjutkan perjalanan seakan menambah kegerahan suasana. Apalagi saat itu kondisi kami sedang dalam keadaan berpuasa. Beruntung saat itu mobil yang menjemput kami sudah lebih dulu tiba dan menunggu di areal parkir stasiun kereta api Kediri, sehingga kami tidak perlu memperpanjang kelelahan setelah menempuh perjalanan selama enam jam dari kota Jogja. Kegerahan sedikit terobati sesaat setelah kami merebahkan tubuh di kursi mobil yang dilengkapi dengan Air Conditioner (AC). Kesejukan semakin sempurna kami rasakan ketika mobil yang membawa kami melaju dengan kecepatan sedang, melewati jalanan kota Kediri yang terlihat ramai. Kami menyempatkan diri memandang deretan bangunan demi bangunan yang berjejer rapi sepanjang jalan. Apalagi pada saat melintasi sungai Brantas yang tenang dan luas, salah satu icon kebanggaan masyarakat Kediri selain pabrik rokok Gudang Garamnya yang begitu terkenal. Selang beberapa waktu, akhirnya kami sampai di halaman sebuah rumah yang terletak di pojok simpang tiga, tepatnya di samping pintu gerbang Perumahan Wilis Indah. “Silahkan istirahat dulu di sini, Mas,” kata Mbak Anil, salah seorang yang turut menjemput kami ke stasiun. Hari itu Kediri memang terasa panas, dan satu-satunya keinginan kami waktu itu hanya mandi, shalat dan istirahat. Namun tidak semua keinginan itu kami lakukan. Selesai mandi dan shalat, kami justru menyempatkan diri untuk melihat-lihat keadaan sekitar. Alangkah terkejutnya ketika mata kami melihat sebuah tulisan yang berbunyi Pondok Pesantren Lirboyo. Lama kami tertegun di depan pintu gerbang pesantren itu. Dan membaca namanya, kami menjadi teringat dengan sebuah puisi yang pernah dilantunkan oleh KH. Musthafa Bisyri, seorang penyair kenamaan asal Rembang, yang secara tidak langsung memperkenalkan nama Lirboyo kepada kami lewat salah satu sajaknya yang berjudul Lirboyo, Kaifal Hal. Pertamakali membaca dan mendengar lirik puisi Gus Mus, begitu ia akrab disapa, yang terbayang di benak kami adalah kemegahan sebuah pesantren, baik dalam segi bangunannya, jumlah santrinya dan charisma kiai-kiai pengasuhnya. Dan apa yang kami bayangkan saat itu rasanya tidak begitu salah dan berlebihan, apalagi ketika kami memasuki salah satu unit pesantren Lirboyo yang dikenal dengan nama Pondok Pesantren Salafy Terpadu (PPST) Ar-Risalah di bawah kepengasuhan KH. Ma’ruf Zainuddin bersama istri, Ny.Hj. Aina Ainaul Mardhiyyah Anwar. Sekilas, memandang pesantren ini layaknya memandang sebuah bangunan hotel. Ruang-ruang kamar berjejer rapi dengan lantai putih bersih mengkilat. Tampaknya, pesantren yang satu ini mencoba melepaskan diri dari stereotipe pesantren yang sering diasumsikan kumuh dan kotor. Di halaman depan pesantren ini tumbuh beberapa jenis tanaman berukuran besar dan kecil yang membuat suasana bertambah sejuk dan nyaman. Ada pohon mangga, kelapa, dan beberapa tanaman rambat lainnya Belum lagi suara burung yang sengaja dipelihara, semakin menambah tentram suasana. Hari itu, kami datang dan memasuki kompleks PPST Ar-Risalah dengan sebuah tugas yang cukup berat, yakni memberi pelajaran tentang jurnalistik khususnya bidang sastra. Kami katakan tugas tersebut cukup berat karena beberapa alasan. Pertama, seperti yang sering kami rasakan pada saat mengisi acara serupa di tempat-tempat lain, bahwa tidak banyak orang yang memiliki minat besar terhadap dunia tulis menulis. Hal itu dengan sendirinya akan membuat antusiasme peserta diklat menjadi menurun. Kedua, keberadaan jurnalistik terutama di bidang sastra masih begitu jauh tersisih dalam pergaulan. Sastra dianggap hanya menawarkan mimpi, imajinasi dan sama sekali tidak peka terhadap masalah riil kehidupan. Itu sebabnya ia sering dijauhi. Padahal faktanya bisa sama sekali berkebalikan dengan anggapan seperti itu. Dua hal inilah yang membuat kami harus bekerja