Kamis, 31 Mei 2012

Hukum Keadilan; Pesta Pora Para Pemangsa!

Dengan penuh nekat, saya mencoba mengutip pernyataan Thorstein Veblen sebagaimana dikutip Albert Einstein dalam salah satu artikelnya yang berjudul Why Socialism? untuk ikut nimbrung berbicara mengenai temuan aparat penegak keadilan berkenaan dengan adanya fasilitas mewah yang diberikan untuk beberapa tahanan elite di Rumah Tahanan Jakarta beberapa hari yang lalu. Veblen mengeluarkan sebuah istilah yang saya rasa cocok untuk menyebut perilaku beberapa aparat penegak hukum di negeri kita tercinta ini. Dia menyebut tentang istilah “fase pemangsa” dalam setiap perkembangan sejarah manusia. Jika di dalam sejarah kehidupan manusia memang benar-benar ada situasi tertentu yang dapat menyebabkan manusia memasuki “fasenya (sebagai) pemangsa”, maka ada tiga pertanyaan yang harus kita kemukakan untuk itu. Pertama, apa bentuk situasi yang memungkinkan seseorang bisa benar-benar menjadi pemangsa. Kedua, siapa saja atau biasanya dari kalangan mana saja manusia yang memiliki tipologi sebagai pemangsa. Ketiga siapa saja yang biasanya sering dijadikan objek mangsaan oleh manusia-manusia pemangsa itu? Meski istilah “fase pemangsa” yang dikemukakan Veblen waktu itu lebih diorientasikan untuk mencermati perilaku ekonomi bangsa Eropa, akan tetapi di negeri kita tampaknya istilah tersebut akan lebih cocok digunakan untuk menyebut perilaku hukum. Sebab, tidak mungkin menggunakan istilah itu untuk masalah ekonomi karena persoalan ekonomi negeri kita ini masih berada pada taraf Wallahu A’lam, atau hanya Tuhan yang Tahu apakah kita kelak secara ekonomi kita akan benar-benar menjadi Macan Asia atau mangsanya Macan Asia. Tetapi kalau untuk hukum, kayaknya sangat mungkin. Karena di dalam persoalan yang satu ini sudah tidak ada lagi taraf-taraf Wallahu A’lam. Artinya, Tuhan sudah benar-benar tahu bagaimana sesungguhnya hukum keadilan ditegakkan di negara kita ini. Bahkan sangat mungkin tidak hanya Tuhan yang tahu. Malaikat, jin, setan, kuntilanak, demit dan kalong wewe sudah mafhum soal hukum Indonesia sampai ke akar-akarnya. Dalam persoalan hukum, sejak dulu bangsa kita sepertinya memang terbiasa menciptakan situasi-situasi yang memungkinkan para aparat penegaknya berubah total dari manusia penyantun-penegak keadilan menjadi manusia pemangsa yang menelan pencari keadilan itu. Salah satu caranya dimulai dari unit-unit yang paling kecil. Sebut saja dalam aparat kelurahan. Kalau Anda hendak membuat KTP, maka terlebih dahulu kuatkan kesabaran hati Anda untuk mendengar macam-macam instruksi penuh ribet. “Maaf, Mas. Anda harus menghubungi ini dulu. Lalu ke itu. Sesudahnya ke sono. Terus ke situ. Baru kemudian ke sini. Dan terakhir Anda harus melunasi pembiayaan sebesar ini. Dan tunggu dua bulan, baru KTP Anda bisa diambil. Tapi kalau mau lebih cepat biayanya harus sebesar ini dan KTP sudah bisa diambil besok pagi. Habis subuh pun tidak apa-apa.” Saya tidak tahu, apa tanggapan Anda mengenai situasi-situasi macam itu yang membuat Anda rela dimangsa oleh mereka demi selembar surat KTP. Logikanya, jika pada unit negara yang terkecil saja urusannya sampai berbelit-belit seperti itu, entah bagaimana jadinya jika ada ketentuan bahwa setiap KTP harus ditanda tangani oleh Bupati, Gubernur atau bahkan Presiden. Mungkin Anda lebih memilih masuk surga cepat-cepat dari pada dilempar kesana-kemari hanya untuk ngurus KTP. Entah mungkin karena terbiasa hidup di dalam situasi semacam itu, orang-orang yang ditugasi rakyat untuk mengurus segala kepentingan dan keperluannya tiba-tiba saja berlagak layaknya seorang jenderal yang sedang menghadapi prajurit bawahannya. Mereka berani dan seenaknya tunjuk sana-sini kepada rakyat yang telah memilih dan menggajinya hingga seakan-akan negara ini merupakan warisan nenek moyangnya. Padahal, jabatan mereka baru setingkat sekretaris desa, namun sikapnya seakan melebihi sekretaris negara Adi Kuasa. Maka di sinilah letak problem yang sesungguhnya. Aparat hukum kita tidak benar-benar meletakkan diri dan posisinya sebagai pengayom rakyat yang harus memperlakukan mereka dengan adil. Mereka justru lebih senang memposisikan diri mereka sebagai pemangsa kedaulatan rakyat. Ada kebanggaan tersendiri ketika rakyat begitu patuh pada instruksi-instruksinya sehingga dia dapat menghayalkan diri menjadi seorang raja yang sedang memberi titah. Dan ironisnya, lagi-lagi rakyat yang harus dijadikan mangsa oleh mereka. Rakyat tidak hanya dimangsa hartanya lewat kewajiban membayar pajak, yang kelak pajak ini justru digunakan untuk menggaji mereka. Tetapi rakyat juga dimangsa kedaulatannya sebagai entitas utama dalam negara. Rakyat yang seharusnya menjadi raja, malah dirubah menjadi jongos karena praktek pemangsaan itu. Rakyat yang sejatinya dilayani, malah disuruh melayani karena berlakunya tradisi pemangsaan itu. Akibatnya, muncullah ketimpangan-ketimpangan lintas sektoral yang pemecahannya barangkali baru bisa dilakukan setelah terjadinya kiamat, yang menurut orang-orang Suku Maya akan terjadi pada tahun 2012 nanti. Namun rakyat ternyata berbeda-beda. Ada rakyat yang berkulit hitam, kurus, bemata cekung dengan tulang pipi bertonjolan layaknya penderita busung lapar. Dan ada juga rakyat yang berkulit putih, gemuk, berwajah mulus dan terawat seperti halnya para artis-artis Hollywood. Karena rakyat berbeda-beda, maka tentu saja perlakuan hukum untuk mereka harus berbeda-beda pula. Sebab, perbedaan itu kan harus selalu menjadi rahmat. Dan tidak akan ada rahmat kalau tidak menghargai perbedaan. Idiom ini ternyata sangat dipegang kuat-kuat oleh aparat penegak hukum dan keadilan di negeri ini. Kalau ada dua orang yang melakukan kejahatan dan lalu keduanya ditahan, maka hukum untuk keduanya baru bisa diputuskan kalau sudah diketahui perbedaan diantara keduanya. Standar yang digunakan untuk bisa mengetahui perbedaan diantara dua pelaku kejahatan itu antara lain: (1) siapa diantara keduanya yang termasuk orang terpandang, (2) siapa diantara keduanya yang memiliki kekayaan lebih, (3) siapa diantara keduanya yang paling berani memberi “rahmat” berupa insentif khusus kepada para penegak hukum agar mereka bisa mendapatkan tempat dan perlakukan istimewa selama berada dalam penahanan. Jika sudah diketahui kelebihan-kelebihan salah satu dari kedua tahanan itu, maka para aparat pun hanya tinggal berkata, “Bayarlah dengan harga istimewa. Maka kau akan mendapatkan fasilitas yang serupa.” Veblen barangkali benar dalam satu sisi tentang adanya “fase pemangsa” pada diri manusia, baik ia sebagai pelaku ekonomi atau sebagai pelaku hukum. Tetapi tentu saja dia akan salah jika mau menyebut penegak hukum di Indonesia sebagai “pemangsa” klien-kliennya. Sebab penegak hukum kita tidak kenal dengan istilah pemangsa, melainkan sekadar tukar-menukar “rahmat” bersama para klien-kliennya. Nah, tau sendiri kan?

Selasa, 10 Januari 2012

Cincin Emas, Patung Garuda dan Sebuah Buku

By Salman Rusydie Anwar Pada suatu hari di atas sebuah bukit, seorang guru dari dalam gubuknya memanggil ketiga murid yang sedang mengumpulkan kayu di halaman. Kepada kelima muridnya ini sang guru berkata: “Hari ini, pergilah kalian berlima ke kota. Belilah barang-barang keperluan yang dapat bertahan untuk waktu yang lama,” kata sang guru sambil menyerahkan bungkusan yang berisi uang. Kelima murid tersebut merasa begitu senang mendapat perintah dari gurunya. Maklum, selama tiga tahun ini mereka tidak diperbolehkan pergi kemana-mana dan hanya diperintah untuk belajar dan mengumpulkan kayu. Setelah melakukan sedikit persiapan, kelima murid ini akhirnya pamit dan berangkatlah mereka ke kota. Sesampainya di kota, kelima murid ini langsung menuju pusat perbelanjaan paling lengkap yang ada di kota itu. Murid pertama langsung menuju toko emas dan dia membeli sebuah cincin emas yang bersepuhkan permata: “Cincin emas ini akan mampu bertahan lama karena selain emasnya emas murni aku pun pasti akan selalu menjaganya dengan baik.” Kemudian murid kedua pergi menuju toko cinderamata dan disana ia membeli sebuah patung batu berbentuk burung garuda yang sedang mengepakkan sayapnya. Kemudian setelah berpikir agak lama, murid ketiga ini pergi ke sebuah toko buku dan disana dia membeli beberapa buah buku dan beberapa buah alat tulis. Melihat temannya murid ketiga ini membeli buku, murid pertama dan murid kedua ini sempat mengingatkan: “Guru memerintahkan kita membeli barang yang dapat bertahan lama. Kenapa kamu justru membeli buku tulis. Bukankah benda itu akan mudah sekali rusak?” “Sudahlah, biar nanti kujelaskan di depan guru,” kata murid ketiga. Setelah selesai berbelanja, ketiga murid ini kembali pulang. Sore hari mereka sampai di padepokan tempat mereka belajar. Saat malam tiba, dengan menggunakan obor, sang guru memanggil kembali ketiga muridnya. Kepada murid pertama, sang guru bertanya: “Apa yang kamu beli?” “Sebuah cincin emas, guru.” “Kau yakin, emas akan mampu bertahan lama?” “Saya yakin guru. Sebab cincin ini terbuat dari emas murni yang tidak akan mudah karat dan lapuk. Saya juga akan selalu menjaganya dari kehilangan.” Sang guru mengangguk-angguk dan kemudian dia bertanya pada murid yang kedua. “Lalu, apa yang kamu beli?” “Saya membeli sebuah cinderamata berbentuk patung garuda guru. Patung garuda ini terbuat dari batu marmer yang sangat kokoh dan saya yakin akan bertahan lama.” “Kau yakin patung garuda dari batu marmer ini akan bertahan lama?” “Sangat yakin, guru. Karena selain batu marmer itu kuat, saya juga akan menempatkan patung ini di dalam tempat khusus sehingga ia akan tetap terjaga selamanya.” Sang guru kembali mengangguk-angguk. “Lalu kamu?” tanya sang guru pada murid ketiga. “Saya membeli buku dan juga alat tulis, guru?” Sang guru tampak terkejut mendengar pengakuan murid ketiganya ini. “Mengapa kamu membeli buku? Bukankah buku mudah sekali lapuk. Apakah kamu yakin buku dan alat tulis itu akan bertahan lama?” “Maaf, guru. Buku ini memang mudah sekali lapuk. Tapi saya akan mengisinya dengan ilmu dan pengalaman hidup saya selama belajar di sini. Kemudian hasil tulisan itu akan saya berikan kepada orang lain untuk dibaca dan saya juga akan meminta kepada mereka untuk kembali menyebarkannya kepada orang lain. Demikian seterusnya. Dengan begitu, maka apa yang saya tuliskan dalam buku ini akan bertahan selamanya.” Sang guru kembali mengangguk-angguk. Lalu kepada ketiga muridnya ia berkata: “Murid-muridku. Ketahuilah, bahwa keabadian itu tidak ditentukan oleh benda-benda. Sebuah benda hanyalah penanda dari adanya sebuah asumsi, konsep dan anggapan. Emas dan cincin emas itu berbeda. Sebab emas adalah konsep dan cincin itu adalah bentuk kasar yang digunakan untuk menerjemahkan konsep emas itu sendiri. Begitu halnya dengan cinderamata itu. Karenanya, engkau dapat menjadi “abadi” bukan karena kepemilikanmu atas benda-benda, melainkan bagaimana kau memahami hakikat mengenai konsep-konsep itu dan sekaligus mengerti bagaimana memperlakukan benda-benda itu yang tidak lain sebagai perwujudan dari konsep tersebut.” “Aku salut pada saudaramu, muridku yang ketiga ini, karena dia tidak memahami buku sebagai sekadar bendanya saja. Akan tetapi dia memahami tentang konsep mengenai kata ‘buku’ itu, mengerti hakikatnya dan tahu bagaimana memperlakukannya. Kalau kamu masih berpikir bahwa emas adalah segalanya, yang akan memberimu kebahagiaan abadi, maka pergilah kamu ke Freeport. Begitupun kalau kamu menduga bahwa patung garuda adalah segalanya, yang akan memberimu ketenteraman, maka pergilah kamu ke Indonesia. Di sana kamu akan tahu hal yang sebenarnya. uru

Senin, 28 November 2011

Lebay..!!

Saya sepertinya diciptakan sebagai makhluk yang tidak beruntung. Atau mungkin keberuntungan, dari saya, amat dijauhkan letaknya untuk dapat dijangkau. Atau mungkin saya yang justru diciptakan sedemikian rupa sehingga tidak bisa menjangkau yang namanya keberuntungan. Ah, apa pun istilahnya intinya tetap satu; tidak beruntung. Ketidakberuntungan saya itu barangkali disebabkan oleh sesuatu yang amat sederhana sifatnya, yaitu terutama karena setiap ada teman ngomong sesuatu saya selalu terbiasa mengatakan, “Ih, lebay kamu.” Kenapa saya mengatakan kebiasaan saya ini sebagai sesuatu yang tidak menguntungkan? Perhatikan penjelasan di bawah ini...hehe...kayak mau ujian saja. Saya tahu bahwa istilah ‘lebay’ itu digunakan untuk menilai sesuatu yang sifatnya agak berlebihan. Berlebihan di sini dapat menyangkut sikap, tindakan dan juga ucapan. Jadi, orang yang bersikap berlebihan terhadap sesuatu, maka ia disebut lebay. Orang yang bertindak berlebihan pada sesuatu, ia disebut lebay. Dan orang yang ketika ngomong omongannya sangat banyak, juga disebut lebay, keterlaluan, berlebihan dsb. Tetapi masalahnya, tidak ada ketentuan pasti sampai sejauh mana sikap, tindakan dan omongan itu dapat disebut berlebihan atau lebay. Karena tidak ada ketentuan itulah maka ukuran lebay itu adalah semau gue dan semau ello. Saya mau bilang Anda lebay ketika Anda berkata, “Uh, cuaca hari ini panas ya?” itu terserah saya. Saya mau bilang Anda lebay ketika Anda berkata, “Seharusnya pemerintah segera membentuk tim khusus untuk mengusut ambruknya jembatan di Sungai Mahakam,” itu terserah saya. Intinya, sayalah yang akan memberikan punish apakah Anda lebay atau tidak. Kalau sebelumnya saya katakan bahwa saya akan menjadi orang yang kurang beruntung karena kebiasaan mengatakan lebay pada orang lain, itu disebabkan karena hal itu mencerminkan kondisi mental saya yang cenderung menolak, mengacuhkan, tidak mau peduli dan tak mau tahu dengan sikap, tindakan dan pendapat orang lain. Contoh, pada saat saya berkata lebay ketika Anda bilang, “Wah, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan sungai hampir dapat dikatakan tidak ada ya. Buktinya, hampir sebagian besar masyarakat yang hidup dekat sungai membuang sampah ke dalam sungai,” maka sebenarnya secara tidak langsung saya telah menjadi orang yang kurang mau menghargai pendapat Anda. Saya ingin menghentikan Anda untuk berbicara lebih jauh tentang apa yang Anda amati dengan berkata, “Alaah, lebay kamu.” Padahal, bisa saja pendapat Anda itu dapat menambah informasi bagi saya dan menumbuhkan kesadaran baru dalam batin saya yang sayangnya kemungkinan itu saya hapuskan sendiri dengan kata-kata ‘lebay’. Tetapi apa mau dikata, saya telah masuk ke dalam putaran fenomena budaya masyarakat yang begitu akrab dengan istilah ‘lebay’. Saya telah ikut mendapuk kata-kata ‘lebay’ menjadi semacam trend komunikasi massal yang begitu terkesan gaul saat diucapkan. Ya, saya telah menjadikan kata ‘lebay’ sebagai sesuatu yang menarik dan terkesan apik saat ia menjadi bahasa gaul saya sehari-hari. Apa yang saya paparkan di atas itu hanya satu sisi. Sedangkan pada sisi yang lain, menurut saya, kata ‘lebay’ juga mencerminkan bahwa saya, dengan sering berkata ‘lebay’ itu, tidak hanya mengurangi sikap mau mendengar, mau tahu, dan mau menghargai orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Namun yang lebih penting, saya telah menutup jalinan komunikasi yang lebih hangat, lebih akrab, lebih humoris dan lebih familiar dengan orang lain karena seringnya berkata, “lebaaaaay’ pada mereka. Padahal ketika saya dikatakan lebay saat berucap satu-dua kata maka tiba-tiba muncul rasa enggan untuk berkata-kata lagi. Dan kemungkinan seperti itu juga yang berlaku pada orang lain. Mereka malas untuk melanjutkan omongannya karena telah dinilai ‘lebay’ meski mungkin saja apa yang hendak mereka sampaikan mengandung sesuatu yang bermanfaat buat saya, entah itu berupa informasi baru, inspirasi baru atau pun sekadar menumbuhkan suasana kehangatan pertemanan baru. Jadi begitulah, saya rasa kata ‘lebay’ telah membuat saya kurang menghargai sesuatu yang bisa saja membuat saya nikmat saat berinteraksi dengan orang lain meski orang itu benar-benar lebay adanya. Tapi anehnya, saya malah lupa mengatakan lebay ketika ada rekan yang datang pada saya dan berkata, “Mas. Saya punya tawaran proyek kerja untuk Mas. Ini akan sangat menguntungkan secara materi karena proyek yang saya tawarkan ini memang sesuai dengan profesi dan kemampuan yang Mas miliki. Konsepnya begini,...bla....bla...bla...bla....” Saya heran, kenapa setelah rekan saya itu bicara panjang lebar dengan menghabiskan tiga jam waktu saya, saya justru tidak bisa berkata, “Ah, kamu lebay juga ya..!?” Sampai sekarang saya masih belum menemukan alasannya. Dan di saat saya sibuk mengkaji ini, tiba-tiba si Ala Roa yang telah dengan lebay menghabiskan waktu tiga jam di toilet berteriak: “Salmaann....kamu lebaaaaaaaaaaaayyy.!!!” Gedubraakkkkkkkkkkkk. Kebumen 2040.

Jumat, 28 Oktober 2011

Tuhan Memilihku Jadi Pipa Saluran

Oleh Salman Rusydie Anwar

Bagi Anda yang belum memiliki buah hati, barangkali catatan ini penting untuk dijadikan sebagai penyemangat akan pentingnya menjaga kesehatan si buah hati kelak. Sementara bagi yang sudah dikaruniai buah hati, semoga catatan ini dapat menggugah kesadaran Anda untuk membantu (minimal lewat doa) terhadap buah hati seorang kawan saya yang saat ini tergolek tak berdaya di ruang ICCU di salah satu rumah sakit di kota Pemalang.
Sungguh malang nian nasib anak yang satu ini. Di usianya yang masih empat bulan dia sudah mengidap suatu penyakit yang membuat siapa saja yang mendengar nama penyakitnya pasti akan bergidik menahan ngeri; Radang Otak.
Ya Tuhan! Jangankan untuk jenis penyakit yang konon hanya akan berujung pada kematian dan kalaupun sembuh akan menyebabkan yang bersangkutan mengalami kelainan, sekadar buah hati menderita demam, pilek dan penyakit-penyakit yang biasa dialami bayi saja, sebagai orangtua kita pasti akan uring-uringan. Sementara penyakit bayi ini? Oh….,seandainya Anda yang jadi orangtua si bayi itu, sungguh tak terperikan bagaimana nelangsa dan menderitanya perasaan Anda saat itu.
Saya yakin Anda pasti akan blingsatan seandainya takdir penyakit itu ditimpakan kepada Anda, keluarga Anda, orang-orang dekat Anda maupun orang-orang yang teramat sangat Anda cintai. Bayi suci yang oleh orangtuanya diberi nama Jordy Alfarisi ini barangkali tidak dapat menyampaikan rasa sakit yang dialaminya dengan jelas kepada orang-orang di sekitarnya setelah tingkat penyakit yang diidapnya telah membuat dia koma. Koma untuk suatu waktu yang tak dapat dipastikan akan kapan berakhirnya.
Dan yang lebih membuat gigil hati dan perasaan adalah ketika biaya perawatan yang hingga saat ini hampir mencapai seratus juta itu harus ditanggung oleh orangtua Jordy yang pekerjaan utamanya hanyalah sebagai buruh pabrik. Bisa Anda bayangkan, berapa sih gaji seorang buruh kasar pabrik? Jika selama satu bulan dia harus menerima gaji sebesar tiga atau lima ratus ribu misalnya, butuh berapa bulan dia bekerja untuk dapat mengumpulkan duit sebanyak seratus juta? Butuh berapa banting tulang dan berapa ribu liter keringat yang harus dikeluarkan oleh ayah Jordy agar anaknya bisa ditangani?
Di sini kita dipertemukan kembali dengan kenyataan bahwa rasa cinta dan kasih sayang orangtua itu tak mengenal batas harga. Berapapun, asalkan si buah hati dapat diselamatkan, orangtua pasti akan berusaha, bahkan kalau perlu harus bertaruh nyawa. Dan Anda pasti akan berpikir sama seandainya anak Anda mengalami nasib serupa sebagaimana si Jordy kecil ini. Tak ada orangtua -yang benar-benar orangtua- rela membiarkan anaknya menemui kematian akibat penyakit yang diderita betapapun si orangtua itu sendiri sadar bahwa tidak ada pilihan lain untuk mengatasi penyakit itu selain hanya menunggu kepastian Tuhan akan takdir yang telah ditentukan-Nya.
So, apa yang harus kita lakukan? Atau lebih tepatnya apakah kita perlu melakukan sesuatu untuk keluarga Jordy? Kalau pun perlu, seperti apa bentuk bantuan yang dapat kita berikan mengingat selama ini ada banyak sekali jenis-jenis bantuan yang bisa diberikan seseorang kepada orang lain. Mulai dari tenaga, harta atau yang lebih simple dan mudah; doa dan penyemangat.
Saya sendiri bingung bentuk bantuan seperti apa yang harus saya berikan kepada orangtua Jordy saat ia -melalui orang lain- menyampaikan keinginannya untuk pinjam uang kepada saya. Saya tidak memiliki kekayaan berlimpah (dan kalaupun saya kaya belum tentu juga mau membantu), yang sedianya dapat saya sumbangkan sekadar untuk sedikit meringankan beban Jordy, terutama orangtuanya.
Setelah lama saya dilanda kebingungan dan berpikir mencari cara untuk dapat membantu walau tak seberapa, akhirnya datang juga sebuah saran dari istri agar saya menghubungi seorang sahabat senior yang memungkinkan dapat memberi bantuan. Saya ikuti saran istri saya dan syukurlah sahabat senior saya bersedia memberi bantuan. Sepanjang jalan menuju tempat kediaman sahabat saya untuk mengambil bantuan itu, saya teringat kembali pada guru saya yang pernah berkata seperti ini:
“Ketika seseorang datang kepadamu dan meminta bantuanmu, maka sesungguhnya ketika itu Tuhan tidak sedang salah pilih, bahwa engkaulah yang memang diperkenankan dan diijinkan oleh-Nya untuk membantu. Sedapat mungkin jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan langsung oleh-Nya. Kalau ketika itu engkau sendiri tidak berdaya, mohonlah kepada-Nya agar Dia memberikan jalan keluar bagi dirimu. Toh sejatinya Dia yang memilihmu, dan Dia pasti tahu apa yang terbaik untuk kamu lakukan sehingga kamu tetap bisa memberikan bantuan.”
Meski dilanda rasa malu, tidak enak hati dan rasa sungkan yang luar biasa kepada sahabat senior saya itu, saya tetap bersyukur, bahwa sekalipun menjadi perpanjangan tangan dari proses tolong menolong ini setidaknya saya sudah melakukan sesuatu untuk orang lain. Tetapi dalam hati tetap saja ada yang mengganjal, terutama karena saya tidak bisa memberi bantuan sebanyak yang diberikan sahabat senior saya tadi. Untuk sahabat senior saya, terima kasih tiada hingga.
Mengingat hal ini, saya jadi sedikit iri. Sebab saya merasa, Tuhan sebenarnya tidak sedang memilih saya untuk dapat membantu orang lain, tetapi Dia memilih sahabat senior saya tadi. Saya ini dipilih Tuhan sekadar untuk jadi pipa saluran saja. Mungkin Anda akan berkata, “Masih untung yang memilihmu jadi pipa saluran adalah Tuhan, bukan pegawai PDAM itu.”
Hah….tau, ah!

Ini ceritaku. Apa ceritamu?

Kebumen, 29 Oktober 2011

Rabu, 26 Oktober 2011

Cinta si Tukang Kebun

Oleh Salman Rusydie Anwar
Presiden itu milik rakyat karena rakyatlah yang memilih seseorang menjadi presiden. Saham kepemilikan rakyat atas presiden adalah 100% dan tak ada kekuatan apapun yang dapat mengurangi rasa kepemilikan rakyat atas presidennya kecuali si presiden itu yang berusaha melepaskan diri dengan berbagai cara strategi agar merasa tidak dimiliki oleh rakyat yang telah memilihnya.
Di dunia ini banyak sekali contoh-contoh sejarah yang mempertontonkan keengganan seorang presiden untuk dianggap bahwa dia adalah milik rakyatnya. Sedemikian rupa besarnya rasa keengganan itu sehingga lambat laun ia menjadi kekuatan-kekuatan yang dapat membutakan si presiden itu sendiri.
Sebut saja salah satunya adalah Khadafi. Presiden Libya yang nyentrik ini barangkali di awal-awal kekuasaannya masih sanggup memposisikan diri sebagai “milik rakyatnya”. Tetapi seseorang memang terkadang amat dengan mudah merubah putaran roda sejarahnya sendiri sehingga dari yang awalnya baik menjadi sedikit kurang baik dan pada akhirnya total menjadi tidak baik.
Saya tidak mengatakan bahwa Khadafi itu tidak baik. Tetapi munculnya pemberontakan rakyat Libya terhadap diri Khadafi sendiri menunjukkan bahwa si Singa Tua itu sepertinya sudah tidak lagi menempatkan diri sebagai “milik rakyatnya,” melainkan sekadar milik dirinya sendiri, keluarga, rekan dan mitra-mitra terdekatnya.
Mungkin seperti itu pula yang menimpa presiden ke-2 kita, Soeharto. Presiden yang murah senyum ini di awal-awal berkuasa juga sama dengan Khadafi, mampu menempatkan diri sebagai milik rakyat. Namun kekuatan reformasi pada akhirnya sanggup menunjukkan satu fakta baru bahwa ternyata Pak Harto telah berusaha untuk tidak dimiliki oleh siapapun selain diri, keluarga dan orang-orang dekatnya. Maka tumbanglah ia sebagaimana Khadafi.
Dua peristiwa di atas memberi kita pelajaran besar, bahwa rasa cinta dan rasa memiliki yang tertanam di hati rakyat itu sesungguhnya adalah kekuatan yang begitu menenteramkan dan sekaligus membahayakan. Jika rasa kepemilikan rakyat atas presidennya dengan amat sengaja dihalang-halangi oleh si presiden itu sendiri, maka si presiden itu sebenarnya sedang menabuh genderang kehancuran atas dirinya sendiri.
Kita harus banyak belajar dari berbagai negara di seluruh pelosok jagat raya ini bahwa jika ada seorang presiden yang tidak bersedia untuk dimiliki atau enggan untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap rakyatnya, maka kehancuran akan senantiasa membayang-bayangi perjalanan negara itu.
Beberapa waktu yang lalu, sebagai rakyat kita harus bersyukur bahwa presiden kita diingatkan bahwa ia masih amat dicintai dan merasa dimiliki oleh rakyatnya. Lolosnya seorang tukang kebun dari pasukan pengaman presiden sehingga ia berada amat dekat dengan Pak Presiden sepertinya memberikan satu isyarat bahwa presiden itu milik rakyat dan karenanya ia harus dekat dengan rakyat dan harus mudah didekati oleh rakyat.
Akan sangat arif jika kejadian itu sanggup membuat presiden kita merenungkan beberapa hal misalnya; pertama, lolosnya tukang kebun dari pasukan pengaman presiden yang konon sangat berlapis-lapis itu adalah bukti bahwa sesungguhnya betapa rapuhnya kekuasaan manusia sekalipun ia dilindungi oleh berbagai lapis kekuatan manusia macam apapun. Dan diantara kekuatan-kekuatan yang mampu membuat rapuh bangunan kekuasaan itu salah satunya adalah rakyat kecil.
Kejadian lolosnya I Nyoman Minta, si tukang kebun itu sebenarnya bukan kejadian pertamakali yang dialami presiden. Sebab sebelumnya pernah terjadi kejadian serupa yang melibatkan seorang anak berpakaian pramuka dan seorang wanita tua di Cirebon yang berhasil lolos dari paspampres sehingga keduanya bisa berdekat-dekat dengan presiden.
Kedua, akan sangat panjang urusannya seandainya lolosnya pak kebun kita itu sedikit dimodifikasi maknanya seperti, berapa kekuatan yang dititipkan Tuhan kepada pak kebun tadi sehingga ia dapat dengan mudah melenggang masuk menembus rapatnya pasukan pengaman presiden atau kekuatan apa yang menjadikan pasukan presiden yang gagah-gagah itu bisa lengah padahal seumur hidup mereka berlatih cara mengamankan presiden?
Ah, sudahlah! Ini mungkin terlalu mengada-ngada. Yang penting presiden kita selamat dan ia harus bersyukur karena telah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menyaksikan bahwa diantara wangi, necis dan megahnya para tamu VVIP yang hadir di lokasi pembukaan ASEAN Fair itu ternyata ada rakyat sekelas I Nyoman Minta. Artinya, presiden itu harus tahu diri bahwa 100% dia adalah milik rakyat macam tukang kebun itu, bukan orang-orang tamu VVIP saja.
Ranta.....!!!

Kebumen 27 Oktober 2011.

Minggu, 23 Oktober 2011

Dua Cermin Kematian Simoncelli-Khadafi

Oleh Salman Rusydie Anwar

Sungguh miris hatiku mendengar kematian Khadafi dan Simoncelli, yang barangkali kematian keduanya tidak pernah disangka-sangka sebelumnya, baik oleh orang lain maupun oleh yang bersangkutan. Memang aku tidak kenal siapa Simoncelli dan Khadafi selain keduanya adalah dua manusia yang sering menjadi berita oleh profesi mereka sebagai pembalap dan presiden.
Tetapi, betapapun itu Moncelli dan Khadafi adalah dua tokoh tak terjangkau dalam sehari-hari kehidupanku, tidak sebagaimana si Toyo, Tatot, Yayo, Agus, Buzairi, namun kepergiannya sanggup menggedor kesadaranku akan batas usia yang selama ini seringkali aku abaikan dengan amat sengaja.
Yah. Betapa rapuhnya memang manusia itu meski dalam tangannya tergenggam kekuasaan, kekuatan, kepiawaian, popularitas dan juga uang. Moncelli tewas seketika saat kepiawaiannya membalap tak mampu mengimbangi dan menghindar dari laju takdir kematian yang mengejarnya.
Pun juga dengan Khadafi. Dia boleh saja memahami dengan amat mahir bagaimana menyelematkan kursi kekuasaan yang ia duduki selama empat puluh tahun atas negara kaya minyak, Libya. Bahkan sah-sah saja Khadafi membentuk pasukan pengaman terlatih yang akan selalu melindungi dirinya dari berbagai macam ancaman yang membahayakan.
Namun Khadafi memang hanya Khadafi. Kekuasaan yang amat begitu lama ia rengkuh pada akhirnya tetap tidak bisa menguasai nasibnya sendiri. Ia harus takluk oleh nasib kematian yang justru menjemputnya dengan amat tragis. Harta berlimpah yang ia miliki tidak sanggup untuk mengganti sejengkal ketentuan yang digariskan Tuhan bahwa ia harus berakhir di sebuah tempat yang barangkali selama ini sangat ia benci dan jauhi, saluran air kotor, got.
Lalu bagaimana denganku? Dengan cara apa kehidupanku akan berakhir? Tak ada yang bisa memastikan apakah kehidupanku akan berakhir dengan amat nyaman, tenang, tanpa melahirkan sekian ribu kemirisan di hati orang-orang terdekatku?
Kematian memang merupakan salah satu rahasia terbesar yang manusia sejenius Einstein saja tak bakalan mampu memahaminya meski ia otak-atik lagi rumus E=mc²-nya yang kesohor itu. Tuhan memang sengaja merahasiakan peristiwa yang tak seorangpun di dunia ini bakal melewatinya dengan tujuan agar manusia berusaha mempersiapkan dengan lebih baik berdasarkan kesadarannya sendiri.
Namun lagi-lagi, ya itu. Manusia memang memiliki ingatan berjangka pendek untuk urusan kematian yang konon kematian itu sendiri adalah gerbang menuju perjalanan berjangka panjang. Bahkan tampa ambang. Begitu halnya dengan diriku. Kematian menempati urutan ke 9.000.000.000 dalam ingatanku sehingga sehari-hari aku selalu sibuk dengan tawa-tiwi sebagai ekspresi kebanggaan atas harta, jabatan, popularitas yang aku miliki.
Apakah keadaan ini merupakan sebuah masalah bagi hidupku?
Jika pertanyaan ini aku ajukan kepada seorang ustadz, maka sangat mungkin sekali ia akan mengatakan itu sebagai sebuah masalah mengingat Kanjeng Nabi Muhammad sendiri sering mewasiatkan agar kita sering-sering mengingat mati.
“Cara terbaik mengingat kematian adalah dengan melakukan persiapan-persiapan untuk menghadapi kejadian yang tak dinyana itu.”
Wow! Kalau begitu berarti caraku mengingat kematian selama ini tidak termasuk cara terbaik. Sebab aku baru ingat mati ketika ada orang meninggal, baik dengan cara mati, kecelakaan atau dibunuh macam Moncelli dan Khadafi itu.
Masalahnya adalah, ketika aku menyaksikan kematian Moncelli dan Khadafi, aku tidak melihat peristiwa itu sebagai sebuah cerminan bahwa mungkin saja suatu ketika aku akan mengalami kematian serupa dengan mereka. Kematian mereka hadir dalam penglihatanku sebagai sebuah tayangan yang menghibur, yang sesudahnya aku akan segera melupakan setelah berganti dengan tayangan-tayangan baru semacam lawak, gosip, musik, kuliner dan entah apalagi.
Dan karenanya aku jadi teringat dengan temuan para ilmuwan di Skotlandia yang menyatakan bahwa seseorang yang menghabiskan waktu di depan televisi dua jam sampai empat jam sehari, maka hal itu akan meningkatkan risiko serangan penyakit jantung dan kematian dini. Aku tertarik dengan istilah “kematian dini” ini karena menurut tafsirku kematian dini itu bisa saja berupa hilangnya kemampuan untuk mengingat mati yang hal ini tidak mungkin terjadi saat seseorang duduk anteng di depan tivi menyaksikan lawakan-lawakan, gosip-gosip, sinetron-sinetron.
Maka kematian dua orang “berprestasi” macam Moncelli dan Khadafi kali ini kembali menyentak kesadaranku bahwa maut itu ternyata amak mudah melibas kepiawaian si Super Sic Moncelli dan sekaligus amat gampang menggusur kekekaran si Singa Tua Khadafi.

Kebumen 24 Oktober 2011

Jumat, 21 Oktober 2011

Cara Mudah Dapat Beasiswa...?

Oleh Salman Rusydie Anwar
Anda ingin mendapatkan beasiswa dengan mudah? Gampang benar caranya. Tidak diperlukan persyaratan yang berat, apalagi dengan berbagai macam kualifikasi dalam hal apapun. Yang dibutuhkan hanya “kreativitas.” Kreatifitas itupun tidak memerlukan ketekunan dan pendalaman, melainkan sekadar aktivitas spontanitas dan sifatnya sangat instan.
Tentu Anda masih ingat dengan fenomena Shinta dan Jojo dengan Keong Racunnya. Dan baru-baru ini ada Briptu Norman dengan goyang Indianya. Keduanya adalah bukti nyata bahwa meraih beasiswa itu amat sangat mudah. Yang dibutuhkan –kalau ikut jejak mereka- hanyalah berakting di depan kamera rekam lalu sebarkan ke dunia maya.
Perangkat yang diperlukan pun cukup mudah didapatkan. Anda hanya tinggal pergi ke warnet atau manfaatkan laptop yang tersedia perangkat rekamnya, lalu beraksi dan sebarkanlah. Insya Allah dalam waktu dekat kampus tempat dimana Anda belajar akan segera mengontak Anda untuk diberikan beasiswa.
Mudah bukan? Memang sangat mudah. Dan kita patut bersyukur bahwa beberapa institusi di negeri ini amat sangat dermawan perangainya. Mereka dengan cukup gampang menggelontorkan dana bantuan kepada siapa saja yang dengan secara tiba-tiba menjadi terkenal oleh tingkahnya. Apakah kreativitas mereka benar-benar berkualitas sehingga layak menerima beasiswa? Tak perlu mengajukan prasyarat-prasyarat macam itu lah kau. Sebab ini negara tidak sepenuhnya mempersoalkan masalah kualitas. Memang cukup banyak manusia-manusia Indonesia yang memiliki potensi luar biasa, sehingga mereka benar-benar pantas menerima beasiswa. Tapi sayangnya mereka tidak terkenal dan tidak ada upaya untuk menterkenalkan dirinya di hadapan publik. Jadilah mereka makhluk yang kesepian.
Perlu kau tahu juga bahwa, sesuatu akan dengan sendirinya dianggap berkualitas kalau sudah terkenal. Makanya para parpol banyak menggandeng para artis terkenal, karena terkenal itu sama dengan berkualitas, pintar dan diperlukan. Jadi, kalau Anda ingin menjadi sosok yang setiap gerak geriknya dijadikan panutan, dipuja, dan setiap ucapan Anda diekspos agar masyarakat menjadikannya sebagai pedoman, jadilah orang terkenal. Dan untuk menjadi terkenal itu sangat gampang caranya.
Ikuti saja Jojo dan Shinta, lalu Norman. Maka Anda akan mendapat tanggapan luar biasa dari semua kalangan. Bahkan sangat mungkin Anda akan disebut-sebut sebagai icon baru manusia kreatif di negeri ini. Nah, tunggu apa lagi. Raih kesempatan mendapatkan beasiswa dengan cara mudah. Sebentar lagi video saya juga akan segera beredar. Saya akan duet dengan Shinta dan Jojo untuk menyanyikan lagu baru dengan judul, “Keong Keracunan.”