Senin, 28 November 2011
Lebay..!!
Saya sepertinya diciptakan sebagai makhluk yang tidak beruntung. Atau mungkin keberuntungan, dari saya, amat dijauhkan letaknya untuk dapat dijangkau. Atau mungkin saya yang justru diciptakan sedemikian rupa sehingga tidak bisa menjangkau yang namanya keberuntungan. Ah, apa pun istilahnya intinya tetap satu; tidak beruntung.
Ketidakberuntungan saya itu barangkali disebabkan oleh sesuatu yang amat sederhana sifatnya, yaitu terutama karena setiap ada teman ngomong sesuatu saya selalu terbiasa mengatakan, “Ih, lebay kamu.” Kenapa saya mengatakan kebiasaan saya ini sebagai sesuatu yang tidak menguntungkan? Perhatikan penjelasan di bawah ini...hehe...kayak mau ujian saja.
Saya tahu bahwa istilah ‘lebay’ itu digunakan untuk menilai sesuatu yang sifatnya agak berlebihan. Berlebihan di sini dapat menyangkut sikap, tindakan dan juga ucapan. Jadi, orang yang bersikap berlebihan terhadap sesuatu, maka ia disebut lebay. Orang yang bertindak berlebihan pada sesuatu, ia disebut lebay. Dan orang yang ketika ngomong omongannya sangat banyak, juga disebut lebay, keterlaluan, berlebihan dsb.
Tetapi masalahnya, tidak ada ketentuan pasti sampai sejauh mana sikap, tindakan dan omongan itu dapat disebut berlebihan atau lebay. Karena tidak ada ketentuan itulah maka ukuran lebay itu adalah semau gue dan semau ello. Saya mau bilang Anda lebay ketika Anda berkata, “Uh, cuaca hari ini panas ya?” itu terserah saya. Saya mau bilang Anda lebay ketika Anda berkata, “Seharusnya pemerintah segera membentuk tim khusus untuk mengusut ambruknya jembatan di Sungai Mahakam,” itu terserah saya. Intinya, sayalah yang akan memberikan punish apakah Anda lebay atau tidak.
Kalau sebelumnya saya katakan bahwa saya akan menjadi orang yang kurang beruntung karena kebiasaan mengatakan lebay pada orang lain, itu disebabkan karena hal itu mencerminkan kondisi mental saya yang cenderung menolak, mengacuhkan, tidak mau peduli dan tak mau tahu dengan sikap, tindakan dan pendapat orang lain.
Contoh, pada saat saya berkata lebay ketika Anda bilang, “Wah, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan sungai hampir dapat dikatakan tidak ada ya. Buktinya, hampir sebagian besar masyarakat yang hidup dekat sungai membuang sampah ke dalam sungai,” maka sebenarnya secara tidak langsung saya telah menjadi orang yang kurang mau menghargai pendapat Anda. Saya ingin menghentikan Anda untuk berbicara lebih jauh tentang apa yang Anda amati dengan berkata, “Alaah, lebay kamu.” Padahal, bisa saja pendapat Anda itu dapat menambah informasi bagi saya dan menumbuhkan kesadaran baru dalam batin saya yang sayangnya kemungkinan itu saya hapuskan sendiri dengan kata-kata ‘lebay’.
Tetapi apa mau dikata, saya telah masuk ke dalam putaran fenomena budaya masyarakat yang begitu akrab dengan istilah ‘lebay’. Saya telah ikut mendapuk kata-kata ‘lebay’ menjadi semacam trend komunikasi massal yang begitu terkesan gaul saat diucapkan. Ya, saya telah menjadikan kata ‘lebay’ sebagai sesuatu yang menarik dan terkesan apik saat ia menjadi bahasa gaul saya sehari-hari.
Apa yang saya paparkan di atas itu hanya satu sisi. Sedangkan pada sisi yang lain, menurut saya, kata ‘lebay’ juga mencerminkan bahwa saya, dengan sering berkata ‘lebay’ itu, tidak hanya mengurangi sikap mau mendengar, mau tahu, dan mau menghargai orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka. Namun yang lebih penting, saya telah menutup jalinan komunikasi yang lebih hangat, lebih akrab, lebih humoris dan lebih familiar dengan orang lain karena seringnya berkata, “lebaaaaay’ pada mereka.
Padahal ketika saya dikatakan lebay saat berucap satu-dua kata maka tiba-tiba muncul rasa enggan untuk berkata-kata lagi. Dan kemungkinan seperti itu juga yang berlaku pada orang lain. Mereka malas untuk melanjutkan omongannya karena telah dinilai ‘lebay’ meski mungkin saja apa yang hendak mereka sampaikan mengandung sesuatu yang bermanfaat buat saya, entah itu berupa informasi baru, inspirasi baru atau pun sekadar menumbuhkan suasana kehangatan pertemanan baru.
Jadi begitulah, saya rasa kata ‘lebay’ telah membuat saya kurang menghargai sesuatu yang bisa saja membuat saya nikmat saat berinteraksi dengan orang lain meski orang itu benar-benar lebay adanya.
Tapi anehnya, saya malah lupa mengatakan lebay ketika ada rekan yang datang pada saya dan berkata, “Mas. Saya punya tawaran proyek kerja untuk Mas. Ini akan sangat menguntungkan secara materi karena proyek yang saya tawarkan ini memang sesuai dengan profesi dan kemampuan yang Mas miliki. Konsepnya begini,...bla....bla...bla...bla....”
Saya heran, kenapa setelah rekan saya itu bicara panjang lebar dengan menghabiskan tiga jam waktu saya, saya justru tidak bisa berkata, “Ah, kamu lebay juga ya..!?” Sampai sekarang saya masih belum menemukan alasannya. Dan di saat saya sibuk mengkaji ini, tiba-tiba si Ala Roa yang telah dengan lebay menghabiskan waktu tiga jam di toilet berteriak:
“Salmaann....kamu lebaaaaaaaaaaaayyy.!!!”
Gedubraakkkkkkkkkkkk.
Kebumen 2040.
Jumat, 28 Oktober 2011
Tuhan Memilihku Jadi Pipa Saluran
Oleh Salman Rusydie Anwar
Bagi Anda yang belum memiliki buah hati, barangkali catatan ini penting untuk dijadikan sebagai penyemangat akan pentingnya menjaga kesehatan si buah hati kelak. Sementara bagi yang sudah dikaruniai buah hati, semoga catatan ini dapat menggugah kesadaran Anda untuk membantu (minimal lewat doa) terhadap buah hati seorang kawan saya yang saat ini tergolek tak berdaya di ruang ICCU di salah satu rumah sakit di kota Pemalang.
Sungguh malang nian nasib anak yang satu ini. Di usianya yang masih empat bulan dia sudah mengidap suatu penyakit yang membuat siapa saja yang mendengar nama penyakitnya pasti akan bergidik menahan ngeri; Radang Otak.
Ya Tuhan! Jangankan untuk jenis penyakit yang konon hanya akan berujung pada kematian dan kalaupun sembuh akan menyebabkan yang bersangkutan mengalami kelainan, sekadar buah hati menderita demam, pilek dan penyakit-penyakit yang biasa dialami bayi saja, sebagai orangtua kita pasti akan uring-uringan. Sementara penyakit bayi ini? Oh….,seandainya Anda yang jadi orangtua si bayi itu, sungguh tak terperikan bagaimana nelangsa dan menderitanya perasaan Anda saat itu.
Saya yakin Anda pasti akan blingsatan seandainya takdir penyakit itu ditimpakan kepada Anda, keluarga Anda, orang-orang dekat Anda maupun orang-orang yang teramat sangat Anda cintai. Bayi suci yang oleh orangtuanya diberi nama Jordy Alfarisi ini barangkali tidak dapat menyampaikan rasa sakit yang dialaminya dengan jelas kepada orang-orang di sekitarnya setelah tingkat penyakit yang diidapnya telah membuat dia koma. Koma untuk suatu waktu yang tak dapat dipastikan akan kapan berakhirnya.
Dan yang lebih membuat gigil hati dan perasaan adalah ketika biaya perawatan yang hingga saat ini hampir mencapai seratus juta itu harus ditanggung oleh orangtua Jordy yang pekerjaan utamanya hanyalah sebagai buruh pabrik. Bisa Anda bayangkan, berapa sih gaji seorang buruh kasar pabrik? Jika selama satu bulan dia harus menerima gaji sebesar tiga atau lima ratus ribu misalnya, butuh berapa bulan dia bekerja untuk dapat mengumpulkan duit sebanyak seratus juta? Butuh berapa banting tulang dan berapa ribu liter keringat yang harus dikeluarkan oleh ayah Jordy agar anaknya bisa ditangani?
Di sini kita dipertemukan kembali dengan kenyataan bahwa rasa cinta dan kasih sayang orangtua itu tak mengenal batas harga. Berapapun, asalkan si buah hati dapat diselamatkan, orangtua pasti akan berusaha, bahkan kalau perlu harus bertaruh nyawa. Dan Anda pasti akan berpikir sama seandainya anak Anda mengalami nasib serupa sebagaimana si Jordy kecil ini. Tak ada orangtua -yang benar-benar orangtua- rela membiarkan anaknya menemui kematian akibat penyakit yang diderita betapapun si orangtua itu sendiri sadar bahwa tidak ada pilihan lain untuk mengatasi penyakit itu selain hanya menunggu kepastian Tuhan akan takdir yang telah ditentukan-Nya.
So, apa yang harus kita lakukan? Atau lebih tepatnya apakah kita perlu melakukan sesuatu untuk keluarga Jordy? Kalau pun perlu, seperti apa bentuk bantuan yang dapat kita berikan mengingat selama ini ada banyak sekali jenis-jenis bantuan yang bisa diberikan seseorang kepada orang lain. Mulai dari tenaga, harta atau yang lebih simple dan mudah; doa dan penyemangat.
Saya sendiri bingung bentuk bantuan seperti apa yang harus saya berikan kepada orangtua Jordy saat ia -melalui orang lain- menyampaikan keinginannya untuk pinjam uang kepada saya. Saya tidak memiliki kekayaan berlimpah (dan kalaupun saya kaya belum tentu juga mau membantu), yang sedianya dapat saya sumbangkan sekadar untuk sedikit meringankan beban Jordy, terutama orangtuanya.
Setelah lama saya dilanda kebingungan dan berpikir mencari cara untuk dapat membantu walau tak seberapa, akhirnya datang juga sebuah saran dari istri agar saya menghubungi seorang sahabat senior yang memungkinkan dapat memberi bantuan. Saya ikuti saran istri saya dan syukurlah sahabat senior saya bersedia memberi bantuan. Sepanjang jalan menuju tempat kediaman sahabat saya untuk mengambil bantuan itu, saya teringat kembali pada guru saya yang pernah berkata seperti ini:
“Ketika seseorang datang kepadamu dan meminta bantuanmu, maka sesungguhnya ketika itu Tuhan tidak sedang salah pilih, bahwa engkaulah yang memang diperkenankan dan diijinkan oleh-Nya untuk membantu. Sedapat mungkin jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan langsung oleh-Nya. Kalau ketika itu engkau sendiri tidak berdaya, mohonlah kepada-Nya agar Dia memberikan jalan keluar bagi dirimu. Toh sejatinya Dia yang memilihmu, dan Dia pasti tahu apa yang terbaik untuk kamu lakukan sehingga kamu tetap bisa memberikan bantuan.”
Meski dilanda rasa malu, tidak enak hati dan rasa sungkan yang luar biasa kepada sahabat senior saya itu, saya tetap bersyukur, bahwa sekalipun menjadi perpanjangan tangan dari proses tolong menolong ini setidaknya saya sudah melakukan sesuatu untuk orang lain. Tetapi dalam hati tetap saja ada yang mengganjal, terutama karena saya tidak bisa memberi bantuan sebanyak yang diberikan sahabat senior saya tadi. Untuk sahabat senior saya, terima kasih tiada hingga.
Mengingat hal ini, saya jadi sedikit iri. Sebab saya merasa, Tuhan sebenarnya tidak sedang memilih saya untuk dapat membantu orang lain, tetapi Dia memilih sahabat senior saya tadi. Saya ini dipilih Tuhan sekadar untuk jadi pipa saluran saja. Mungkin Anda akan berkata, “Masih untung yang memilihmu jadi pipa saluran adalah Tuhan, bukan pegawai PDAM itu.”
Hah….tau, ah!
Ini ceritaku. Apa ceritamu?
Kebumen, 29 Oktober 2011
Bagi Anda yang belum memiliki buah hati, barangkali catatan ini penting untuk dijadikan sebagai penyemangat akan pentingnya menjaga kesehatan si buah hati kelak. Sementara bagi yang sudah dikaruniai buah hati, semoga catatan ini dapat menggugah kesadaran Anda untuk membantu (minimal lewat doa) terhadap buah hati seorang kawan saya yang saat ini tergolek tak berdaya di ruang ICCU di salah satu rumah sakit di kota Pemalang.
Sungguh malang nian nasib anak yang satu ini. Di usianya yang masih empat bulan dia sudah mengidap suatu penyakit yang membuat siapa saja yang mendengar nama penyakitnya pasti akan bergidik menahan ngeri; Radang Otak.
Ya Tuhan! Jangankan untuk jenis penyakit yang konon hanya akan berujung pada kematian dan kalaupun sembuh akan menyebabkan yang bersangkutan mengalami kelainan, sekadar buah hati menderita demam, pilek dan penyakit-penyakit yang biasa dialami bayi saja, sebagai orangtua kita pasti akan uring-uringan. Sementara penyakit bayi ini? Oh….,seandainya Anda yang jadi orangtua si bayi itu, sungguh tak terperikan bagaimana nelangsa dan menderitanya perasaan Anda saat itu.
Saya yakin Anda pasti akan blingsatan seandainya takdir penyakit itu ditimpakan kepada Anda, keluarga Anda, orang-orang dekat Anda maupun orang-orang yang teramat sangat Anda cintai. Bayi suci yang oleh orangtuanya diberi nama Jordy Alfarisi ini barangkali tidak dapat menyampaikan rasa sakit yang dialaminya dengan jelas kepada orang-orang di sekitarnya setelah tingkat penyakit yang diidapnya telah membuat dia koma. Koma untuk suatu waktu yang tak dapat dipastikan akan kapan berakhirnya.
Dan yang lebih membuat gigil hati dan perasaan adalah ketika biaya perawatan yang hingga saat ini hampir mencapai seratus juta itu harus ditanggung oleh orangtua Jordy yang pekerjaan utamanya hanyalah sebagai buruh pabrik. Bisa Anda bayangkan, berapa sih gaji seorang buruh kasar pabrik? Jika selama satu bulan dia harus menerima gaji sebesar tiga atau lima ratus ribu misalnya, butuh berapa bulan dia bekerja untuk dapat mengumpulkan duit sebanyak seratus juta? Butuh berapa banting tulang dan berapa ribu liter keringat yang harus dikeluarkan oleh ayah Jordy agar anaknya bisa ditangani?
Di sini kita dipertemukan kembali dengan kenyataan bahwa rasa cinta dan kasih sayang orangtua itu tak mengenal batas harga. Berapapun, asalkan si buah hati dapat diselamatkan, orangtua pasti akan berusaha, bahkan kalau perlu harus bertaruh nyawa. Dan Anda pasti akan berpikir sama seandainya anak Anda mengalami nasib serupa sebagaimana si Jordy kecil ini. Tak ada orangtua -yang benar-benar orangtua- rela membiarkan anaknya menemui kematian akibat penyakit yang diderita betapapun si orangtua itu sendiri sadar bahwa tidak ada pilihan lain untuk mengatasi penyakit itu selain hanya menunggu kepastian Tuhan akan takdir yang telah ditentukan-Nya.
So, apa yang harus kita lakukan? Atau lebih tepatnya apakah kita perlu melakukan sesuatu untuk keluarga Jordy? Kalau pun perlu, seperti apa bentuk bantuan yang dapat kita berikan mengingat selama ini ada banyak sekali jenis-jenis bantuan yang bisa diberikan seseorang kepada orang lain. Mulai dari tenaga, harta atau yang lebih simple dan mudah; doa dan penyemangat.
Saya sendiri bingung bentuk bantuan seperti apa yang harus saya berikan kepada orangtua Jordy saat ia -melalui orang lain- menyampaikan keinginannya untuk pinjam uang kepada saya. Saya tidak memiliki kekayaan berlimpah (dan kalaupun saya kaya belum tentu juga mau membantu), yang sedianya dapat saya sumbangkan sekadar untuk sedikit meringankan beban Jordy, terutama orangtuanya.
Setelah lama saya dilanda kebingungan dan berpikir mencari cara untuk dapat membantu walau tak seberapa, akhirnya datang juga sebuah saran dari istri agar saya menghubungi seorang sahabat senior yang memungkinkan dapat memberi bantuan. Saya ikuti saran istri saya dan syukurlah sahabat senior saya bersedia memberi bantuan. Sepanjang jalan menuju tempat kediaman sahabat saya untuk mengambil bantuan itu, saya teringat kembali pada guru saya yang pernah berkata seperti ini:
“Ketika seseorang datang kepadamu dan meminta bantuanmu, maka sesungguhnya ketika itu Tuhan tidak sedang salah pilih, bahwa engkaulah yang memang diperkenankan dan diijinkan oleh-Nya untuk membantu. Sedapat mungkin jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan langsung oleh-Nya. Kalau ketika itu engkau sendiri tidak berdaya, mohonlah kepada-Nya agar Dia memberikan jalan keluar bagi dirimu. Toh sejatinya Dia yang memilihmu, dan Dia pasti tahu apa yang terbaik untuk kamu lakukan sehingga kamu tetap bisa memberikan bantuan.”
Meski dilanda rasa malu, tidak enak hati dan rasa sungkan yang luar biasa kepada sahabat senior saya itu, saya tetap bersyukur, bahwa sekalipun menjadi perpanjangan tangan dari proses tolong menolong ini setidaknya saya sudah melakukan sesuatu untuk orang lain. Tetapi dalam hati tetap saja ada yang mengganjal, terutama karena saya tidak bisa memberi bantuan sebanyak yang diberikan sahabat senior saya tadi. Untuk sahabat senior saya, terima kasih tiada hingga.
Mengingat hal ini, saya jadi sedikit iri. Sebab saya merasa, Tuhan sebenarnya tidak sedang memilih saya untuk dapat membantu orang lain, tetapi Dia memilih sahabat senior saya tadi. Saya ini dipilih Tuhan sekadar untuk jadi pipa saluran saja. Mungkin Anda akan berkata, “Masih untung yang memilihmu jadi pipa saluran adalah Tuhan, bukan pegawai PDAM itu.”
Hah….tau, ah!
Ini ceritaku. Apa ceritamu?
Kebumen, 29 Oktober 2011
Rabu, 26 Oktober 2011
Cinta si Tukang Kebun
Oleh Salman Rusydie Anwar
Presiden itu milik rakyat karena rakyatlah yang memilih seseorang menjadi presiden. Saham kepemilikan rakyat atas presiden adalah 100% dan tak ada kekuatan apapun yang dapat mengurangi rasa kepemilikan rakyat atas presidennya kecuali si presiden itu yang berusaha melepaskan diri dengan berbagai cara strategi agar merasa tidak dimiliki oleh rakyat yang telah memilihnya.
Di dunia ini banyak sekali contoh-contoh sejarah yang mempertontonkan keengganan seorang presiden untuk dianggap bahwa dia adalah milik rakyatnya. Sedemikian rupa besarnya rasa keengganan itu sehingga lambat laun ia menjadi kekuatan-kekuatan yang dapat membutakan si presiden itu sendiri.
Sebut saja salah satunya adalah Khadafi. Presiden Libya yang nyentrik ini barangkali di awal-awal kekuasaannya masih sanggup memposisikan diri sebagai “milik rakyatnya”. Tetapi seseorang memang terkadang amat dengan mudah merubah putaran roda sejarahnya sendiri sehingga dari yang awalnya baik menjadi sedikit kurang baik dan pada akhirnya total menjadi tidak baik.
Saya tidak mengatakan bahwa Khadafi itu tidak baik. Tetapi munculnya pemberontakan rakyat Libya terhadap diri Khadafi sendiri menunjukkan bahwa si Singa Tua itu sepertinya sudah tidak lagi menempatkan diri sebagai “milik rakyatnya,” melainkan sekadar milik dirinya sendiri, keluarga, rekan dan mitra-mitra terdekatnya.
Mungkin seperti itu pula yang menimpa presiden ke-2 kita, Soeharto. Presiden yang murah senyum ini di awal-awal berkuasa juga sama dengan Khadafi, mampu menempatkan diri sebagai milik rakyat. Namun kekuatan reformasi pada akhirnya sanggup menunjukkan satu fakta baru bahwa ternyata Pak Harto telah berusaha untuk tidak dimiliki oleh siapapun selain diri, keluarga dan orang-orang dekatnya. Maka tumbanglah ia sebagaimana Khadafi.
Dua peristiwa di atas memberi kita pelajaran besar, bahwa rasa cinta dan rasa memiliki yang tertanam di hati rakyat itu sesungguhnya adalah kekuatan yang begitu menenteramkan dan sekaligus membahayakan. Jika rasa kepemilikan rakyat atas presidennya dengan amat sengaja dihalang-halangi oleh si presiden itu sendiri, maka si presiden itu sebenarnya sedang menabuh genderang kehancuran atas dirinya sendiri.
Kita harus banyak belajar dari berbagai negara di seluruh pelosok jagat raya ini bahwa jika ada seorang presiden yang tidak bersedia untuk dimiliki atau enggan untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap rakyatnya, maka kehancuran akan senantiasa membayang-bayangi perjalanan negara itu.
Beberapa waktu yang lalu, sebagai rakyat kita harus bersyukur bahwa presiden kita diingatkan bahwa ia masih amat dicintai dan merasa dimiliki oleh rakyatnya. Lolosnya seorang tukang kebun dari pasukan pengaman presiden sehingga ia berada amat dekat dengan Pak Presiden sepertinya memberikan satu isyarat bahwa presiden itu milik rakyat dan karenanya ia harus dekat dengan rakyat dan harus mudah didekati oleh rakyat.
Akan sangat arif jika kejadian itu sanggup membuat presiden kita merenungkan beberapa hal misalnya; pertama, lolosnya tukang kebun dari pasukan pengaman presiden yang konon sangat berlapis-lapis itu adalah bukti bahwa sesungguhnya betapa rapuhnya kekuasaan manusia sekalipun ia dilindungi oleh berbagai lapis kekuatan manusia macam apapun. Dan diantara kekuatan-kekuatan yang mampu membuat rapuh bangunan kekuasaan itu salah satunya adalah rakyat kecil.
Kejadian lolosnya I Nyoman Minta, si tukang kebun itu sebenarnya bukan kejadian pertamakali yang dialami presiden. Sebab sebelumnya pernah terjadi kejadian serupa yang melibatkan seorang anak berpakaian pramuka dan seorang wanita tua di Cirebon yang berhasil lolos dari paspampres sehingga keduanya bisa berdekat-dekat dengan presiden.
Kedua, akan sangat panjang urusannya seandainya lolosnya pak kebun kita itu sedikit dimodifikasi maknanya seperti, berapa kekuatan yang dititipkan Tuhan kepada pak kebun tadi sehingga ia dapat dengan mudah melenggang masuk menembus rapatnya pasukan pengaman presiden atau kekuatan apa yang menjadikan pasukan presiden yang gagah-gagah itu bisa lengah padahal seumur hidup mereka berlatih cara mengamankan presiden?
Ah, sudahlah! Ini mungkin terlalu mengada-ngada. Yang penting presiden kita selamat dan ia harus bersyukur karena telah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menyaksikan bahwa diantara wangi, necis dan megahnya para tamu VVIP yang hadir di lokasi pembukaan ASEAN Fair itu ternyata ada rakyat sekelas I Nyoman Minta. Artinya, presiden itu harus tahu diri bahwa 100% dia adalah milik rakyat macam tukang kebun itu, bukan orang-orang tamu VVIP saja.
Ranta.....!!!
Kebumen 27 Oktober 2011.
Presiden itu milik rakyat karena rakyatlah yang memilih seseorang menjadi presiden. Saham kepemilikan rakyat atas presiden adalah 100% dan tak ada kekuatan apapun yang dapat mengurangi rasa kepemilikan rakyat atas presidennya kecuali si presiden itu yang berusaha melepaskan diri dengan berbagai cara strategi agar merasa tidak dimiliki oleh rakyat yang telah memilihnya.
Di dunia ini banyak sekali contoh-contoh sejarah yang mempertontonkan keengganan seorang presiden untuk dianggap bahwa dia adalah milik rakyatnya. Sedemikian rupa besarnya rasa keengganan itu sehingga lambat laun ia menjadi kekuatan-kekuatan yang dapat membutakan si presiden itu sendiri.
Sebut saja salah satunya adalah Khadafi. Presiden Libya yang nyentrik ini barangkali di awal-awal kekuasaannya masih sanggup memposisikan diri sebagai “milik rakyatnya”. Tetapi seseorang memang terkadang amat dengan mudah merubah putaran roda sejarahnya sendiri sehingga dari yang awalnya baik menjadi sedikit kurang baik dan pada akhirnya total menjadi tidak baik.
Saya tidak mengatakan bahwa Khadafi itu tidak baik. Tetapi munculnya pemberontakan rakyat Libya terhadap diri Khadafi sendiri menunjukkan bahwa si Singa Tua itu sepertinya sudah tidak lagi menempatkan diri sebagai “milik rakyatnya,” melainkan sekadar milik dirinya sendiri, keluarga, rekan dan mitra-mitra terdekatnya.
Mungkin seperti itu pula yang menimpa presiden ke-2 kita, Soeharto. Presiden yang murah senyum ini di awal-awal berkuasa juga sama dengan Khadafi, mampu menempatkan diri sebagai milik rakyat. Namun kekuatan reformasi pada akhirnya sanggup menunjukkan satu fakta baru bahwa ternyata Pak Harto telah berusaha untuk tidak dimiliki oleh siapapun selain diri, keluarga dan orang-orang dekatnya. Maka tumbanglah ia sebagaimana Khadafi.
Dua peristiwa di atas memberi kita pelajaran besar, bahwa rasa cinta dan rasa memiliki yang tertanam di hati rakyat itu sesungguhnya adalah kekuatan yang begitu menenteramkan dan sekaligus membahayakan. Jika rasa kepemilikan rakyat atas presidennya dengan amat sengaja dihalang-halangi oleh si presiden itu sendiri, maka si presiden itu sebenarnya sedang menabuh genderang kehancuran atas dirinya sendiri.
Kita harus banyak belajar dari berbagai negara di seluruh pelosok jagat raya ini bahwa jika ada seorang presiden yang tidak bersedia untuk dimiliki atau enggan untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap rakyatnya, maka kehancuran akan senantiasa membayang-bayangi perjalanan negara itu.
Beberapa waktu yang lalu, sebagai rakyat kita harus bersyukur bahwa presiden kita diingatkan bahwa ia masih amat dicintai dan merasa dimiliki oleh rakyatnya. Lolosnya seorang tukang kebun dari pasukan pengaman presiden sehingga ia berada amat dekat dengan Pak Presiden sepertinya memberikan satu isyarat bahwa presiden itu milik rakyat dan karenanya ia harus dekat dengan rakyat dan harus mudah didekati oleh rakyat.
Akan sangat arif jika kejadian itu sanggup membuat presiden kita merenungkan beberapa hal misalnya; pertama, lolosnya tukang kebun dari pasukan pengaman presiden yang konon sangat berlapis-lapis itu adalah bukti bahwa sesungguhnya betapa rapuhnya kekuasaan manusia sekalipun ia dilindungi oleh berbagai lapis kekuatan manusia macam apapun. Dan diantara kekuatan-kekuatan yang mampu membuat rapuh bangunan kekuasaan itu salah satunya adalah rakyat kecil.
Kejadian lolosnya I Nyoman Minta, si tukang kebun itu sebenarnya bukan kejadian pertamakali yang dialami presiden. Sebab sebelumnya pernah terjadi kejadian serupa yang melibatkan seorang anak berpakaian pramuka dan seorang wanita tua di Cirebon yang berhasil lolos dari paspampres sehingga keduanya bisa berdekat-dekat dengan presiden.
Kedua, akan sangat panjang urusannya seandainya lolosnya pak kebun kita itu sedikit dimodifikasi maknanya seperti, berapa kekuatan yang dititipkan Tuhan kepada pak kebun tadi sehingga ia dapat dengan mudah melenggang masuk menembus rapatnya pasukan pengaman presiden atau kekuatan apa yang menjadikan pasukan presiden yang gagah-gagah itu bisa lengah padahal seumur hidup mereka berlatih cara mengamankan presiden?
Ah, sudahlah! Ini mungkin terlalu mengada-ngada. Yang penting presiden kita selamat dan ia harus bersyukur karena telah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menyaksikan bahwa diantara wangi, necis dan megahnya para tamu VVIP yang hadir di lokasi pembukaan ASEAN Fair itu ternyata ada rakyat sekelas I Nyoman Minta. Artinya, presiden itu harus tahu diri bahwa 100% dia adalah milik rakyat macam tukang kebun itu, bukan orang-orang tamu VVIP saja.
Ranta.....!!!
Kebumen 27 Oktober 2011.
Minggu, 23 Oktober 2011
Dua Cermin Kematian Simoncelli-Khadafi
Oleh Salman Rusydie Anwar
Sungguh miris hatiku mendengar kematian Khadafi dan Simoncelli, yang barangkali kematian keduanya tidak pernah disangka-sangka sebelumnya, baik oleh orang lain maupun oleh yang bersangkutan. Memang aku tidak kenal siapa Simoncelli dan Khadafi selain keduanya adalah dua manusia yang sering menjadi berita oleh profesi mereka sebagai pembalap dan presiden.
Tetapi, betapapun itu Moncelli dan Khadafi adalah dua tokoh tak terjangkau dalam sehari-hari kehidupanku, tidak sebagaimana si Toyo, Tatot, Yayo, Agus, Buzairi, namun kepergiannya sanggup menggedor kesadaranku akan batas usia yang selama ini seringkali aku abaikan dengan amat sengaja.
Yah. Betapa rapuhnya memang manusia itu meski dalam tangannya tergenggam kekuasaan, kekuatan, kepiawaian, popularitas dan juga uang. Moncelli tewas seketika saat kepiawaiannya membalap tak mampu mengimbangi dan menghindar dari laju takdir kematian yang mengejarnya.
Pun juga dengan Khadafi. Dia boleh saja memahami dengan amat mahir bagaimana menyelematkan kursi kekuasaan yang ia duduki selama empat puluh tahun atas negara kaya minyak, Libya. Bahkan sah-sah saja Khadafi membentuk pasukan pengaman terlatih yang akan selalu melindungi dirinya dari berbagai macam ancaman yang membahayakan.
Namun Khadafi memang hanya Khadafi. Kekuasaan yang amat begitu lama ia rengkuh pada akhirnya tetap tidak bisa menguasai nasibnya sendiri. Ia harus takluk oleh nasib kematian yang justru menjemputnya dengan amat tragis. Harta berlimpah yang ia miliki tidak sanggup untuk mengganti sejengkal ketentuan yang digariskan Tuhan bahwa ia harus berakhir di sebuah tempat yang barangkali selama ini sangat ia benci dan jauhi, saluran air kotor, got.
Lalu bagaimana denganku? Dengan cara apa kehidupanku akan berakhir? Tak ada yang bisa memastikan apakah kehidupanku akan berakhir dengan amat nyaman, tenang, tanpa melahirkan sekian ribu kemirisan di hati orang-orang terdekatku?
Kematian memang merupakan salah satu rahasia terbesar yang manusia sejenius Einstein saja tak bakalan mampu memahaminya meski ia otak-atik lagi rumus E=mc²-nya yang kesohor itu. Tuhan memang sengaja merahasiakan peristiwa yang tak seorangpun di dunia ini bakal melewatinya dengan tujuan agar manusia berusaha mempersiapkan dengan lebih baik berdasarkan kesadarannya sendiri.
Namun lagi-lagi, ya itu. Manusia memang memiliki ingatan berjangka pendek untuk urusan kematian yang konon kematian itu sendiri adalah gerbang menuju perjalanan berjangka panjang. Bahkan tampa ambang. Begitu halnya dengan diriku. Kematian menempati urutan ke 9.000.000.000 dalam ingatanku sehingga sehari-hari aku selalu sibuk dengan tawa-tiwi sebagai ekspresi kebanggaan atas harta, jabatan, popularitas yang aku miliki.
Apakah keadaan ini merupakan sebuah masalah bagi hidupku?
Jika pertanyaan ini aku ajukan kepada seorang ustadz, maka sangat mungkin sekali ia akan mengatakan itu sebagai sebuah masalah mengingat Kanjeng Nabi Muhammad sendiri sering mewasiatkan agar kita sering-sering mengingat mati.
“Cara terbaik mengingat kematian adalah dengan melakukan persiapan-persiapan untuk menghadapi kejadian yang tak dinyana itu.”
Wow! Kalau begitu berarti caraku mengingat kematian selama ini tidak termasuk cara terbaik. Sebab aku baru ingat mati ketika ada orang meninggal, baik dengan cara mati, kecelakaan atau dibunuh macam Moncelli dan Khadafi itu.
Masalahnya adalah, ketika aku menyaksikan kematian Moncelli dan Khadafi, aku tidak melihat peristiwa itu sebagai sebuah cerminan bahwa mungkin saja suatu ketika aku akan mengalami kematian serupa dengan mereka. Kematian mereka hadir dalam penglihatanku sebagai sebuah tayangan yang menghibur, yang sesudahnya aku akan segera melupakan setelah berganti dengan tayangan-tayangan baru semacam lawak, gosip, musik, kuliner dan entah apalagi.
Dan karenanya aku jadi teringat dengan temuan para ilmuwan di Skotlandia yang menyatakan bahwa seseorang yang menghabiskan waktu di depan televisi dua jam sampai empat jam sehari, maka hal itu akan meningkatkan risiko serangan penyakit jantung dan kematian dini. Aku tertarik dengan istilah “kematian dini” ini karena menurut tafsirku kematian dini itu bisa saja berupa hilangnya kemampuan untuk mengingat mati yang hal ini tidak mungkin terjadi saat seseorang duduk anteng di depan tivi menyaksikan lawakan-lawakan, gosip-gosip, sinetron-sinetron.
Maka kematian dua orang “berprestasi” macam Moncelli dan Khadafi kali ini kembali menyentak kesadaranku bahwa maut itu ternyata amak mudah melibas kepiawaian si Super Sic Moncelli dan sekaligus amat gampang menggusur kekekaran si Singa Tua Khadafi.
Kebumen 24 Oktober 2011
Sungguh miris hatiku mendengar kematian Khadafi dan Simoncelli, yang barangkali kematian keduanya tidak pernah disangka-sangka sebelumnya, baik oleh orang lain maupun oleh yang bersangkutan. Memang aku tidak kenal siapa Simoncelli dan Khadafi selain keduanya adalah dua manusia yang sering menjadi berita oleh profesi mereka sebagai pembalap dan presiden.
Tetapi, betapapun itu Moncelli dan Khadafi adalah dua tokoh tak terjangkau dalam sehari-hari kehidupanku, tidak sebagaimana si Toyo, Tatot, Yayo, Agus, Buzairi, namun kepergiannya sanggup menggedor kesadaranku akan batas usia yang selama ini seringkali aku abaikan dengan amat sengaja.
Yah. Betapa rapuhnya memang manusia itu meski dalam tangannya tergenggam kekuasaan, kekuatan, kepiawaian, popularitas dan juga uang. Moncelli tewas seketika saat kepiawaiannya membalap tak mampu mengimbangi dan menghindar dari laju takdir kematian yang mengejarnya.
Pun juga dengan Khadafi. Dia boleh saja memahami dengan amat mahir bagaimana menyelematkan kursi kekuasaan yang ia duduki selama empat puluh tahun atas negara kaya minyak, Libya. Bahkan sah-sah saja Khadafi membentuk pasukan pengaman terlatih yang akan selalu melindungi dirinya dari berbagai macam ancaman yang membahayakan.
Namun Khadafi memang hanya Khadafi. Kekuasaan yang amat begitu lama ia rengkuh pada akhirnya tetap tidak bisa menguasai nasibnya sendiri. Ia harus takluk oleh nasib kematian yang justru menjemputnya dengan amat tragis. Harta berlimpah yang ia miliki tidak sanggup untuk mengganti sejengkal ketentuan yang digariskan Tuhan bahwa ia harus berakhir di sebuah tempat yang barangkali selama ini sangat ia benci dan jauhi, saluran air kotor, got.
Lalu bagaimana denganku? Dengan cara apa kehidupanku akan berakhir? Tak ada yang bisa memastikan apakah kehidupanku akan berakhir dengan amat nyaman, tenang, tanpa melahirkan sekian ribu kemirisan di hati orang-orang terdekatku?
Kematian memang merupakan salah satu rahasia terbesar yang manusia sejenius Einstein saja tak bakalan mampu memahaminya meski ia otak-atik lagi rumus E=mc²-nya yang kesohor itu. Tuhan memang sengaja merahasiakan peristiwa yang tak seorangpun di dunia ini bakal melewatinya dengan tujuan agar manusia berusaha mempersiapkan dengan lebih baik berdasarkan kesadarannya sendiri.
Namun lagi-lagi, ya itu. Manusia memang memiliki ingatan berjangka pendek untuk urusan kematian yang konon kematian itu sendiri adalah gerbang menuju perjalanan berjangka panjang. Bahkan tampa ambang. Begitu halnya dengan diriku. Kematian menempati urutan ke 9.000.000.000 dalam ingatanku sehingga sehari-hari aku selalu sibuk dengan tawa-tiwi sebagai ekspresi kebanggaan atas harta, jabatan, popularitas yang aku miliki.
Apakah keadaan ini merupakan sebuah masalah bagi hidupku?
Jika pertanyaan ini aku ajukan kepada seorang ustadz, maka sangat mungkin sekali ia akan mengatakan itu sebagai sebuah masalah mengingat Kanjeng Nabi Muhammad sendiri sering mewasiatkan agar kita sering-sering mengingat mati.
“Cara terbaik mengingat kematian adalah dengan melakukan persiapan-persiapan untuk menghadapi kejadian yang tak dinyana itu.”
Wow! Kalau begitu berarti caraku mengingat kematian selama ini tidak termasuk cara terbaik. Sebab aku baru ingat mati ketika ada orang meninggal, baik dengan cara mati, kecelakaan atau dibunuh macam Moncelli dan Khadafi itu.
Masalahnya adalah, ketika aku menyaksikan kematian Moncelli dan Khadafi, aku tidak melihat peristiwa itu sebagai sebuah cerminan bahwa mungkin saja suatu ketika aku akan mengalami kematian serupa dengan mereka. Kematian mereka hadir dalam penglihatanku sebagai sebuah tayangan yang menghibur, yang sesudahnya aku akan segera melupakan setelah berganti dengan tayangan-tayangan baru semacam lawak, gosip, musik, kuliner dan entah apalagi.
Dan karenanya aku jadi teringat dengan temuan para ilmuwan di Skotlandia yang menyatakan bahwa seseorang yang menghabiskan waktu di depan televisi dua jam sampai empat jam sehari, maka hal itu akan meningkatkan risiko serangan penyakit jantung dan kematian dini. Aku tertarik dengan istilah “kematian dini” ini karena menurut tafsirku kematian dini itu bisa saja berupa hilangnya kemampuan untuk mengingat mati yang hal ini tidak mungkin terjadi saat seseorang duduk anteng di depan tivi menyaksikan lawakan-lawakan, gosip-gosip, sinetron-sinetron.
Maka kematian dua orang “berprestasi” macam Moncelli dan Khadafi kali ini kembali menyentak kesadaranku bahwa maut itu ternyata amak mudah melibas kepiawaian si Super Sic Moncelli dan sekaligus amat gampang menggusur kekekaran si Singa Tua Khadafi.
Kebumen 24 Oktober 2011
Jumat, 21 Oktober 2011
Cara Mudah Dapat Beasiswa...?
Oleh Salman Rusydie Anwar
Anda ingin mendapatkan beasiswa dengan mudah? Gampang benar caranya. Tidak diperlukan persyaratan yang berat, apalagi dengan berbagai macam kualifikasi dalam hal apapun. Yang dibutuhkan hanya “kreativitas.” Kreatifitas itupun tidak memerlukan ketekunan dan pendalaman, melainkan sekadar aktivitas spontanitas dan sifatnya sangat instan.
Tentu Anda masih ingat dengan fenomena Shinta dan Jojo dengan Keong Racunnya. Dan baru-baru ini ada Briptu Norman dengan goyang Indianya. Keduanya adalah bukti nyata bahwa meraih beasiswa itu amat sangat mudah. Yang dibutuhkan –kalau ikut jejak mereka- hanyalah berakting di depan kamera rekam lalu sebarkan ke dunia maya.
Perangkat yang diperlukan pun cukup mudah didapatkan. Anda hanya tinggal pergi ke warnet atau manfaatkan laptop yang tersedia perangkat rekamnya, lalu beraksi dan sebarkanlah. Insya Allah dalam waktu dekat kampus tempat dimana Anda belajar akan segera mengontak Anda untuk diberikan beasiswa.
Mudah bukan? Memang sangat mudah. Dan kita patut bersyukur bahwa beberapa institusi di negeri ini amat sangat dermawan perangainya. Mereka dengan cukup gampang menggelontorkan dana bantuan kepada siapa saja yang dengan secara tiba-tiba menjadi terkenal oleh tingkahnya. Apakah kreativitas mereka benar-benar berkualitas sehingga layak menerima beasiswa? Tak perlu mengajukan prasyarat-prasyarat macam itu lah kau. Sebab ini negara tidak sepenuhnya mempersoalkan masalah kualitas. Memang cukup banyak manusia-manusia Indonesia yang memiliki potensi luar biasa, sehingga mereka benar-benar pantas menerima beasiswa. Tapi sayangnya mereka tidak terkenal dan tidak ada upaya untuk menterkenalkan dirinya di hadapan publik. Jadilah mereka makhluk yang kesepian.
Perlu kau tahu juga bahwa, sesuatu akan dengan sendirinya dianggap berkualitas kalau sudah terkenal. Makanya para parpol banyak menggandeng para artis terkenal, karena terkenal itu sama dengan berkualitas, pintar dan diperlukan. Jadi, kalau Anda ingin menjadi sosok yang setiap gerak geriknya dijadikan panutan, dipuja, dan setiap ucapan Anda diekspos agar masyarakat menjadikannya sebagai pedoman, jadilah orang terkenal. Dan untuk menjadi terkenal itu sangat gampang caranya.
Ikuti saja Jojo dan Shinta, lalu Norman. Maka Anda akan mendapat tanggapan luar biasa dari semua kalangan. Bahkan sangat mungkin Anda akan disebut-sebut sebagai icon baru manusia kreatif di negeri ini. Nah, tunggu apa lagi. Raih kesempatan mendapatkan beasiswa dengan cara mudah. Sebentar lagi video saya juga akan segera beredar. Saya akan duet dengan Shinta dan Jojo untuk menyanyikan lagu baru dengan judul, “Keong Keracunan.”
Anda ingin mendapatkan beasiswa dengan mudah? Gampang benar caranya. Tidak diperlukan persyaratan yang berat, apalagi dengan berbagai macam kualifikasi dalam hal apapun. Yang dibutuhkan hanya “kreativitas.” Kreatifitas itupun tidak memerlukan ketekunan dan pendalaman, melainkan sekadar aktivitas spontanitas dan sifatnya sangat instan.
Tentu Anda masih ingat dengan fenomena Shinta dan Jojo dengan Keong Racunnya. Dan baru-baru ini ada Briptu Norman dengan goyang Indianya. Keduanya adalah bukti nyata bahwa meraih beasiswa itu amat sangat mudah. Yang dibutuhkan –kalau ikut jejak mereka- hanyalah berakting di depan kamera rekam lalu sebarkan ke dunia maya.
Perangkat yang diperlukan pun cukup mudah didapatkan. Anda hanya tinggal pergi ke warnet atau manfaatkan laptop yang tersedia perangkat rekamnya, lalu beraksi dan sebarkanlah. Insya Allah dalam waktu dekat kampus tempat dimana Anda belajar akan segera mengontak Anda untuk diberikan beasiswa.
Mudah bukan? Memang sangat mudah. Dan kita patut bersyukur bahwa beberapa institusi di negeri ini amat sangat dermawan perangainya. Mereka dengan cukup gampang menggelontorkan dana bantuan kepada siapa saja yang dengan secara tiba-tiba menjadi terkenal oleh tingkahnya. Apakah kreativitas mereka benar-benar berkualitas sehingga layak menerima beasiswa? Tak perlu mengajukan prasyarat-prasyarat macam itu lah kau. Sebab ini negara tidak sepenuhnya mempersoalkan masalah kualitas. Memang cukup banyak manusia-manusia Indonesia yang memiliki potensi luar biasa, sehingga mereka benar-benar pantas menerima beasiswa. Tapi sayangnya mereka tidak terkenal dan tidak ada upaya untuk menterkenalkan dirinya di hadapan publik. Jadilah mereka makhluk yang kesepian.
Perlu kau tahu juga bahwa, sesuatu akan dengan sendirinya dianggap berkualitas kalau sudah terkenal. Makanya para parpol banyak menggandeng para artis terkenal, karena terkenal itu sama dengan berkualitas, pintar dan diperlukan. Jadi, kalau Anda ingin menjadi sosok yang setiap gerak geriknya dijadikan panutan, dipuja, dan setiap ucapan Anda diekspos agar masyarakat menjadikannya sebagai pedoman, jadilah orang terkenal. Dan untuk menjadi terkenal itu sangat gampang caranya.
Ikuti saja Jojo dan Shinta, lalu Norman. Maka Anda akan mendapat tanggapan luar biasa dari semua kalangan. Bahkan sangat mungkin Anda akan disebut-sebut sebagai icon baru manusia kreatif di negeri ini. Nah, tunggu apa lagi. Raih kesempatan mendapatkan beasiswa dengan cara mudah. Sebentar lagi video saya juga akan segera beredar. Saya akan duet dengan Shinta dan Jojo untuk menyanyikan lagu baru dengan judul, “Keong Keracunan.”
Surat Terbuka Untuk Tuhan
Oleh Salman Rusydie Anwar
Tuhan, sampai detik ini, selalu saja aku berusaha untuk merumuskan bagaimana hidup yang benar, yang sungguh-sungguh sesuai dengan kehendak-Mu. Berbagai-bagai metode telah kucoba untuk mengarahkan kereta kehidupanku agar senantiasa berjalan di atas “rel” yang Kau buat. Ala kadarnya berhasil, namun kerapkali juga melenceng.
Hingga di suatu stasiun pencapaian tirakatku, aku temukan sebuah kesadaran baru bahwa, aku tidak mungkin sepenuhnya menjadi orang suci, yang seluruh perilaku-ku sama persis betul dengan kehendak-kehendak-Mu. Dalam tubuh kemanusiaanku, tertanam ketidaksempurnaan akal-pikiran, hati-nurani, jiwa-batin, yang kesemuanya senantiasa terus berdialektika dengan kebenaran dan kesempurnaan-Mu.
Karena aku sendiri tak bisa menegaskan -apalagi meyakini- bahwa aku adalah manusia suci, pejuang tulen kebenaran dan karenanya calon penghuni sorga. Maka dari itu aku senantiasa menahan diri untuk menuding-nuding orang lain yang berbuat salah kepada-Mu sebagai kafir dan menuduh mereka salah, sementara hanya aku dan kelompokkulah yang benar. Dan seandainya harus kuperingati mereka, aku akan pilih cara yang paling lembut dan bijak seperti yang Engkau sendiri perintahkan kepadaku. Aku takut berbuat kasar. Sebab antara kekasaran dan kesombongan sangatlah tipis tabir pembatasnya. Dan kalau kesombongan telah merasuki kesadaranku, maka habislah martabatku di hadapan-Mu.
Tapi hari ini Tuhan, aku melihat sebuah kenyataan baru. Ada ribuan orang yang dengan begitu percaya diri mengatakan sebagai pengawal agama-Mu, pembela ajaran-Mu. Sedemikian sungguh-sungguhnya mereka memegang sikap itu sehingga mereka tak pernah merasa takut apa-apa ketika harus melakukan sebuah tindakan. Mereka tidak takut tindakannya membuat sesama saudara kemanusiaannya terluka. Mereka tidak takut tindakannya memunculkan kecemasan yang menguras air mata. Mereka tidak takut tindakannya melenyapkan rasa aman dari bilik-bilik dada. Mereka tidak takut tindakannya memutuskan tali kasih sayang antar sesama. Dan puncak dari rasa tidak takut mereka adalah hilangnya ketakutan kepada-Mu bahwa semua tindakan itu sangatlah berjauhan dari yang Engkau mau.
Tuhan, sebagai manusia yang tertatih-tatih menjalankan perintah-Mu, ijinkan aku mengajukan beberapa pertanyaan agak janggal kepada-Mu. Apakah Engkau sudah tidak perkasa lagi untuk menjaga dan membela agama yang Kau turunkan sendiri, sehingga harus ada manusia-manusia khusus sebagai pembela agama-Mu? Untuk apa agama-Mu memerlukan pembela? Untuk meninggikan derajat-Mu? Bukankah tanpa pembela Engkau tetap dan akan selalu menjadi yang Maha Tinggi?
Tuhan, aku tahu bahwa ajaran agama-Mu sejatinya semata-mata untuk mengurus masalah-masalah kemanusiaan. Tetapi kali ini, para pembela agama-Mu, justru malah sering merusak kemanusiaan dengan dalih menegakkan kebenaran. Apakah kebenaran memang perlu ditegakkan dengan cara merusak kebenaran yang lain? Lihatlah, Tuhan. Pembela agamamu begitu sering dan senangnya mengamuk, merusak sesuatu, melampiaskan amarah, pamer kekuatan dengan penuh kesombongan. Padahal, Engkau sendiri melarang; janganlah kau berbuat kerusakan di muka bumi sesudah diperbaiki. Janganlah kau berjalan di muka bumi dengan dada yang dibusungkan. Janganlah kau bersikap sombong.
Ah, Tuhan. Di tengah-tengah kebingunganku yang semakin menggunung, aku ingin meyakini sebuah kesimpulan bahwa, sampai hari kiamat, agama-Mu BERBEDA dengan pembelanya. Kesucian agama-Mu, TIDAK SAMA dengan “kesucian” para pembelanya. Kebenaran agama-Mu, JAUH BERBEDA dengan kebenaran para pembelanya.
Jika suatu ketika para “pembela” agama-Mu datang padaku dan menyatakan bahwa seluruh sepak terjang dan tindakan yang mereka lakukan adalah benar dan sesuai betul dengan agama-Mu, maka maafkan aku Tuhan, jika hatiku mengatakan semua itu adalah kebohongan yang diagungkan. Dan seandainya aku tidak takut berdosa kepada-Mu, maka akan kuludahi mulut mereka biar bersih segala kebohongan dari ujung-ujung bibir mereka.
Tuhan, aku ini berasal dari Engkau dan akan kembali juga kepada Engkau. Maka dalam perjalanan kembali kepada-Mu, aku ingin prosesnya berjalan dengan damai, sejahtera, jauh dari teriakan-teriakan penuh amarah yang membuat bising ini telinga.
Amin....
Tuhan, sampai detik ini, selalu saja aku berusaha untuk merumuskan bagaimana hidup yang benar, yang sungguh-sungguh sesuai dengan kehendak-Mu. Berbagai-bagai metode telah kucoba untuk mengarahkan kereta kehidupanku agar senantiasa berjalan di atas “rel” yang Kau buat. Ala kadarnya berhasil, namun kerapkali juga melenceng.
Hingga di suatu stasiun pencapaian tirakatku, aku temukan sebuah kesadaran baru bahwa, aku tidak mungkin sepenuhnya menjadi orang suci, yang seluruh perilaku-ku sama persis betul dengan kehendak-kehendak-Mu. Dalam tubuh kemanusiaanku, tertanam ketidaksempurnaan akal-pikiran, hati-nurani, jiwa-batin, yang kesemuanya senantiasa terus berdialektika dengan kebenaran dan kesempurnaan-Mu.
Karena aku sendiri tak bisa menegaskan -apalagi meyakini- bahwa aku adalah manusia suci, pejuang tulen kebenaran dan karenanya calon penghuni sorga. Maka dari itu aku senantiasa menahan diri untuk menuding-nuding orang lain yang berbuat salah kepada-Mu sebagai kafir dan menuduh mereka salah, sementara hanya aku dan kelompokkulah yang benar. Dan seandainya harus kuperingati mereka, aku akan pilih cara yang paling lembut dan bijak seperti yang Engkau sendiri perintahkan kepadaku. Aku takut berbuat kasar. Sebab antara kekasaran dan kesombongan sangatlah tipis tabir pembatasnya. Dan kalau kesombongan telah merasuki kesadaranku, maka habislah martabatku di hadapan-Mu.
Tapi hari ini Tuhan, aku melihat sebuah kenyataan baru. Ada ribuan orang yang dengan begitu percaya diri mengatakan sebagai pengawal agama-Mu, pembela ajaran-Mu. Sedemikian sungguh-sungguhnya mereka memegang sikap itu sehingga mereka tak pernah merasa takut apa-apa ketika harus melakukan sebuah tindakan. Mereka tidak takut tindakannya membuat sesama saudara kemanusiaannya terluka. Mereka tidak takut tindakannya memunculkan kecemasan yang menguras air mata. Mereka tidak takut tindakannya melenyapkan rasa aman dari bilik-bilik dada. Mereka tidak takut tindakannya memutuskan tali kasih sayang antar sesama. Dan puncak dari rasa tidak takut mereka adalah hilangnya ketakutan kepada-Mu bahwa semua tindakan itu sangatlah berjauhan dari yang Engkau mau.
Tuhan, sebagai manusia yang tertatih-tatih menjalankan perintah-Mu, ijinkan aku mengajukan beberapa pertanyaan agak janggal kepada-Mu. Apakah Engkau sudah tidak perkasa lagi untuk menjaga dan membela agama yang Kau turunkan sendiri, sehingga harus ada manusia-manusia khusus sebagai pembela agama-Mu? Untuk apa agama-Mu memerlukan pembela? Untuk meninggikan derajat-Mu? Bukankah tanpa pembela Engkau tetap dan akan selalu menjadi yang Maha Tinggi?
Tuhan, aku tahu bahwa ajaran agama-Mu sejatinya semata-mata untuk mengurus masalah-masalah kemanusiaan. Tetapi kali ini, para pembela agama-Mu, justru malah sering merusak kemanusiaan dengan dalih menegakkan kebenaran. Apakah kebenaran memang perlu ditegakkan dengan cara merusak kebenaran yang lain? Lihatlah, Tuhan. Pembela agamamu begitu sering dan senangnya mengamuk, merusak sesuatu, melampiaskan amarah, pamer kekuatan dengan penuh kesombongan. Padahal, Engkau sendiri melarang; janganlah kau berbuat kerusakan di muka bumi sesudah diperbaiki. Janganlah kau berjalan di muka bumi dengan dada yang dibusungkan. Janganlah kau bersikap sombong.
Ah, Tuhan. Di tengah-tengah kebingunganku yang semakin menggunung, aku ingin meyakini sebuah kesimpulan bahwa, sampai hari kiamat, agama-Mu BERBEDA dengan pembelanya. Kesucian agama-Mu, TIDAK SAMA dengan “kesucian” para pembelanya. Kebenaran agama-Mu, JAUH BERBEDA dengan kebenaran para pembelanya.
Jika suatu ketika para “pembela” agama-Mu datang padaku dan menyatakan bahwa seluruh sepak terjang dan tindakan yang mereka lakukan adalah benar dan sesuai betul dengan agama-Mu, maka maafkan aku Tuhan, jika hatiku mengatakan semua itu adalah kebohongan yang diagungkan. Dan seandainya aku tidak takut berdosa kepada-Mu, maka akan kuludahi mulut mereka biar bersih segala kebohongan dari ujung-ujung bibir mereka.
Tuhan, aku ini berasal dari Engkau dan akan kembali juga kepada Engkau. Maka dalam perjalanan kembali kepada-Mu, aku ingin prosesnya berjalan dengan damai, sejahtera, jauh dari teriakan-teriakan penuh amarah yang membuat bising ini telinga.
Amin....
Ahmadiyah dan Buta Mata Kita
Oleh Salman Rusydie Anwar
Ahmadiyah menyimpang. Begitulah kira-kira keyakinan yang dipegang erat oleh sebagian orang, sehingga atas nama keyakinan itu pula mereka merasa perlu untuk menyerang, membakar dan melampiaskan amarah tanpa bisa dikendalikan.
“Melihat penyerangan yang begitu mengerikan, saya tiba-tiba ingat Abu Bakar,” kata seorang pemuda kepada temannya dengan suara lirih di suatu malam yang bergerimis. Ia kemudian bercerita kalau pada suatu waktu Abu Bakar pernah mendengar kebiasaan Rasulullah yang selalu pergi menemui seorang buta di pagi hari. Tak hanya pergi menemui. Beliau juga membawakan semangkuk bubur, segelas air dan menyuapkannya hingga si buta kenyang, paparnya.
Hingga Nabi Agung itu meninggal, kebiasaannya akhinya dilanjutkan oleh sahabat setianya, Abu Bakar. Untuk pertamakalinya, Abu Bakar datang menemui si buta, membawakan bubur dan meletakkannya di depan orang itu.
“Siapakah ini?” tanya si buta. Karena tidak ingin identitasnya diketahui, Abu Bakar menjawab, “Orang yang biasanya membawakan Anda bubur ke sini.”
“Tidak. Kau pasti bukan dia. Sebab biasanya dia juga membawakanku segelas air.” Abu Bakar diam dan pergi. Besok hari dia datang lagi membawakan bubur dan segelas air, lalu meletakkan di depan si buta. Seperti sebelumnya, si buta mengajukan pertanyaan yang sama dan Abu Bakar menjawab dengan jawaban yang juga sama.
“Tidak,” kata si buta, “Kau pasti bukan dia. Sebab biasanya dia juga akan menyuapi dan meminumiku hingga aku kenyang.” Kali ini Abu Bakar kembali pergi dan besok harinya dia datang membawa bubur, segelas air dan kemudian menyuapi serta meminumi si buta hingga kenyang. Setelah selesai, si buta kembali mengajukan pertanyaan:
“Sejak kemarin aku tahu kalau kau bukan orang yang biasanya datang kemari. Sekarang katakan, siapakah dirimu dan kemana perginya orang yang biasanya datang ke sini?”
Abu Bakar tercekat sebelum akhirnya dia menjelaskan, “Saya Abu Bakar. Dan orang yang selalu membawakan Anda bubur, segelas air dan menyuapi Anda hingga kenyang sudah meninggal dunia beberapa hari yang lalu. Tahukah engkau, kalau dia adalah Muhammad, utusan Allah.”
Kali ini ganti si buta yang tercekat. Tubuhnya gemetar dan air matanya tumpah tak tertahankan. Di tengah sedu-sedannya itu si buta berkata:
“Sungguh mulia Muhammad dan sungguh hinanya diriku. Wahai, Abu Bakar. Jadilah saksi atas perkataanku,” katanya sambil mengucapkan syahadat. Si buta itu ternyata adalah orang Yahudi yang sebelumnya tak hanya mengingkari kerasulan Muhammad, namun juga menyangkal keesaan Allah.
Pemuda itu menutup ceritanya sambil menghapus kedua matanya yang tampak sembab. Tak sanggup dia menahan haru melihat sedemikian mulianya sang Nabi dan sahabatnya memperlakukan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Kemuliaan itulah yang kemudian menumbuhkan simpati mendalam di hati Yahudi sehingga secara sadar ia pun bergabung dalam jamaahnya.
Si pemuda menarik napas. Sekarang dia berhadapan dengan kenyataan bahwa perbedaan keyakinan tak bisa lagi dijadikan peluang untuk berlomba melakukan sesuatu yang lebih indah dan benar. Keindahan dan kebenaran sepertinya hanya bisa dipahami lewat keseragaman yang pongah, sombong dan tak memberi kesempatan bagi pihak lain untuk mengambil jalannya sendiri tanpa harus dirintangi dan diganggu. Lain dari itu, perbedaan keyakinan sangatlah identik dengan ancaman. Sehingga orang yang berbeda keyakinan, kita anggap sebagai musuh yang tak berhak mendapat pengampunan.
“Dimanakah Abu Bakar?” teriak si pemuda tiba-tiba. “Aku rindu kehadirannya untuk menyuapi orang-orang yang kita anggap sesat dan buta akan kebenaran tanpa harus membuatnya tersedak dan tersengal. Dimanakah Nabi Agung itu berada diantara sekian ribu kepala orang-orang yang meyakini kerasulannya? Kenapa ia tidak hadir dalam kesadaran kita, sehingga apa yang kita perbuat cenderung menyimpang dari yang ia teladankan. Siapakah yang buta sekarang? Kita atau mereka yang kita yakini menyimpang itu?”
Teriakan pemuda memecah sunyi malam. Dan sahabatnya hanya memandang dengan tawa cekikikian.
Ahmadiyah menyimpang. Begitulah kira-kira keyakinan yang dipegang erat oleh sebagian orang, sehingga atas nama keyakinan itu pula mereka merasa perlu untuk menyerang, membakar dan melampiaskan amarah tanpa bisa dikendalikan.
“Melihat penyerangan yang begitu mengerikan, saya tiba-tiba ingat Abu Bakar,” kata seorang pemuda kepada temannya dengan suara lirih di suatu malam yang bergerimis. Ia kemudian bercerita kalau pada suatu waktu Abu Bakar pernah mendengar kebiasaan Rasulullah yang selalu pergi menemui seorang buta di pagi hari. Tak hanya pergi menemui. Beliau juga membawakan semangkuk bubur, segelas air dan menyuapkannya hingga si buta kenyang, paparnya.
Hingga Nabi Agung itu meninggal, kebiasaannya akhinya dilanjutkan oleh sahabat setianya, Abu Bakar. Untuk pertamakalinya, Abu Bakar datang menemui si buta, membawakan bubur dan meletakkannya di depan orang itu.
“Siapakah ini?” tanya si buta. Karena tidak ingin identitasnya diketahui, Abu Bakar menjawab, “Orang yang biasanya membawakan Anda bubur ke sini.”
“Tidak. Kau pasti bukan dia. Sebab biasanya dia juga membawakanku segelas air.” Abu Bakar diam dan pergi. Besok hari dia datang lagi membawakan bubur dan segelas air, lalu meletakkan di depan si buta. Seperti sebelumnya, si buta mengajukan pertanyaan yang sama dan Abu Bakar menjawab dengan jawaban yang juga sama.
“Tidak,” kata si buta, “Kau pasti bukan dia. Sebab biasanya dia juga akan menyuapi dan meminumiku hingga aku kenyang.” Kali ini Abu Bakar kembali pergi dan besok harinya dia datang membawa bubur, segelas air dan kemudian menyuapi serta meminumi si buta hingga kenyang. Setelah selesai, si buta kembali mengajukan pertanyaan:
“Sejak kemarin aku tahu kalau kau bukan orang yang biasanya datang kemari. Sekarang katakan, siapakah dirimu dan kemana perginya orang yang biasanya datang ke sini?”
Abu Bakar tercekat sebelum akhirnya dia menjelaskan, “Saya Abu Bakar. Dan orang yang selalu membawakan Anda bubur, segelas air dan menyuapi Anda hingga kenyang sudah meninggal dunia beberapa hari yang lalu. Tahukah engkau, kalau dia adalah Muhammad, utusan Allah.”
Kali ini ganti si buta yang tercekat. Tubuhnya gemetar dan air matanya tumpah tak tertahankan. Di tengah sedu-sedannya itu si buta berkata:
“Sungguh mulia Muhammad dan sungguh hinanya diriku. Wahai, Abu Bakar. Jadilah saksi atas perkataanku,” katanya sambil mengucapkan syahadat. Si buta itu ternyata adalah orang Yahudi yang sebelumnya tak hanya mengingkari kerasulan Muhammad, namun juga menyangkal keesaan Allah.
Pemuda itu menutup ceritanya sambil menghapus kedua matanya yang tampak sembab. Tak sanggup dia menahan haru melihat sedemikian mulianya sang Nabi dan sahabatnya memperlakukan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Kemuliaan itulah yang kemudian menumbuhkan simpati mendalam di hati Yahudi sehingga secara sadar ia pun bergabung dalam jamaahnya.
Si pemuda menarik napas. Sekarang dia berhadapan dengan kenyataan bahwa perbedaan keyakinan tak bisa lagi dijadikan peluang untuk berlomba melakukan sesuatu yang lebih indah dan benar. Keindahan dan kebenaran sepertinya hanya bisa dipahami lewat keseragaman yang pongah, sombong dan tak memberi kesempatan bagi pihak lain untuk mengambil jalannya sendiri tanpa harus dirintangi dan diganggu. Lain dari itu, perbedaan keyakinan sangatlah identik dengan ancaman. Sehingga orang yang berbeda keyakinan, kita anggap sebagai musuh yang tak berhak mendapat pengampunan.
“Dimanakah Abu Bakar?” teriak si pemuda tiba-tiba. “Aku rindu kehadirannya untuk menyuapi orang-orang yang kita anggap sesat dan buta akan kebenaran tanpa harus membuatnya tersedak dan tersengal. Dimanakah Nabi Agung itu berada diantara sekian ribu kepala orang-orang yang meyakini kerasulannya? Kenapa ia tidak hadir dalam kesadaran kita, sehingga apa yang kita perbuat cenderung menyimpang dari yang ia teladankan. Siapakah yang buta sekarang? Kita atau mereka yang kita yakini menyimpang itu?”
Teriakan pemuda memecah sunyi malam. Dan sahabatnya hanya memandang dengan tawa cekikikian.
Langganan:
Postingan (Atom)