ekstra keras untuk bisa menumbuhkan antusiasme peserta, baik terhadap program diklat dan terutama pada materi sastra yang kami sampaikan. Sejak dari Jogja sudah kami bayangkan betapa tidak mudahnya menjaga antusiasme peserta diklat jurnalistik, dan karena itu sudah kami persiapkan beberapa langkah antisipasi untuk mengatasi masalah itu. Namun apa yang kami bayangkan ternyata tak berlaku di sana, di PPST Ar-Risalah yang hijau itu. Kami keliru menggambarkan sosok-sosok santri yang biasanya tidak begitu apresiatif terhadap sesuatu yang seakan-akan tak berhubungan dengan agama: jurnalistik. Malah sebaliknya, yang kami hadapi adalah sosok-sosok santri dengan tatapan nyalang penuh semangat, langkah yang bergesa penuh tekad, suara lantang penuh harapan dan dada membusung penuh optimisme. Di dalam sejuknya kawasan Ar-Risalah, kami menghadapi santri-santri yang tak kenal lelah, enerjik dan senantiasa menunjukkan minatnya yang begitu besar terhadap sesuatu. Dan melihat kenyataan itu, kami pun ikut bersemangat. Seluruh kemampuan dan energi, kami kerahkan untuk bisa menyampaikan berbagai materi secara maksimal. Apalagi pada saat materi latihan diberikan, dimana hampir semua santri dapat mengerjakannya dengan hasil yang tidak terlalu mengecewakan. Dari sana akhirnya kami berpikir, bahwa kemegahan bangunan PPST Ar-Risalah seperti mencerminkan semangat santri-santrinya. Kebersihan lingkungannya seakan mencerminkan kemurnian niat para santri di dalamnya. Kesejukan dan kesegaran suasananya seakan merupakan gambaran dari keramahan santri dan pengurus-pengurusnya. Kami tak menyangka, bahwa kami akan sedemikian akrab dengan Ustad Abu Hamid yang berkumis manis misalnya, Ustad Muhammad Ihsan yang kharismatik dan beberapa Ustad serta pengurus lainnya, yang ketika di asrama penginapan saling mengeluarkan lelucon dan ledekan segar. Keramahan, semangat dan antusiasme yang ditunjukkan santri serta pengurus membuat kami merasa betah. Namun sayang, waktu ternyata memang harus dibatasi. Tak terasa kami sudah tiga hari di sana, di PPST Ar-Risalah. Meskipun singkat, kebersamaan kami dengan para santri yang didasari oleh niat untuk sama-sama belajar, seakan menumbuhkan satu kesadaran baru bagi kami, bahwa ternyata dalam kehidupan ini kita memang harus saling melengkapi. Namun bagi kami, alangkah tidak lengkapnya keberadaan kami di Ar-Risalah tanpa harus berbincang, meski sedikit, dengan keluarga pengasuh. Maka di sore yang mendung itu, sebelum kami bertolak ke kota Jogja, kami menyempatkan diri menemui keluarga pengasuh untuk dua kepentingan; silaturrahmi dan pamitan. Rasa senang kembali menyelimuti perasaan kami, karena KH. Ma’ruf Zainuddin dan Ny.Hj. Aina Ainaul Mardhiyyah Anwar, selaku pengasuh, menyambut kami dengan penuh kekeluargaan. Dari keduanya kami mendapatkan ilmu tentang pentingnya optimisme dalam perjuangan, ketegaran dan pengorbanan. Bahkan dari keduanya juga kami dapat mengetahui bahwa perbedaan disiplin ilmu, ketika disatupadukan, akan menghasilkan bangunan pengetahuan yang utuh dan kokoh. Sama seperti menyatunya KH. Ma’ruf Zainuddin yang notabene salaf dengan Ny. Hj. Aina Ainaul Mardliyyah Anwar yang notabene khalaf. Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, keduanya menyatu dalam satu bangunan keluarga, dan bersama-sama membangun PPST Ar-Risalah yang mereka cintai. Di akhir tulisan reportase ini, kami ingin menutupnya dengan sebuah pendapat yang dikemukakan Hong Zyi (1880-1942), “Memiliki kemampuan untuk berbuat jahat, tetapi tidak melakukan, itulah kebajikan. Memiliki kemampuan untuk berbuat baik, tetapi tidak melakukan, itulah keburukan.” Semoga kita semua termasuk orang yang memiliki kemampuan berbuat baik, dan benar-benar mampu melakukannya. Amin… (by Salman Rusydie Anwar).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar