Sajak-Sajak Salman Rusydie Anwar
Lumpur
900 hari lamanya, aku gali lubang tanah ini. Tengoklah ke dalamnya. Kau akan temukan kerangka tubuhmu yang terlilit akar. Akar dari segala akar, yang sulurnya terus memanjang dan merambat sampai ke dalam otakmu. Mungkin kau tak merasa bahwa sel saraf di otakmu telah menjelma menjadi akar. Penuh tanah. Penuh debu. Hingga kau tak mampu membedakan cahaya matahari dan kunang-kunang.
Di malam kesekian. Dimana rembulan hanya mampu menyorotkan kecemasan. Aku berteriak. “Kau benar-benar makhluk berasalusul lumpur. Hatimu menjelma lumpur. Otakmu penuh lumpur. Matamu tertimbun lumpur. Telingamu tersumbat lumpur. Bahkan, langkah dan rencanamu hanya sampai di kedalaman lumpur.”
Aku mulai lelah. Ingin menutup lubang tanah ini. Juga sekalian dengan akarnya. Aku tak ingin sel saraf otakku menjadi akar, yang merambat dan menghisap darah di hatiku atau mungkin juga di hatimu.
Kebumen 2010.
Sempor
Ini wadukku. Tempatmu merendam gelisah. Tenang bening air seperti hamparan peta tua. Peta yang ditulis mungkin oleh tangan seorang nabi dari abad yang silam. Susurilah lekukan air dan juga batu-batunya sampai engkau tiba di gerbang cuaca. Cuaca yang mengabarkan betapa senyummu harusnya lebih merdeka dari pada duri.
Juga panjatlah ujung pinus agar tanganmu sempurna membelai awan. Tidak. Mungkin juga mengelus langit tempat yang dipenuhi kota rahasia. Kota yang menurut dongeng orang-orang tua selalu berkemas untuk membangun hari esok dengan kepingan bunga bakung, eik dan juga cempereng.
Bunga-bunga itu akan terus mekar. Mengembangkan senyum para peziarah yang sehari-hari terlempar dari jalan yang gelap ke gang yang hitam.
Kebumen 2010.
Sangsi
Ada yang mencegahmu. Mungkin kesangsian. Saat kakimu melangkah hendak memasuki senja. Senja yang menenggelamkan seluruh kota, tempat para muallif menulis kearifan di selembar kertas buram.
Kaupun membisu. Bersandar pada tiang listrik yang menyangga seluruh aliran keluh kesahmu. Tak ada sekelar cadangan yang dapat kau raba di samping kiri dadamu. Dada yang selalu gemetar menahan hembus angin yang berlompatan dari bait-bait kearifan di atas selembar kertas buram.
Engkau terus terpaku di atas kaki air matamu. Air mata yang tak pernah sanggup melata di gigir waktu, yang hanya mampu berputar-putar sendirian tanpa tahu kapan waktunya harus pulang. Kesangsian telah menjebakmu diantara huruf-huruf kearifan yang ditulis muallif itu. Dan engkau tak terbaca dan tak bisa membaca. Engkau hanya sanggup menatap mata muallif yang terus menulis kearifan dengan rasa cemas di hatimu.
Kebumen 2010.
Selasa, 20 April 2010
Rabu, 24 Maret 2010
Rokok
Rokok
Cerpen Salman Rusydie Anwar
Siang itu, aku terkapar kepanasan di beranda rumah. Kurangnya pepohonan di sekitar halaman membuat suasana rumahku tetap terasa gerah meski saat itu aku bertelanjang dada. Belum lagi posisi rumah yang berada tepat di pinggir jalan besar yang setiap hari tak pernah sepi dari bisingnya suara kendaraan. Rasanya begitu muak bertahan lama tinggal di rumah itu. Tapi untuk pindah ke daerah lain yang lebih sejuk juga tak mungkin. Harga tanah sekarang ini mahal sekali dan hal itu jelas tak akan terbeli oleh penghasilanku yang cuma sebagai penjual asongan rokok, yang berkeliling di dalam pasar dan terminal angkot.
Aku hampir terlelap ketika seberkas cahaya berwarna kebiru-biruan tiba-tiba meluncur dari atas langit dan langsung jatuh tepat di samping kepalaku. Tapi aku tidak kaget. Sudah dua tahun terakhir ini aku sering mengalami hal-hal seperti itu. Dan itu pasti Kiai Majnun. Sosok yang dianggap orang sebagai manusia sakti karena dapat terbang dan mengubah wujudnya menjadi seberkas cahaya berwarna biru.
Entah apa yang ia kagumi dari diriku. Ia selalu berkata kalau dia merasa nyaman denganku. Mungkin karena hanya aku yang tidak terlalu membesar-besarkan kesaktiannya diantara orang lain yang bahkan menganggapnya seperti malaikat. Aku anggap kemampuannya yang bisa mengubah diri menjadi seberkas cahaya, dan juga kemampuannya bisa terbang dan mendatangi sebuah tempat dalam sekejap mata hanya masalah biasa.
“Itu hanya sebagian kecil dari anugerah Tuhan yang diberikan kepada sampeyan. Jadi tidak usah berlagak di depan saya,” kataku pada saat pertama kali berkenalan. Dan sejak saat itu pula ia kerap mendatangiku kapan saja ia suka, dan dimana saja aku berada. Meski awalnya aku merasa kesal, namun akhirnya aku menikmatinya juga. Apalagi ia selalu mengeluarkan humor-humor, tingkah laku dan pernyataan-pernyataan geli yang kadang sulit dicerna orang. Itu sebabnya aku panggil dia Kiai Majnun. Kiai gila. Begitu kira-kira artinya.
“Aduh, Kiaii... Ada apa lagi sih. Kok datang siang-siang begini?”
“Kenapa. Kamu tidak suka aku datang?”
“Bukan begitu. Saya ini lagi suntuk, capek dan mau istirahat.”
“Ya sudah, istirahat saja. Aku juga mau numpang istirahat, kok.”
Kiai Majnun merebahkan tubuhnya di samping tubuhku. Sejenak ia terdiam dan akupun sengaja tak mau mengajaknya bercakap-cakap seperti biasanya kami lakukan. Tapi dasar Kiai Majnun, dia seperti tak betah di kepung sunyi. Kalau dia tahu aku belum tidur, pasti ada saja yang mau diomongkan. Bahkan meski aku sudah tidur, tidak jarang pula dibangunkan.
“Le, kamu belum tidur kan?”
“Memang ada apa, Kiai. Saya memang mau tidur dan tolong kiai jangan ganggu saya dulu.”
“Tadi bilang kamu suntuk. Makanya aku ajak kamu ngobrol.”
“Nanti saja deh, ngomongnya Kiai. Sekarang ini waktunya tidak memungkinkan.”
“Wah…kamu ini gimana toh. Justru kalau diomongkan nanti aku takut keburu lupa dan omongannya menjadi tidak kontekstual lagi.”
“Setiap omongan kiai, buat saya, selalu kontekstual. Kiai mau ngomong di mushalla, di masjid, di lapangan sepak bola, di teminal angkot dan bahkan di kamar mandi pun tetap saya anggap kontekstual. Jadi, tahan dulu omongan kiai untuk dibicarakan nanti sehabis saya bangun tidur.”
Aku menutup wajah dengan baju yang tadi dilepas. Lalu berpura-pura terlelap meski sebenarnya hal itu tidak bisa aku lakukan karena Kiai Majnun yang grusak-grusuk balik kiri, balik kanan seperti kardus yang ditimpa angin besar. Aku bersabar dalam keadaan seperti itu. Ingin rasanya menghardik sosok Kiai Majnun ini. Tetapi tidak tega. Takut dia marah, tersinggung dan akhirnya tak mau datang lagi menjumpaiku. Padahal, diam-diam, aku pun merasa enjoy dengan beliau.
“Le, tak baik tidur dalam keadaan suntuk. Kamu pasti mimpi jelek. Atau kalau tidak, tidurmu tak bakalan nyenyak. Jadi tenangkan dulu pikiranmu. Bebaskan dari kesuntukan, dan setelah itu baru tidur. Saya jamin pasti nyenyak.”
“Memang Kiai tahu apa, kenapa saya suntuk?”
“Paling-paling masalah hutang itu lagi. Iya, kan?”
“Ini lebih dari sekadar hutang Kiai,” jawabku setengah kesal.
“Sebentar kutebak,” kata Kiai Majnun sambil memejamkan kedua matanya seperti orang yang sedang meramal.
“Ohh….pasti,” katanya lagi tiba-tiba.
“Pasti apa?”
“Pasti soal rencanamu yang mau menikah lagi dengan Zainab, kan. Hehehe…” kali ini Kiai Majnun terkekeh-kekah. Tubuhnya terguncang-guncang menahan tawa.
“Salah, Kiai. Salah. Masalah yang membuat saya suntuk ini sepertinya tidak memungkinkan bagi saya untuk meneruskan niat itu. Sudahlah. Lupakan Zaenab, Fathimah, Desy Ratnasari….”
“Oohhh… kenapa ada Desy Ratnasari. Katanya cuma Zaenab sama Fatimah pilihannya?”
“Aduh, Kiaii.... . Sudahlah. Kesuntukan saya ini tidak ada hubungannya dengan perempuan dan hutang itu. Titik.”
“Lha, ya terus apa?”
“Rokok,” jawabku ketus.
“Rokok. Memang kenapa dengan rokok? Kamu habis modal dan tak bisa berjualan rokok lagi? Ngomong, dong.”
Aku menghela napas dalam-dalam. Menenteramkan kesuntukan yang sudah bercampur aduk dengan rasa jengkel, mengkel, marah dan rasa ingin memelintir mulut Kiai yang satu ini.
“Bukan itu, Kiai. Bukan itu. Tapi sekarang saya tidak mungkin lagi berjualan rokok karena rokok sudah diharamkan.”
“Hussyy…,” Kiai Majnun terbelalak seperti tidak percaya. Wajar saja dia bersikap begitu. Soalnya dia perokok tangguh yang dapat menghabiskan dua puluh batang dalam sehari.
“Ini benar, Kiai. Kalau tidak, ndak mungkin saya suntuk dan uring-uringan begini.”
“Memang siapa yang mengharamkan? Pemerintah?” tanyanya penasaran.
“Itu tidak penting Kiai tahu. Yang penting sekarang, Kiai harus memberi penjelasan kepada saya mengenai masalah yang satu ini.”
“Lho, kenapa saya yang harus kena getahnya?”
“Memang begitu maunya saya…”
Kiai Majnun hanya geleng-geleng kepala mendengar tekananku. Namun ia masih sempat cengar-cengir saja meski ditekan-tekan seperti itu. Wajahnya selalu menunjukkan kalau ia tak bisa ditekan, diintervensi dan dipengaruhi oleh apa pun yang ada di luar dirinya.
“Sekarang aku ingin tanya satu hal sama kamu. Sejak ada pengharaman rokok seperti itu, apa rokokmu tidak laku sama sekali?” tanya Kiai Majnun.
“Itulah anehnya, Kiai. Malah asongan rokok saya tetap laris seperti biasanya dan bahkan lebih laris dari hari-hari sebelumnya,” jawabku ganti bersemangat.
“Kenapa kamu anggap aneh?”
“Ya. Padahal kan sudah diharamkan. Logikanya, kalau sudah haram orang kan mestinya takut. Tapi kenapa ini masih laris dan tambah laris saja asongan saya.”
“Jadi itu menurutmu fenomena yang aneh?”
“Jelas aneh, Kiai. Tapi kenapa tanya-tanya itu segala sih?”
Kiai Majnun kembali tertawa terkekeh-kekeh.
“Le, larangan itu juga tidak kalah anehnya buatku. Hehehe…..,” tubuh Kiai Majnun terguncang-guncang lagi.
“Aneh bagaimana, Kiai. Yang mengeluarkan putusan haram itu orang-orang hebat lho. Bahkan mungkin Kiai sendiri dapat dikalahkan dengan mudah seandainya diajak berdebat oleh mereka.”
“Ah, sudahlah. Aku memang mungkin kalah kalau diajak berdebat. Tapi intinya larangan itu aneh. Titik.”
“Makanya tolong Kiai jelaskan. Kenapa aneh?”
“Ya, tapi tolong ambilkan dulu aku sebatang. Mulutku lagi masam ini.”
Aku tak berkutik. Dengan malas aku bangkit untuk mengambilkan rokok untuknya. Tak hanya itu, aku juga menyalakannya biar dia bisa langsung menghisapnya. Kiai Majnun menerima rokok itu dengan girang dan menghisapnya dalam-dalam.
“Kau tahu, kenapa aku tadi katakan kalau larangan pengharaman itu aneh?”
“Tidak, Kiai.”
“Karena menurutku, itu kurang substansial. Bagaimana mungkin rokok diharamkan kalau pabriknya tetap dibiarkan jalan dan memberikan pemasukan pajak berlipat-lipat pada negara. Kamu tahu, berapa triliun negara menerima pemasukan dari perusahaan rokok itu?”
“Saya tidak tahu, Kiai. Memang berapa?”
“Makanya saya tanya kamu, siapa tahu kamu tahu. Ah… malah kamu sama gendengnya seperti aku. Pantas saja kamu jadi tukang asongan. Kalau pintar dikit, kamu pasti diajak rapat untuk membahas haramnya rokok.”
Aku biarkan saja Kiai Majnun mengata-ngataiku seenaknya. Memang begitulah yang sering dia lakukan selama ini terhadapku dan anehnya aku tetap menyukainya.
“Terus. Terus?”
“Terus apanya?”
“Soal yang aneh-aneh itu tadi.”
“Oh. Ya jelas larangan itu aneh. Harusnya yang diharamkan itu pabriknya. Haram memproduksi rokok. Kalau itu berhasil, saya jamin para perokok akan berhenti dengan sendirinya. Kecuali mereka berani ngulak ke Amerika langsung.”
“Sebentar, Kiai. Dulu Kiai pernah berkata bahwa semua yang diciptakan Tuhan itu memiliki manfaat. Kalau sawi, kangkung, bayam, itu jelas bisa dibuat sayur. Dan saya juga berpikir, kalau daun tembakau ini manfaatnya agar bisa dibuat rokok. Tapi kalau sekarang diharamkan, berarti daun tembakau itu sudah tidak ada manfaatnya lagi dong, Kiai. Mungkin Tuhan perlu membinasakan benih tanaman yang bernama tembakau itu dari sejarah manusia.”
“Kalau begitu, silahkan kamu bilang sendiri sama Tuhan.”
“Maksudku bukan itu, Kiai. Artinya, kalau rokok itu diharamkan, lantas daun tembakau itu mau dimanfaatkan untuk apa?”
“Mungkin sewaktu-waktu kita coba jadikan sayur saja.”
“Ayolah, Kiai. Saya ini serius.”
“Aku juga serius. Kamu ini enak saja. Aku ini tidak tahu, selain dibuat rokok, manfaat daun tembakau itu bisa dibuat apa lagi. Makanya aku bilang kalau sewaktu-waktu kita coba nyayur dengan memakai daun tembakau. Pasti rasanya lebih legit.”
“Ah, Kiai ini sudah mulai ngawur.”
“Sama ngawurnya dengan keluarnya larangan itu kan?”
“Huss…., jangan bilang-bilang begitu, Kiai. Kalau sampai kedengaran, Kiai bakal tahu akibatnya. Kiai bakal kena pasal…”
“Pasal apa,” potong Kiai Majnun tiba-tiba. “Kalau mau bicara pasal, aku hapal di luar kepala. Aku kasih contoh ya, kalau ada seorang pengendara motor yang tidak memiliki SIM dan ditangkap polisi, maka negara akan memberi sanksi dengan pasal 20.000. Itu baru SIM. Kalau dia juga tidak bawa STNK, maka ia akan dikenai pasal 40.000. Bagaimana, sudah jelas kan, kalau aku tahu benar soal pasal-pasal hukum?”
“Sudah. Sudah, Kiai. Makin lama Kiai makin ngawur saja. Nanti omongan Kiai benar-benar didengar orang lho.”
“Kalau begitu aku pergi saja.”
“Oh, itu lebih baik, Kiai. Saya juga sudah ngantuk. Mau tidur.”
“Eh…tapi aku kasih satu bungkus lagi lah. Nanti aku bayar.”
Ah, benar-benar gila Kiai yang satu ini.
Kebumen, 20 Maret 2010.
Cerpen Salman Rusydie Anwar
Siang itu, aku terkapar kepanasan di beranda rumah. Kurangnya pepohonan di sekitar halaman membuat suasana rumahku tetap terasa gerah meski saat itu aku bertelanjang dada. Belum lagi posisi rumah yang berada tepat di pinggir jalan besar yang setiap hari tak pernah sepi dari bisingnya suara kendaraan. Rasanya begitu muak bertahan lama tinggal di rumah itu. Tapi untuk pindah ke daerah lain yang lebih sejuk juga tak mungkin. Harga tanah sekarang ini mahal sekali dan hal itu jelas tak akan terbeli oleh penghasilanku yang cuma sebagai penjual asongan rokok, yang berkeliling di dalam pasar dan terminal angkot.
Aku hampir terlelap ketika seberkas cahaya berwarna kebiru-biruan tiba-tiba meluncur dari atas langit dan langsung jatuh tepat di samping kepalaku. Tapi aku tidak kaget. Sudah dua tahun terakhir ini aku sering mengalami hal-hal seperti itu. Dan itu pasti Kiai Majnun. Sosok yang dianggap orang sebagai manusia sakti karena dapat terbang dan mengubah wujudnya menjadi seberkas cahaya berwarna biru.
Entah apa yang ia kagumi dari diriku. Ia selalu berkata kalau dia merasa nyaman denganku. Mungkin karena hanya aku yang tidak terlalu membesar-besarkan kesaktiannya diantara orang lain yang bahkan menganggapnya seperti malaikat. Aku anggap kemampuannya yang bisa mengubah diri menjadi seberkas cahaya, dan juga kemampuannya bisa terbang dan mendatangi sebuah tempat dalam sekejap mata hanya masalah biasa.
“Itu hanya sebagian kecil dari anugerah Tuhan yang diberikan kepada sampeyan. Jadi tidak usah berlagak di depan saya,” kataku pada saat pertama kali berkenalan. Dan sejak saat itu pula ia kerap mendatangiku kapan saja ia suka, dan dimana saja aku berada. Meski awalnya aku merasa kesal, namun akhirnya aku menikmatinya juga. Apalagi ia selalu mengeluarkan humor-humor, tingkah laku dan pernyataan-pernyataan geli yang kadang sulit dicerna orang. Itu sebabnya aku panggil dia Kiai Majnun. Kiai gila. Begitu kira-kira artinya.
“Aduh, Kiaii... Ada apa lagi sih. Kok datang siang-siang begini?”
“Kenapa. Kamu tidak suka aku datang?”
“Bukan begitu. Saya ini lagi suntuk, capek dan mau istirahat.”
“Ya sudah, istirahat saja. Aku juga mau numpang istirahat, kok.”
Kiai Majnun merebahkan tubuhnya di samping tubuhku. Sejenak ia terdiam dan akupun sengaja tak mau mengajaknya bercakap-cakap seperti biasanya kami lakukan. Tapi dasar Kiai Majnun, dia seperti tak betah di kepung sunyi. Kalau dia tahu aku belum tidur, pasti ada saja yang mau diomongkan. Bahkan meski aku sudah tidur, tidak jarang pula dibangunkan.
“Le, kamu belum tidur kan?”
“Memang ada apa, Kiai. Saya memang mau tidur dan tolong kiai jangan ganggu saya dulu.”
“Tadi bilang kamu suntuk. Makanya aku ajak kamu ngobrol.”
“Nanti saja deh, ngomongnya Kiai. Sekarang ini waktunya tidak memungkinkan.”
“Wah…kamu ini gimana toh. Justru kalau diomongkan nanti aku takut keburu lupa dan omongannya menjadi tidak kontekstual lagi.”
“Setiap omongan kiai, buat saya, selalu kontekstual. Kiai mau ngomong di mushalla, di masjid, di lapangan sepak bola, di teminal angkot dan bahkan di kamar mandi pun tetap saya anggap kontekstual. Jadi, tahan dulu omongan kiai untuk dibicarakan nanti sehabis saya bangun tidur.”
Aku menutup wajah dengan baju yang tadi dilepas. Lalu berpura-pura terlelap meski sebenarnya hal itu tidak bisa aku lakukan karena Kiai Majnun yang grusak-grusuk balik kiri, balik kanan seperti kardus yang ditimpa angin besar. Aku bersabar dalam keadaan seperti itu. Ingin rasanya menghardik sosok Kiai Majnun ini. Tetapi tidak tega. Takut dia marah, tersinggung dan akhirnya tak mau datang lagi menjumpaiku. Padahal, diam-diam, aku pun merasa enjoy dengan beliau.
“Le, tak baik tidur dalam keadaan suntuk. Kamu pasti mimpi jelek. Atau kalau tidak, tidurmu tak bakalan nyenyak. Jadi tenangkan dulu pikiranmu. Bebaskan dari kesuntukan, dan setelah itu baru tidur. Saya jamin pasti nyenyak.”
“Memang Kiai tahu apa, kenapa saya suntuk?”
“Paling-paling masalah hutang itu lagi. Iya, kan?”
“Ini lebih dari sekadar hutang Kiai,” jawabku setengah kesal.
“Sebentar kutebak,” kata Kiai Majnun sambil memejamkan kedua matanya seperti orang yang sedang meramal.
“Ohh….pasti,” katanya lagi tiba-tiba.
“Pasti apa?”
“Pasti soal rencanamu yang mau menikah lagi dengan Zainab, kan. Hehehe…” kali ini Kiai Majnun terkekeh-kekah. Tubuhnya terguncang-guncang menahan tawa.
“Salah, Kiai. Salah. Masalah yang membuat saya suntuk ini sepertinya tidak memungkinkan bagi saya untuk meneruskan niat itu. Sudahlah. Lupakan Zaenab, Fathimah, Desy Ratnasari….”
“Oohhh… kenapa ada Desy Ratnasari. Katanya cuma Zaenab sama Fatimah pilihannya?”
“Aduh, Kiaii.... . Sudahlah. Kesuntukan saya ini tidak ada hubungannya dengan perempuan dan hutang itu. Titik.”
“Lha, ya terus apa?”
“Rokok,” jawabku ketus.
“Rokok. Memang kenapa dengan rokok? Kamu habis modal dan tak bisa berjualan rokok lagi? Ngomong, dong.”
Aku menghela napas dalam-dalam. Menenteramkan kesuntukan yang sudah bercampur aduk dengan rasa jengkel, mengkel, marah dan rasa ingin memelintir mulut Kiai yang satu ini.
“Bukan itu, Kiai. Bukan itu. Tapi sekarang saya tidak mungkin lagi berjualan rokok karena rokok sudah diharamkan.”
“Hussyy…,” Kiai Majnun terbelalak seperti tidak percaya. Wajar saja dia bersikap begitu. Soalnya dia perokok tangguh yang dapat menghabiskan dua puluh batang dalam sehari.
“Ini benar, Kiai. Kalau tidak, ndak mungkin saya suntuk dan uring-uringan begini.”
“Memang siapa yang mengharamkan? Pemerintah?” tanyanya penasaran.
“Itu tidak penting Kiai tahu. Yang penting sekarang, Kiai harus memberi penjelasan kepada saya mengenai masalah yang satu ini.”
“Lho, kenapa saya yang harus kena getahnya?”
“Memang begitu maunya saya…”
Kiai Majnun hanya geleng-geleng kepala mendengar tekananku. Namun ia masih sempat cengar-cengir saja meski ditekan-tekan seperti itu. Wajahnya selalu menunjukkan kalau ia tak bisa ditekan, diintervensi dan dipengaruhi oleh apa pun yang ada di luar dirinya.
“Sekarang aku ingin tanya satu hal sama kamu. Sejak ada pengharaman rokok seperti itu, apa rokokmu tidak laku sama sekali?” tanya Kiai Majnun.
“Itulah anehnya, Kiai. Malah asongan rokok saya tetap laris seperti biasanya dan bahkan lebih laris dari hari-hari sebelumnya,” jawabku ganti bersemangat.
“Kenapa kamu anggap aneh?”
“Ya. Padahal kan sudah diharamkan. Logikanya, kalau sudah haram orang kan mestinya takut. Tapi kenapa ini masih laris dan tambah laris saja asongan saya.”
“Jadi itu menurutmu fenomena yang aneh?”
“Jelas aneh, Kiai. Tapi kenapa tanya-tanya itu segala sih?”
Kiai Majnun kembali tertawa terkekeh-kekeh.
“Le, larangan itu juga tidak kalah anehnya buatku. Hehehe…..,” tubuh Kiai Majnun terguncang-guncang lagi.
“Aneh bagaimana, Kiai. Yang mengeluarkan putusan haram itu orang-orang hebat lho. Bahkan mungkin Kiai sendiri dapat dikalahkan dengan mudah seandainya diajak berdebat oleh mereka.”
“Ah, sudahlah. Aku memang mungkin kalah kalau diajak berdebat. Tapi intinya larangan itu aneh. Titik.”
“Makanya tolong Kiai jelaskan. Kenapa aneh?”
“Ya, tapi tolong ambilkan dulu aku sebatang. Mulutku lagi masam ini.”
Aku tak berkutik. Dengan malas aku bangkit untuk mengambilkan rokok untuknya. Tak hanya itu, aku juga menyalakannya biar dia bisa langsung menghisapnya. Kiai Majnun menerima rokok itu dengan girang dan menghisapnya dalam-dalam.
“Kau tahu, kenapa aku tadi katakan kalau larangan pengharaman itu aneh?”
“Tidak, Kiai.”
“Karena menurutku, itu kurang substansial. Bagaimana mungkin rokok diharamkan kalau pabriknya tetap dibiarkan jalan dan memberikan pemasukan pajak berlipat-lipat pada negara. Kamu tahu, berapa triliun negara menerima pemasukan dari perusahaan rokok itu?”
“Saya tidak tahu, Kiai. Memang berapa?”
“Makanya saya tanya kamu, siapa tahu kamu tahu. Ah… malah kamu sama gendengnya seperti aku. Pantas saja kamu jadi tukang asongan. Kalau pintar dikit, kamu pasti diajak rapat untuk membahas haramnya rokok.”
Aku biarkan saja Kiai Majnun mengata-ngataiku seenaknya. Memang begitulah yang sering dia lakukan selama ini terhadapku dan anehnya aku tetap menyukainya.
“Terus. Terus?”
“Terus apanya?”
“Soal yang aneh-aneh itu tadi.”
“Oh. Ya jelas larangan itu aneh. Harusnya yang diharamkan itu pabriknya. Haram memproduksi rokok. Kalau itu berhasil, saya jamin para perokok akan berhenti dengan sendirinya. Kecuali mereka berani ngulak ke Amerika langsung.”
“Sebentar, Kiai. Dulu Kiai pernah berkata bahwa semua yang diciptakan Tuhan itu memiliki manfaat. Kalau sawi, kangkung, bayam, itu jelas bisa dibuat sayur. Dan saya juga berpikir, kalau daun tembakau ini manfaatnya agar bisa dibuat rokok. Tapi kalau sekarang diharamkan, berarti daun tembakau itu sudah tidak ada manfaatnya lagi dong, Kiai. Mungkin Tuhan perlu membinasakan benih tanaman yang bernama tembakau itu dari sejarah manusia.”
“Kalau begitu, silahkan kamu bilang sendiri sama Tuhan.”
“Maksudku bukan itu, Kiai. Artinya, kalau rokok itu diharamkan, lantas daun tembakau itu mau dimanfaatkan untuk apa?”
“Mungkin sewaktu-waktu kita coba jadikan sayur saja.”
“Ayolah, Kiai. Saya ini serius.”
“Aku juga serius. Kamu ini enak saja. Aku ini tidak tahu, selain dibuat rokok, manfaat daun tembakau itu bisa dibuat apa lagi. Makanya aku bilang kalau sewaktu-waktu kita coba nyayur dengan memakai daun tembakau. Pasti rasanya lebih legit.”
“Ah, Kiai ini sudah mulai ngawur.”
“Sama ngawurnya dengan keluarnya larangan itu kan?”
“Huss…., jangan bilang-bilang begitu, Kiai. Kalau sampai kedengaran, Kiai bakal tahu akibatnya. Kiai bakal kena pasal…”
“Pasal apa,” potong Kiai Majnun tiba-tiba. “Kalau mau bicara pasal, aku hapal di luar kepala. Aku kasih contoh ya, kalau ada seorang pengendara motor yang tidak memiliki SIM dan ditangkap polisi, maka negara akan memberi sanksi dengan pasal 20.000. Itu baru SIM. Kalau dia juga tidak bawa STNK, maka ia akan dikenai pasal 40.000. Bagaimana, sudah jelas kan, kalau aku tahu benar soal pasal-pasal hukum?”
“Sudah. Sudah, Kiai. Makin lama Kiai makin ngawur saja. Nanti omongan Kiai benar-benar didengar orang lho.”
“Kalau begitu aku pergi saja.”
“Oh, itu lebih baik, Kiai. Saya juga sudah ngantuk. Mau tidur.”
“Eh…tapi aku kasih satu bungkus lagi lah. Nanti aku bayar.”
Ah, benar-benar gila Kiai yang satu ini.
Kebumen, 20 Maret 2010.
Siti Maryam Award
Siti Maryam” Award
By Salman Rusydie Anwar
Di suatu malam yang lengang dan bergerimis, saya mengisi kejenuhan dengan menonton televisi bersama istri. Saya tidak tahu apa nama acaranya. Maklum, sejak beberapa bulan ini saya berusaha untuk tidak terlalu berketergantungan pada kotak ajaib itu. Selain tidak menemukan acara yang benar-benar mendidik dan mendewasakan, saya juga merasa kerap dikecewakan oleh televisi karena hampir 90% acaranya hanyalah main-main. Saya bukan anti tv. Tapi sekadar tidak merasa terlalu butuh kepadanya.
Di dalam acara yang saya saksikan malam itu, tampak ada seorang perempuan artis yang sedang menjadi bintang tamu. Menurut host acara itu, perempuan tersebut baru saja melahirkan. Dan memang kelihatan kalau ia baru melahirkan. Badannya melar layaknya perempuan yang memang habis melahirkan.
Tetapi yang membuat saya tercenung adalah ketika istri saya mengatakan bahwa perempuan itu ternyata melahirkan tanpa jelas diketahui siapa ayahnya. Astaghfirullah. Saya mencoba menahan diri untuk tidak mengutuk, membenci dan meremehkannya walaupun godaan itu teramat besarnya di dalam hati. Lebih jelasnya, saya niatkan kata-kata istighfar itu untuk memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang sekiranya menimpa saya seandainya saya terlanjur mengutuk perempuan itu. Selebihnya, saya juga memohonkan ampunan atas perempuan itu kepada-Nya karena siapa tahu artis tersebut sedang khilaf. Entahlah.
Dengan nada berkelakar, saya katakan kepada istri bahwa artis tersebut barangkali ingin menjadi “Siti Maryam” kontemporer yang bisa hamil tanpa harus ada suaminya. Mungkin ia ingin menguji dan membuktikan kembali kekuasaan Allah bahwa Dia benar-benar berkuasa untuk membuat seseorang hamil tanpa perantara suami sekalipun.
Namun tak penting benar kelakar itu ditanggapi. Satu hal yang pasti. Saya melihat betapa si artis yang hamil tanpa suami itu kelihatan benar-benar menikmati kelahiran anaknya yang tanpa ayah. Senyumnya terus mengembang menanggapi berbagai gojekan dan pertanyaan si host acara. Jangankan penyesalan, niat untuk menyesal sepertinya tak pernah terbersit di dalam hatinya. Dia terlihat sumringah seperti perempuan pada umumnya yang habis melahirkan namun jelas siapa suaminya.
“Bagaimana sampeyan menanggapi masalah itu?” tanya istri saya tiba-tiba.
Saya tergeragap. Bukan karena saya tidak mampu memberi jawaban atas pertanyaannya. Tetapi apa perlunya saya menanggapi masalah kehamilan dan kelahiran si artis itu. Dia bukan saudara dan famili saya. Juga bukan sahabat saya. Sekalipun dia artis, dia juga bukan idola saya dan saya tak pernah merasa menyaksikan aktingnya di depan mata kepala saya sendiri. Secara sosiologis, saya merasa tidak punya tanggung jawab apa-apa terhadap semua perbuatannya. Silahkan dia mau hamil lagi dan lagi tanpa ada suami, silahkan. Bahkan silahkan saja dia mau berganti kelamin dan kemudian menghamili perempuan lain sesama artis, juga silahkan.
Artinya, saya tidak punya koneksi apa-apa dengan dia. Meskipun saya dibayar untuk menjadi idola yang ditugaskan mengelu-elukan dirinya sebagaimana yang terlihat pada penonton yang hadir di acara itu, insya Allah saya tidak akan mau. Dalam hidup ini, saya sudah memiliki idola yang setiap waktu selalu saya rindui paras wajahnya. Bahkan tiap detik saya usahakan untuk menyebut-nyebut namanya:
Ya ayyuhalmusytaaquuna ilaa ru’yati jamaalihii, shalluuu ‘alaihi wa sallimuu tasliima
Engkau yang menyimpan kerinduan untuk bertatapan wajah dengan keindahan beliau, bershalawatlah kepadanya.
Itulah idola saya dalam hidup ini. Jadi, mohon maaf, seandainya dia datang sendiri ke rumah saya dan menawarkan banyak uang dan fasilitas agar saya bersedia menjadi idola yang harus terus memujinya meski dia hamil tanpa suami, insya Allah saya akan terima uangnya dan saya berikan semua kepada beberapa anak asuh saya yang sekarang sedang mati-matian belajar menata bagaimana hidup yang benar. Selebihnya, akan saya lupakan dia.
Tetapi sesama hamba Allah, serta demi kemantapan sikap dan ilmu, saya juga merasa perlu memberi tanggapan atas pertanyaan istri saya itu. Pertama-tama yang saya kemukakan kepada istri saya adalah, kita harus segera mendoakan si artis agar ia cepat-cepat menyadari kekeliruannya. Dengan tegas saya katakan bahwa ia jelas-jelas bukan Siti Maryam dan tidak mungkin Allah mengulang mukjizatnya kepada beliau.
Bahkan Siti Maryam saja gusar, bercucuran air mata dan mengisolasi diri ketika ia diberi tahu bahwa Allah akan menganugerahkan seorang anak yang kelak akan menjadi manusia mulia, seorang Nabi, “Bagaimana mungkin saya bisa hamil, padahal saya tidak bersuami,” demikian kegusaran Siti Maryam. Lha, tapi si artis ini malah sebaliknya. Ia malah mengumbar-umbar senyumnya di depan kamera. Ia jumpa pers segala, mengabarkan bahwa ia telah melahirkan anak. Anak tanpa ayah.
Hmmm….
Kemudian yang kedua, kalau Allah menimpakan dosa berat kepada si artis karena ia telah hamil tanpa suami hingga sekaligus ia melahirkan anak tanpa ayah, maka sejatinya menurut saya, dosa itu juga berlaku bagi penonton yang hadir dalam acara itu. Sebab mereka datang dan dibayar untuk menyaksikan, menyoraki dengan penuh kegembiraan dan mengelu-elukan dengan penuh kekaguman hingga substansi kesalahan dan dosa si artis menjadi lumer dan samar-samar. Bahkan tak terlihat sama sekali, tergilas oleh nuansa hiburannya. Tetapi kita berdoa, agar mereka tidak menyangka bahwa yang dilakukan si artis adalah tindakan yang benar hanya karena mereka dibayar dan masuk tv. Ya, ampun, kata Popeye.
Di luar hujan bertambah deras. Saya tak lagi fokus pada acara televisi. Tetapi pada diskusi soal si artis. Namun belum selesai saya mengurai-nguraikan pendapat, istri saya malah memberi informasi tambahan bahwa si artis yang hamil dan melahirkan anak tanpa suami itu mendapatkan penghargaan dari salah satu lembaga, entah LSM atau apa.
“Penghargaan. Penghargaan karena apa?” saya terlonjak.
“Penghargaan karena dia tidak menggugurkan kandungannya meski itu hasil hubungan dengan orang yang bukan suaminya.”
Wah…wah, kelucuan macam apa lagi ini. Orang yang melahirkan anak tanpa jelas siapa suami atau ayah dari anak tersebut malah mendapatkan penghargaan. Sementara ada seorang istri yang melahirkan anak tetapi kemudian ditinggal oleh suaminya sehingga dia harus banting tulang peras keringat sendiri untuk membiayai anaknya, kok malah “aman-aman” saja dari penghargaan, kok malah tidak menjadi bintang tamu acara televisi, kok malah tidak dikagumi para penonton.
“Coba saya banyak uang,” kata saya pada istri, “Saya pasti akan membuat acara penganugerahan “Siti Maryam Award” kepada artis-artis Indonesia yang hamil dan melahirkan anak tanpa suami. Akan saya kemas agar acara penganugerahan itu bergengsi, mendapatkan banyak sponsor, bahkan kalau perlu harus mendapatkan restu langsung dari Allah, para nabi dan para malaikat.”
“Kenapa begitu?” tanya istri
“Ya, biar makin banyak lagi artis-artis yang bersedia dibuahi rahimnya oleh laki-laki yang itu jelas-jelas bukan suaminya. Acara itu pasti akan menghasilkan banyak keuntungan. Sebab semua rakyat Indonesia pasti menyukai dan tertarik karenanya. Soalnya mereka kan artis. Mereka mau hamil dua puluh tiga kali tanpa suami pun, masyarakat tetap akan mengidolakannya, penasaran ingin tahu kabarnya dan syukur-syukur mereka mau mengikuti perilakunya.”
Di luar, hujan sudah reda. Meninggalkan suasana dingin yang memungkinkan bagi saya berdua untuk lekas-lekas masuk kamar tidur dan melakukan sebuah upaya regenerasi sejarah.
Hmm…
Kebumen, Jum’at 19 Maret 2010.
By Salman Rusydie Anwar
Di suatu malam yang lengang dan bergerimis, saya mengisi kejenuhan dengan menonton televisi bersama istri. Saya tidak tahu apa nama acaranya. Maklum, sejak beberapa bulan ini saya berusaha untuk tidak terlalu berketergantungan pada kotak ajaib itu. Selain tidak menemukan acara yang benar-benar mendidik dan mendewasakan, saya juga merasa kerap dikecewakan oleh televisi karena hampir 90% acaranya hanyalah main-main. Saya bukan anti tv. Tapi sekadar tidak merasa terlalu butuh kepadanya.
Di dalam acara yang saya saksikan malam itu, tampak ada seorang perempuan artis yang sedang menjadi bintang tamu. Menurut host acara itu, perempuan tersebut baru saja melahirkan. Dan memang kelihatan kalau ia baru melahirkan. Badannya melar layaknya perempuan yang memang habis melahirkan.
Tetapi yang membuat saya tercenung adalah ketika istri saya mengatakan bahwa perempuan itu ternyata melahirkan tanpa jelas diketahui siapa ayahnya. Astaghfirullah. Saya mencoba menahan diri untuk tidak mengutuk, membenci dan meremehkannya walaupun godaan itu teramat besarnya di dalam hati. Lebih jelasnya, saya niatkan kata-kata istighfar itu untuk memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang sekiranya menimpa saya seandainya saya terlanjur mengutuk perempuan itu. Selebihnya, saya juga memohonkan ampunan atas perempuan itu kepada-Nya karena siapa tahu artis tersebut sedang khilaf. Entahlah.
Dengan nada berkelakar, saya katakan kepada istri bahwa artis tersebut barangkali ingin menjadi “Siti Maryam” kontemporer yang bisa hamil tanpa harus ada suaminya. Mungkin ia ingin menguji dan membuktikan kembali kekuasaan Allah bahwa Dia benar-benar berkuasa untuk membuat seseorang hamil tanpa perantara suami sekalipun.
Namun tak penting benar kelakar itu ditanggapi. Satu hal yang pasti. Saya melihat betapa si artis yang hamil tanpa suami itu kelihatan benar-benar menikmati kelahiran anaknya yang tanpa ayah. Senyumnya terus mengembang menanggapi berbagai gojekan dan pertanyaan si host acara. Jangankan penyesalan, niat untuk menyesal sepertinya tak pernah terbersit di dalam hatinya. Dia terlihat sumringah seperti perempuan pada umumnya yang habis melahirkan namun jelas siapa suaminya.
“Bagaimana sampeyan menanggapi masalah itu?” tanya istri saya tiba-tiba.
Saya tergeragap. Bukan karena saya tidak mampu memberi jawaban atas pertanyaannya. Tetapi apa perlunya saya menanggapi masalah kehamilan dan kelahiran si artis itu. Dia bukan saudara dan famili saya. Juga bukan sahabat saya. Sekalipun dia artis, dia juga bukan idola saya dan saya tak pernah merasa menyaksikan aktingnya di depan mata kepala saya sendiri. Secara sosiologis, saya merasa tidak punya tanggung jawab apa-apa terhadap semua perbuatannya. Silahkan dia mau hamil lagi dan lagi tanpa ada suami, silahkan. Bahkan silahkan saja dia mau berganti kelamin dan kemudian menghamili perempuan lain sesama artis, juga silahkan.
Artinya, saya tidak punya koneksi apa-apa dengan dia. Meskipun saya dibayar untuk menjadi idola yang ditugaskan mengelu-elukan dirinya sebagaimana yang terlihat pada penonton yang hadir di acara itu, insya Allah saya tidak akan mau. Dalam hidup ini, saya sudah memiliki idola yang setiap waktu selalu saya rindui paras wajahnya. Bahkan tiap detik saya usahakan untuk menyebut-nyebut namanya:
Ya ayyuhalmusytaaquuna ilaa ru’yati jamaalihii, shalluuu ‘alaihi wa sallimuu tasliima
Engkau yang menyimpan kerinduan untuk bertatapan wajah dengan keindahan beliau, bershalawatlah kepadanya.
Itulah idola saya dalam hidup ini. Jadi, mohon maaf, seandainya dia datang sendiri ke rumah saya dan menawarkan banyak uang dan fasilitas agar saya bersedia menjadi idola yang harus terus memujinya meski dia hamil tanpa suami, insya Allah saya akan terima uangnya dan saya berikan semua kepada beberapa anak asuh saya yang sekarang sedang mati-matian belajar menata bagaimana hidup yang benar. Selebihnya, akan saya lupakan dia.
Tetapi sesama hamba Allah, serta demi kemantapan sikap dan ilmu, saya juga merasa perlu memberi tanggapan atas pertanyaan istri saya itu. Pertama-tama yang saya kemukakan kepada istri saya adalah, kita harus segera mendoakan si artis agar ia cepat-cepat menyadari kekeliruannya. Dengan tegas saya katakan bahwa ia jelas-jelas bukan Siti Maryam dan tidak mungkin Allah mengulang mukjizatnya kepada beliau.
Bahkan Siti Maryam saja gusar, bercucuran air mata dan mengisolasi diri ketika ia diberi tahu bahwa Allah akan menganugerahkan seorang anak yang kelak akan menjadi manusia mulia, seorang Nabi, “Bagaimana mungkin saya bisa hamil, padahal saya tidak bersuami,” demikian kegusaran Siti Maryam. Lha, tapi si artis ini malah sebaliknya. Ia malah mengumbar-umbar senyumnya di depan kamera. Ia jumpa pers segala, mengabarkan bahwa ia telah melahirkan anak. Anak tanpa ayah.
Hmmm….
Kemudian yang kedua, kalau Allah menimpakan dosa berat kepada si artis karena ia telah hamil tanpa suami hingga sekaligus ia melahirkan anak tanpa ayah, maka sejatinya menurut saya, dosa itu juga berlaku bagi penonton yang hadir dalam acara itu. Sebab mereka datang dan dibayar untuk menyaksikan, menyoraki dengan penuh kegembiraan dan mengelu-elukan dengan penuh kekaguman hingga substansi kesalahan dan dosa si artis menjadi lumer dan samar-samar. Bahkan tak terlihat sama sekali, tergilas oleh nuansa hiburannya. Tetapi kita berdoa, agar mereka tidak menyangka bahwa yang dilakukan si artis adalah tindakan yang benar hanya karena mereka dibayar dan masuk tv. Ya, ampun, kata Popeye.
Di luar hujan bertambah deras. Saya tak lagi fokus pada acara televisi. Tetapi pada diskusi soal si artis. Namun belum selesai saya mengurai-nguraikan pendapat, istri saya malah memberi informasi tambahan bahwa si artis yang hamil dan melahirkan anak tanpa suami itu mendapatkan penghargaan dari salah satu lembaga, entah LSM atau apa.
“Penghargaan. Penghargaan karena apa?” saya terlonjak.
“Penghargaan karena dia tidak menggugurkan kandungannya meski itu hasil hubungan dengan orang yang bukan suaminya.”
Wah…wah, kelucuan macam apa lagi ini. Orang yang melahirkan anak tanpa jelas siapa suami atau ayah dari anak tersebut malah mendapatkan penghargaan. Sementara ada seorang istri yang melahirkan anak tetapi kemudian ditinggal oleh suaminya sehingga dia harus banting tulang peras keringat sendiri untuk membiayai anaknya, kok malah “aman-aman” saja dari penghargaan, kok malah tidak menjadi bintang tamu acara televisi, kok malah tidak dikagumi para penonton.
“Coba saya banyak uang,” kata saya pada istri, “Saya pasti akan membuat acara penganugerahan “Siti Maryam Award” kepada artis-artis Indonesia yang hamil dan melahirkan anak tanpa suami. Akan saya kemas agar acara penganugerahan itu bergengsi, mendapatkan banyak sponsor, bahkan kalau perlu harus mendapatkan restu langsung dari Allah, para nabi dan para malaikat.”
“Kenapa begitu?” tanya istri
“Ya, biar makin banyak lagi artis-artis yang bersedia dibuahi rahimnya oleh laki-laki yang itu jelas-jelas bukan suaminya. Acara itu pasti akan menghasilkan banyak keuntungan. Sebab semua rakyat Indonesia pasti menyukai dan tertarik karenanya. Soalnya mereka kan artis. Mereka mau hamil dua puluh tiga kali tanpa suami pun, masyarakat tetap akan mengidolakannya, penasaran ingin tahu kabarnya dan syukur-syukur mereka mau mengikuti perilakunya.”
Di luar, hujan sudah reda. Meninggalkan suasana dingin yang memungkinkan bagi saya berdua untuk lekas-lekas masuk kamar tidur dan melakukan sebuah upaya regenerasi sejarah.
Hmm…
Kebumen, Jum’at 19 Maret 2010.
Kamis, 11 Maret 2010
Tak Ada Receh Untuk Pengamen
Tak Ada Receh Untuk Pengamen
By: Salman Rusydie Anwar
Saya tidak tahu, di hadapan negara yang besar dan kaya raya ini -yang katanya penduduknya menganut kepercayaan kepada Tuhan, yang katanya rakyatnya berpegang teguh pada nilai-nilai adat ketimuran serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan- dimanakah letak nasib para pengamen?
Terpaksa harus saya tanyakan nasib para pengamen ini karena secara tidak sengaja saya pernah melihat tempelan selebaran di sebuah pasar yang berisi tulisan NGAMEN GRATIS, dan dipojok kanan bawahnya tertera institusi yang mengeluarkan pengumuman itu: Ttd Polsek Kebumen. Tidak hanya satu selebaran, hampir semua pertokoan, baik kecil maupun besar, di pintu-pintunya tertera tulisan semacam itu.
Saya tersenyum kecut melihat tulisan tersebut. Dan saya memiliki dua alasan penting untuk dikemukakan yang menyebabkan lahirnya tulisan ini kemudian:
Pertama, mungkin karena terlalu bangga menyebut diri sebagai bangsa yang beradab dan penuh budi pekerti halus, maka hampir di segala bidang dibentuklah eufemisme-eufemisme. Mengusir pengamen diperhalus menjadi NGAMEN GRATIS, mengobrak-abrik pedagang kaki lima dipermak menjadi PENERTIBAN, mengucilkan pengemis dari satu-satunya pekerjaan yang bisa mereka kerjakan diubah menjadi, BERBAHAYA DAN TIDAK MENDIDIK (lengkap dengan gambarnya yang biasa ditempelkan di perempatan-perempatan jalan besar).
Kedua, mungkinkah kita sekarang ini hidup di suatu era dimana egoisme hampir menjadi panglima dari setiap gerak langkah kita. Egoisme yang saya maksudkan bukan hanya mau tahu kepentingan sendiri, akan tetapi pemahamannya telah memuai menjadi semacam keyakinan kolektif bahwa yang kita miliki benar-benar milik kita sendiri.
Penganut keyakinan egoisme seperti ini barangkali memiliki prinsip bahwa, “hartaku adalah mutlak hartaku. Karena itu tak ada alasan untuk memberi sekadar uang receh kepada pengamen atau pengemis sekalipun, sebab itu berarti mengurangi jumlah hartaku.”
Saya tidak tahu, apa yang bisa kita perbuat untuk menghentikan makin kencangnya laju fenomena semacam ini. Yang jelas, semua orang di pasar itu seakan merasa aman untuk tidak memberi dan membantu orang lain. Legalisasi untuk sebuah kebakhilan yang dikeluarkan institusi negara sekaliber Polsek -dengan kata-katanya NGAMEN GRATIS-, sepertinya membantu masyarakat untuk menikmati ketidakpedulian dan keacuhannya pada kesusahan orang lain. Kalaupun benar yang mengeluarkan maklumat itu adalah Polsek, maka itu artinya institusi negara telah memancing tumbuhnya sikap tidak peduli, tidak mau membantu, tidak mau tolong menolong serta menipiskan rasa kepekaan sosial di tengah-tengah masyarakat.
Mungkin saya paham alasan Polsek mengeluarkan atau bersedia menjadi penanggung jawab atas keluarnya peringatan edaran seperti di atas. Pengamen dapat mengganggu ketentraman dan keindahan sebuah kota. Itulah satu-satunya alasan klasik yang biasa dimiliki oleh pemerintah. Bahkan mungkin alasan seperti itu juga yang diyakini para pedagang sehingga mereka bersedia tokonya ditempeli surat edaran tersebut tanpa rasa sedih sedikitpun. Akan tetapi, apa yang bisa diperbuat oleh pemerintah dan kita semua untuk menentramkan kegelisahan para pengamen atau pengemis yang setiap hari dicekam rasa takut tidak makan?
Tak ada jawaban yang pasti. Kita pun lebih memilih bungkam dan tidak mau tahu. Uang receh senilai seratus rupiah ternyata gagal kita perlakukan dengan benar. Kita gagal membaca kemungkinan bahwa dengan uang receh itu kita dapat mentransfer kasih sayang dan kepedulian antar sesama sebelum akhirnya kita mendapat transferan kasih sayang Allah, entah dengan cara dan dalam bentuk apapun.
Seorang ibu, yang sempat saya tanyakan tentang masalah pengamen dengan lantang berkata, “Para pengamen itu hanyalah orang-orang yang malas bekerja. Padahal mereka masih muda, masih gagah dan kuat.” Saya maklum jika itu alasan yang membuat ibu-ibu dan bapak-bapak di pasar itu tak mau kehilangan receh seratus rupiahnya. Dan alasan ini sebenarnya bisa saja muncul di dalam benak kita sendiri. Akan tetapi, alasan yang demikian menyiratkan satu hal penting. Bahwa ternyata kita sudah terlalu lama tidak mau belajar kejernihan sehingga yang ada hanyalah buruk sangka demi buruk sangka. Kita lebih senang melempar uang receh tetapi dengan prasangka-prasangka yang tidak karuan dari pada membiarkannya begitu saja seperti kita membuang upil. Logikanya, memberi dengan uang receh saja gerundelannya sehari semalam. Apalagi memberi sepuluh ribuan. Pasti menggerundel sepanjang tahun.
Anomali Nilai-Nilai
Sekarang kita sepakati saja bahwa NGAMEN GRATIS dan kata-kata senada lainnya merupakan potret baru dalam kebudayaan masyarakat kita. Ajaran tentang berbagi sepertinya sedang mempersiapkan diri untuk luntur. Seorang pemilik toko dengan jumlah dagangan yang sangat banyak serta dengan pemasukan yang besar memandang kedatangan pengamen dan pengemis layaknya seekor anjing liar penuh borok. Sekeping uang receh terasa seperti satu ons emas murni. Mereka genggam erat-erat sampai suara sumbang para pengamen dan pengemis lamat-lamat pudar dan mereka pergi menahan kecewa.
Lalu kepada siapakah mereka harus meminta? Pemerintah. Tidak mungkin. Sebab pemerintah tidak memiliki undang-undang untuk memberdayakan mereka. Yang dimiliki pemerintah adalah undang-undang untuk mengusir dan memberangus mereka.
Mungkin kepada pemilik toko atau kita sendiri, yang dimata pengamen atau pengemis diyakini memiliki kelebihan dan kedermawanan untuk memberi.
Rasanya kok tidak mungkin juga ya. Apalagi kita terbiasa bersikap tenang-tenang saja sebagaimana para pedagang di salah satu pasar di Kebumen itu. Intinya, kita sekarang ini sedang mengalami anomali nilai-nilai. Perlahan-lahan kita tanggalkan ajaran luhur dan kemudian kita ganti dengan ajaran baru yang kita sangka lebih luhur dari yang pernah kita miliki. Modus penggantian ajaran itu bermacam-macam. Salah satunya ya, dengan bahasa-bahasa eufemisme seperti di atas.
Maka saya merasa bangga ketika suatu hari, di sebuah perempatan jalan Jogja, saya didatangi seorang pengemis anak-anak dan saya memberinya selembar uang ribuan. Tiba-tiba, seorang lelaki pengendara motor di samping saya berkata:
“Mas, lihat peringatan itu, “katanya sambil menunjuk pada sebuah gambar yang berisi larangan memberi dengan alasan “tidak mendidik”.
Saya menjawab dengan pelan, “Kalau mas menganggap perbuatan saya tidak mendidik, sebaiknya bawa anak ini ke rumah mas dan didiklah dia dengan benar. Tetapi kalau mas tidak mau mendidiknya, mas salah besar. Sebab sudah tidak mau mendidik, mas tidak mau memberi pula.”
Lampu hijau akhirnya menyala. Dan para pengendara berebutan untuk saling mendahului. Termasuk lelaki itu tadi. Saya tidak tahu, apakah ia marah atau memang sedang buru-buru.
By: Salman Rusydie Anwar
Saya tidak tahu, di hadapan negara yang besar dan kaya raya ini -yang katanya penduduknya menganut kepercayaan kepada Tuhan, yang katanya rakyatnya berpegang teguh pada nilai-nilai adat ketimuran serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan- dimanakah letak nasib para pengamen?
Terpaksa harus saya tanyakan nasib para pengamen ini karena secara tidak sengaja saya pernah melihat tempelan selebaran di sebuah pasar yang berisi tulisan NGAMEN GRATIS, dan dipojok kanan bawahnya tertera institusi yang mengeluarkan pengumuman itu: Ttd Polsek Kebumen. Tidak hanya satu selebaran, hampir semua pertokoan, baik kecil maupun besar, di pintu-pintunya tertera tulisan semacam itu.
Saya tersenyum kecut melihat tulisan tersebut. Dan saya memiliki dua alasan penting untuk dikemukakan yang menyebabkan lahirnya tulisan ini kemudian:
Pertama, mungkin karena terlalu bangga menyebut diri sebagai bangsa yang beradab dan penuh budi pekerti halus, maka hampir di segala bidang dibentuklah eufemisme-eufemisme. Mengusir pengamen diperhalus menjadi NGAMEN GRATIS, mengobrak-abrik pedagang kaki lima dipermak menjadi PENERTIBAN, mengucilkan pengemis dari satu-satunya pekerjaan yang bisa mereka kerjakan diubah menjadi, BERBAHAYA DAN TIDAK MENDIDIK (lengkap dengan gambarnya yang biasa ditempelkan di perempatan-perempatan jalan besar).
Kedua, mungkinkah kita sekarang ini hidup di suatu era dimana egoisme hampir menjadi panglima dari setiap gerak langkah kita. Egoisme yang saya maksudkan bukan hanya mau tahu kepentingan sendiri, akan tetapi pemahamannya telah memuai menjadi semacam keyakinan kolektif bahwa yang kita miliki benar-benar milik kita sendiri.
Penganut keyakinan egoisme seperti ini barangkali memiliki prinsip bahwa, “hartaku adalah mutlak hartaku. Karena itu tak ada alasan untuk memberi sekadar uang receh kepada pengamen atau pengemis sekalipun, sebab itu berarti mengurangi jumlah hartaku.”
Saya tidak tahu, apa yang bisa kita perbuat untuk menghentikan makin kencangnya laju fenomena semacam ini. Yang jelas, semua orang di pasar itu seakan merasa aman untuk tidak memberi dan membantu orang lain. Legalisasi untuk sebuah kebakhilan yang dikeluarkan institusi negara sekaliber Polsek -dengan kata-katanya NGAMEN GRATIS-, sepertinya membantu masyarakat untuk menikmati ketidakpedulian dan keacuhannya pada kesusahan orang lain. Kalaupun benar yang mengeluarkan maklumat itu adalah Polsek, maka itu artinya institusi negara telah memancing tumbuhnya sikap tidak peduli, tidak mau membantu, tidak mau tolong menolong serta menipiskan rasa kepekaan sosial di tengah-tengah masyarakat.
Mungkin saya paham alasan Polsek mengeluarkan atau bersedia menjadi penanggung jawab atas keluarnya peringatan edaran seperti di atas. Pengamen dapat mengganggu ketentraman dan keindahan sebuah kota. Itulah satu-satunya alasan klasik yang biasa dimiliki oleh pemerintah. Bahkan mungkin alasan seperti itu juga yang diyakini para pedagang sehingga mereka bersedia tokonya ditempeli surat edaran tersebut tanpa rasa sedih sedikitpun. Akan tetapi, apa yang bisa diperbuat oleh pemerintah dan kita semua untuk menentramkan kegelisahan para pengamen atau pengemis yang setiap hari dicekam rasa takut tidak makan?
Tak ada jawaban yang pasti. Kita pun lebih memilih bungkam dan tidak mau tahu. Uang receh senilai seratus rupiah ternyata gagal kita perlakukan dengan benar. Kita gagal membaca kemungkinan bahwa dengan uang receh itu kita dapat mentransfer kasih sayang dan kepedulian antar sesama sebelum akhirnya kita mendapat transferan kasih sayang Allah, entah dengan cara dan dalam bentuk apapun.
Seorang ibu, yang sempat saya tanyakan tentang masalah pengamen dengan lantang berkata, “Para pengamen itu hanyalah orang-orang yang malas bekerja. Padahal mereka masih muda, masih gagah dan kuat.” Saya maklum jika itu alasan yang membuat ibu-ibu dan bapak-bapak di pasar itu tak mau kehilangan receh seratus rupiahnya. Dan alasan ini sebenarnya bisa saja muncul di dalam benak kita sendiri. Akan tetapi, alasan yang demikian menyiratkan satu hal penting. Bahwa ternyata kita sudah terlalu lama tidak mau belajar kejernihan sehingga yang ada hanyalah buruk sangka demi buruk sangka. Kita lebih senang melempar uang receh tetapi dengan prasangka-prasangka yang tidak karuan dari pada membiarkannya begitu saja seperti kita membuang upil. Logikanya, memberi dengan uang receh saja gerundelannya sehari semalam. Apalagi memberi sepuluh ribuan. Pasti menggerundel sepanjang tahun.
Anomali Nilai-Nilai
Sekarang kita sepakati saja bahwa NGAMEN GRATIS dan kata-kata senada lainnya merupakan potret baru dalam kebudayaan masyarakat kita. Ajaran tentang berbagi sepertinya sedang mempersiapkan diri untuk luntur. Seorang pemilik toko dengan jumlah dagangan yang sangat banyak serta dengan pemasukan yang besar memandang kedatangan pengamen dan pengemis layaknya seekor anjing liar penuh borok. Sekeping uang receh terasa seperti satu ons emas murni. Mereka genggam erat-erat sampai suara sumbang para pengamen dan pengemis lamat-lamat pudar dan mereka pergi menahan kecewa.
Lalu kepada siapakah mereka harus meminta? Pemerintah. Tidak mungkin. Sebab pemerintah tidak memiliki undang-undang untuk memberdayakan mereka. Yang dimiliki pemerintah adalah undang-undang untuk mengusir dan memberangus mereka.
Mungkin kepada pemilik toko atau kita sendiri, yang dimata pengamen atau pengemis diyakini memiliki kelebihan dan kedermawanan untuk memberi.
Rasanya kok tidak mungkin juga ya. Apalagi kita terbiasa bersikap tenang-tenang saja sebagaimana para pedagang di salah satu pasar di Kebumen itu. Intinya, kita sekarang ini sedang mengalami anomali nilai-nilai. Perlahan-lahan kita tanggalkan ajaran luhur dan kemudian kita ganti dengan ajaran baru yang kita sangka lebih luhur dari yang pernah kita miliki. Modus penggantian ajaran itu bermacam-macam. Salah satunya ya, dengan bahasa-bahasa eufemisme seperti di atas.
Maka saya merasa bangga ketika suatu hari, di sebuah perempatan jalan Jogja, saya didatangi seorang pengemis anak-anak dan saya memberinya selembar uang ribuan. Tiba-tiba, seorang lelaki pengendara motor di samping saya berkata:
“Mas, lihat peringatan itu, “katanya sambil menunjuk pada sebuah gambar yang berisi larangan memberi dengan alasan “tidak mendidik”.
Saya menjawab dengan pelan, “Kalau mas menganggap perbuatan saya tidak mendidik, sebaiknya bawa anak ini ke rumah mas dan didiklah dia dengan benar. Tetapi kalau mas tidak mau mendidiknya, mas salah besar. Sebab sudah tidak mau mendidik, mas tidak mau memberi pula.”
Lampu hijau akhirnya menyala. Dan para pengendara berebutan untuk saling mendahului. Termasuk lelaki itu tadi. Saya tidak tahu, apakah ia marah atau memang sedang buru-buru.
Selasa, 23 Februari 2010
“Menyalakan Cahaya Peradaban Muhammad”
“Menyalakan Cahaya Peradaban Muhammad”
Oleh Salman Rusydie Anwar*
Hampir tidak pernah ada kata bahasa yang cukup untuk menjelaskan secara akademik perihal Nabi Agung Muhammad SAW, yang pada tanggal 26 Februari ini akan kita peringati kembali kelahirannya. Hal ini tentu saja bukan apologi semata. Sebab sejarah sudah sedemikian banyak melahirkan berbagai kajian tentang beliau, dan hal itu seakan tak pernah menemukan kata selesai, entah sampai kapan.
Bagi kita umat Islam, posisi Nabi Muhammad bukan saja sebagai sosok yang telah berusaha dan berhasil mengarahkan kita pada jalan hidup yang seharusnya kita jalani. Namun yang paling penting dari semuanya adalah kebersediaan beliau untuk melakukan negosiasi ruhani, serta tawar menawar dengan Allah kelak di akhirat mengenai kejelasan nasib kita dihadapan pengadilan-Nya Yang Maha Adil.
Maka tak ada yang sia-sia bagi kita yang hendak kembali menghayati hari kelahiran beliau sekarang ini. Di tengah geriungnya konstelasi hidup yang dari hari ke hari senantiasa mencipta harapan dan kecemasan, kearifan yang terpancar dari dalam dirinya memang layak dirindukan. Setidaknya hal itu dapat kembali mengingatkan bahwa beliau ada memang untuk kita.
Di dalam kosmologi hari maulid yang begitu mendebarkan, miliaran mulut senantiasa menyebut-nyebut nama beliau. Dendang dan puja-puji senantiasa merebak dari satu daerah ke daerah lain, dari satu wilayah ke wilayah lain bahkan dari satu negara ke negara lain. Semuanya mengeluarkan satu suara yang sama, yaitu pekik kerinduan dan rasa cinta yang mendalam. Meski demikian, tentu harus tetap ada satu obsesi yang perlu terus digali dan menjadi prioritas utama dari semua “selebrasi” yang kita lakukan selama ini mengenai maulid.
Tata Nilai Profetik
Secara mendasar, kelahiran Nabi Muhammad memiliki orientasi kemanusia yang cukup jelas. Di awal-awal kelahiran dan pengangkatannya sebagai Nabi dan Rasul, ia dengan gamblang mengatakan bahwa posisi dan fungsi kehadirannya di dunia ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak:
“Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak.”
Akhlak adalah cara atau tekhnik manusia dalam menjalani kehidupannya. Dan benar tidaknya cara yang dilakukan itu tidak bergantung kepada persepsi-persepsi sempit manusia, melainkan harus didasarkan kepada wahyu Tuhan, baik yang tersurat dalam firman-Nya maupun yang tersirat di dalam banyak segi kehidupan ini.
Sementara Nabi Muhammad sendiri adalah pelaku utama dari cara atau tekhnik yang harus dilakukan untuk menjadi manusia yang benar. Ia cermin atau dalam bahasa Al-Qur’annya uswah hasanah, cermin yang baik, yang dapat menampilkan banyak kebenaran sehingga siapa saja dapat menoleh kearahnya untuk menemukan kebenaran itu sendiri.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, akhlak itu memiliki banyak segi yang tidak terbatas jumlahnya. Akhlak bukan hanya kepatutan seorang anak kepada orang tuanya, murid kepada gurunya dan seorang tetangga kepada tetangganya. Namun akhlak itu sendiri sebenarnya menyatu dengan semua sisi kehidupan umat manusia apa pun saja profesi yang dilakukannya.
Seorang petani disebut petani yang berakhlak manakala ia setia menjalankan kegiatannya dengan benar. Ia tidak memberikan racun kepada tanaman dan tanah yang digarapnya, melainkan yang ia berikan adalah benar-benar pupuk yang sesuai kadar ukurannya. Belum lagi kalau kita berbicara hasilnya yang dia gunakan untuk mencukupi kebutuhan semua anggota keluarganya dan sebagian lagi untuk membantu orang lain.
Apalagi bagi seorang pejabat. Seorang pejabat disebut berakhlak manakala ia sanggup menjalankan fungsi jabatannya dengan benar. Jika jabatan yang didudukinya berhubungan dengan bagaimana mengatur kesejahteraan rakyat, maka fungsi jabatan itu benar-benar dia jalankan sebagaimana seharusnya. Tidak ada korupsi, penyelewengan dan distribusi ketidakadilan karena semua tindakan itu adalah tindakan yang menyalahi akhlak dan menyalahi kemanusiaan itu sendiri.
Bahkan akhlak itu adalah apabila Anda menyingkirkan duri dari tengah-tengah jalan yang dapat mencelakakan orang lain jika duri itu tidak Anda singkirkan. Sedemikian luasnya makna dan cakupan akhlak itu sehingga siapapun saja sebenarnya tidak dapat terlepas dari tuntutan untuk senantiasa berakhlak. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi kita sebenarnya sudah dihadang oleh keharusan berakhlak dan itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad memberikan tekanan begitu rupa pada fungsi kehadirannya, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”
Memperingati kelahiran Nabi Muhammad atau lazim disebut Maulid Nabi, sesungguhnya merupakan upaya untuk ‘merepresentasikan kembali’ ajaran akhlak yang beliau tanamkan. Saya tekankan sebagai upaya merepresentasikan kembali karena sesungguhnya sudah banyak perilaku kehidupan kita selama ini yang bukan saja tidak mencerminkan perilaku berakhlak, melainkan sudah mencipta “akhlak-akhlak” baru yang sayangnya disangka benar dan sejati.
Arus globalisasi, modernisasi dan informasi yang diterima tidak sebagai bagian dari perkembangan budaya, namun sebagai ajaran keyakinan dan kepercayaan yang harus diikuti telah ikut andil dalam mencipta lahirnya akhlak-akhlak baru itu. Fenomena ini terasa sekali di kalangan remaja dan anak muda kita. Contoh: selama ini mereka telah dipaksa oleh arus informasi untuk mengagumi dan mengidolakan artis melebihi kekaguman mereka kepada Nabi Muhammad, orang tua, dan guru-guru mereka. Dan sayangnya, mereka tidak bisa tidak untuk mengamini itu semua. Mereka khawatir disebut manusia yang tidak modern dan ketinggalan kereta globalisasi. Akhlak bagi mereka adalah hiburan dan euforia itu sendiri, dimana kemungkinan bagi terjadinya perubahan dan pemberdayaan dalam semua aspek kehidupan mereka perlu sekali dicemaskan.
Dalam kancah perpolitikan pun terjadi hal-hal serupa. Prinsip demokrasi liberal telah dipahami sebagai suatu kebenaran absolut yang berada jauh di atas nilai-nilai akhlak yang sejati. Demokrasi liberal telah menjadi semacam agama dan akhlak baru yang harus diyakini dan diikuti. Sehingga ukuran bagi keberhasilan sebuah era pemerintahan kerap dilihat dari seberapa vokal dan berapi-apinya elit pejabat pada saat mengadakan rapat-rapat, bukan pada ketenangan hati dan keistiqamahan sikap dalam menyikapi suatu masalah.
Memang telah ribuan kali kita memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. Namun pengaruh terutusnya beliau untuk menyempurnakan akhlak dalam kehidupan dan perilaku kita rasanya masih perlu dikoreksi dan diperbaiki. Dan pada Maulid kali ini, sungguh kita tidak ingin mengulang kesalahan serupa agar cahaya peradaban akhlak dapat kembali memancar di segala lini kehidupan kita yang masih gelap dan remang-remang.
Oleh Salman Rusydie Anwar*
Hampir tidak pernah ada kata bahasa yang cukup untuk menjelaskan secara akademik perihal Nabi Agung Muhammad SAW, yang pada tanggal 26 Februari ini akan kita peringati kembali kelahirannya. Hal ini tentu saja bukan apologi semata. Sebab sejarah sudah sedemikian banyak melahirkan berbagai kajian tentang beliau, dan hal itu seakan tak pernah menemukan kata selesai, entah sampai kapan.
Bagi kita umat Islam, posisi Nabi Muhammad bukan saja sebagai sosok yang telah berusaha dan berhasil mengarahkan kita pada jalan hidup yang seharusnya kita jalani. Namun yang paling penting dari semuanya adalah kebersediaan beliau untuk melakukan negosiasi ruhani, serta tawar menawar dengan Allah kelak di akhirat mengenai kejelasan nasib kita dihadapan pengadilan-Nya Yang Maha Adil.
Maka tak ada yang sia-sia bagi kita yang hendak kembali menghayati hari kelahiran beliau sekarang ini. Di tengah geriungnya konstelasi hidup yang dari hari ke hari senantiasa mencipta harapan dan kecemasan, kearifan yang terpancar dari dalam dirinya memang layak dirindukan. Setidaknya hal itu dapat kembali mengingatkan bahwa beliau ada memang untuk kita.
Di dalam kosmologi hari maulid yang begitu mendebarkan, miliaran mulut senantiasa menyebut-nyebut nama beliau. Dendang dan puja-puji senantiasa merebak dari satu daerah ke daerah lain, dari satu wilayah ke wilayah lain bahkan dari satu negara ke negara lain. Semuanya mengeluarkan satu suara yang sama, yaitu pekik kerinduan dan rasa cinta yang mendalam. Meski demikian, tentu harus tetap ada satu obsesi yang perlu terus digali dan menjadi prioritas utama dari semua “selebrasi” yang kita lakukan selama ini mengenai maulid.
Tata Nilai Profetik
Secara mendasar, kelahiran Nabi Muhammad memiliki orientasi kemanusia yang cukup jelas. Di awal-awal kelahiran dan pengangkatannya sebagai Nabi dan Rasul, ia dengan gamblang mengatakan bahwa posisi dan fungsi kehadirannya di dunia ini tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak:
“Aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak.”
Akhlak adalah cara atau tekhnik manusia dalam menjalani kehidupannya. Dan benar tidaknya cara yang dilakukan itu tidak bergantung kepada persepsi-persepsi sempit manusia, melainkan harus didasarkan kepada wahyu Tuhan, baik yang tersurat dalam firman-Nya maupun yang tersirat di dalam banyak segi kehidupan ini.
Sementara Nabi Muhammad sendiri adalah pelaku utama dari cara atau tekhnik yang harus dilakukan untuk menjadi manusia yang benar. Ia cermin atau dalam bahasa Al-Qur’annya uswah hasanah, cermin yang baik, yang dapat menampilkan banyak kebenaran sehingga siapa saja dapat menoleh kearahnya untuk menemukan kebenaran itu sendiri.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, akhlak itu memiliki banyak segi yang tidak terbatas jumlahnya. Akhlak bukan hanya kepatutan seorang anak kepada orang tuanya, murid kepada gurunya dan seorang tetangga kepada tetangganya. Namun akhlak itu sendiri sebenarnya menyatu dengan semua sisi kehidupan umat manusia apa pun saja profesi yang dilakukannya.
Seorang petani disebut petani yang berakhlak manakala ia setia menjalankan kegiatannya dengan benar. Ia tidak memberikan racun kepada tanaman dan tanah yang digarapnya, melainkan yang ia berikan adalah benar-benar pupuk yang sesuai kadar ukurannya. Belum lagi kalau kita berbicara hasilnya yang dia gunakan untuk mencukupi kebutuhan semua anggota keluarganya dan sebagian lagi untuk membantu orang lain.
Apalagi bagi seorang pejabat. Seorang pejabat disebut berakhlak manakala ia sanggup menjalankan fungsi jabatannya dengan benar. Jika jabatan yang didudukinya berhubungan dengan bagaimana mengatur kesejahteraan rakyat, maka fungsi jabatan itu benar-benar dia jalankan sebagaimana seharusnya. Tidak ada korupsi, penyelewengan dan distribusi ketidakadilan karena semua tindakan itu adalah tindakan yang menyalahi akhlak dan menyalahi kemanusiaan itu sendiri.
Bahkan akhlak itu adalah apabila Anda menyingkirkan duri dari tengah-tengah jalan yang dapat mencelakakan orang lain jika duri itu tidak Anda singkirkan. Sedemikian luasnya makna dan cakupan akhlak itu sehingga siapapun saja sebenarnya tidak dapat terlepas dari tuntutan untuk senantiasa berakhlak. Sejak bangun tidur hingga tidur lagi kita sebenarnya sudah dihadang oleh keharusan berakhlak dan itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad memberikan tekanan begitu rupa pada fungsi kehadirannya, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”
Memperingati kelahiran Nabi Muhammad atau lazim disebut Maulid Nabi, sesungguhnya merupakan upaya untuk ‘merepresentasikan kembali’ ajaran akhlak yang beliau tanamkan. Saya tekankan sebagai upaya merepresentasikan kembali karena sesungguhnya sudah banyak perilaku kehidupan kita selama ini yang bukan saja tidak mencerminkan perilaku berakhlak, melainkan sudah mencipta “akhlak-akhlak” baru yang sayangnya disangka benar dan sejati.
Arus globalisasi, modernisasi dan informasi yang diterima tidak sebagai bagian dari perkembangan budaya, namun sebagai ajaran keyakinan dan kepercayaan yang harus diikuti telah ikut andil dalam mencipta lahirnya akhlak-akhlak baru itu. Fenomena ini terasa sekali di kalangan remaja dan anak muda kita. Contoh: selama ini mereka telah dipaksa oleh arus informasi untuk mengagumi dan mengidolakan artis melebihi kekaguman mereka kepada Nabi Muhammad, orang tua, dan guru-guru mereka. Dan sayangnya, mereka tidak bisa tidak untuk mengamini itu semua. Mereka khawatir disebut manusia yang tidak modern dan ketinggalan kereta globalisasi. Akhlak bagi mereka adalah hiburan dan euforia itu sendiri, dimana kemungkinan bagi terjadinya perubahan dan pemberdayaan dalam semua aspek kehidupan mereka perlu sekali dicemaskan.
Dalam kancah perpolitikan pun terjadi hal-hal serupa. Prinsip demokrasi liberal telah dipahami sebagai suatu kebenaran absolut yang berada jauh di atas nilai-nilai akhlak yang sejati. Demokrasi liberal telah menjadi semacam agama dan akhlak baru yang harus diyakini dan diikuti. Sehingga ukuran bagi keberhasilan sebuah era pemerintahan kerap dilihat dari seberapa vokal dan berapi-apinya elit pejabat pada saat mengadakan rapat-rapat, bukan pada ketenangan hati dan keistiqamahan sikap dalam menyikapi suatu masalah.
Memang telah ribuan kali kita memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. Namun pengaruh terutusnya beliau untuk menyempurnakan akhlak dalam kehidupan dan perilaku kita rasanya masih perlu dikoreksi dan diperbaiki. Dan pada Maulid kali ini, sungguh kita tidak ingin mengulang kesalahan serupa agar cahaya peradaban akhlak dapat kembali memancar di segala lini kehidupan kita yang masih gelap dan remang-remang.
Namrud dan Matahari Ibrahim
Namrud dan Matahari Ibrahim
Oleh Salman Rusydie Anwar*
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan." Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Kalau Anda perhatikan, perdebatan Ibrahim dengan Raja Namrud waktu itu ternyata bukan sekadar perdebatan teologis yang pada akhirnya mengantarkan Ibrahim menang telak atas Raja Babilonia itu.
Namun saya kira, perdebatan itu mengandung teka-teki tertentu berkenaan dengan bagaimana masa depan ilmu teologi dan ilmu kemanusiaan itu sendiri.
Jelasnya begini: kalau Raja Namrud mengatakan bahwa ia merasa mampu “menentukan” mati tidaknya seseorang, maka hal itu konteksnya adalah kemanusiaan. Artinya, dengan kekuasaannya, Raja Namrud memang memungkinkan untuk menentukan hidup matinya nasib kemanusiaan rakyatnya sendiri yang hal itu tentu saja dapat diwujudkan melalui sistem pemerintahan yang ia kembangkan.
Jika sistem pemerintahan yang ia terapkan adalah sistem kekuasaan yang otoriter, tiran, tidak memperdulikan keadilan, sewenang-wenang, korup dan cenderung menindas, maka matilah nasib kedaulatan negaranya dan mampuslah sisi kemanusiaan rakyatnya. Dan sistem semacam ini ternyata tidak hanya berlaku pada Raja Namrud. Siapa pun saja di dunia ini, yang memerintah dengan cara-cara ala Raja Namrud, maka ia dengan sendirinya adalah Namrud-Namrud baru yang dapat “menentukan” hidup matinya rakyat manusia.
Saya menduga bahwa waktu itu Nabi Ibrahim menyadari kalau dalam aspek kemanusiaan Raja Namrud memang bisa menentukan hidup matinya seseorang dari kalangan rakyatnya sendiri. Dan itulah sebabnya kenapa ia tidak mendebat lebih jauh tentang masalah ini. Tidak mendebatnya Nabi Ibrahim mungkin juga menunjukkan sebuah kemungkinan bahwa pemerintahan ala Namrud akan kembali terjadi pada masa-masa selanjutnya. Dan kita pun pernah merasakan aroma pemerintahan ala Namrud macam itu. Bahkan tidak sedikit negara yang menganut sistem pemerintahan ala Namrud saat ini.
Akan tetapi bagaimana dengan konteks teologi dimana kesombongan Namrud pada akhirnya takluk pada perintah Ibrahim agar dia menerbitkan matahari dari sebelah Barat, tidak seperti biasanya yang terbit dari sebelah Timur? Saya menduga bahwa pada akhirnya matahari itu memang akan selalu terbit dari sebelah timur. Dan jika ia terbit dari sebelah barat, maka kiamatlah itu namanya.
Sekarang saya ingin mengajak Anda untuk berbicara matahari dalam konteks yang lebih simbolistik. Dalam tradisi sufi dan spiritualisme Islam, matahari itu adalah perlambang atau simbol dari sifat Tuhan. Sifat dan karakter matahari adalah membangunkan, yaitu membangun kehidupan untuk dijalankan kembali oleh manusia. Terbitnya matahari dengan sendirinya adalah pertanda dari bangunnya kehidupan setelah mengalami ketertiduran sebelumnya.
Selain itu, sifat matahari yang lain adalah menerangi. Kehidupan tidak akan berjalan dengan benar apabila tidak ada pencahayaan yang berasal dari matahari, sehingga menjadi jelaslah jalan-jalan mana yang harus ditempuh. Dengan matahari, Anda dapat mengenali dengan lebih jelas jurang yang ada di depan Anda, mana yang duri dan mana yang bukan. Lebih jelasnya, matahari dapat menuntun Anda pada jalan mana yang harus Anda lalui.
Lalau kalau kemudian ada istilah peradaban Timur, maka itu sebenarnya adalah peradaban matahari, atau peradaban yang dibangun di atas kesadaran yang utuh pada Tuhan serta sekaligus peradaban yang dijalankan di bawah pencahayaan matahari atau nilai-nilai ketuhanan itu sendiri.
Pertanyaannya kemudian; apakah yang dimaksud peradaban Timur itu adalah peradaban yang muncul dari wilayah-wilayah yang secara geografis ada di bagian Timur?
Terus terang saya tidak begitu setuju dengan konsep ini. Memang, konsep pembagian peradaban itu memang dibagi menjadi dua bagian. Ada peradaban Timur yang diwakili oleh negara-negara Asia dan semacamnya dan ada peradaban Barat yang identik dengan negara-negara Eropa. Akan tetapi peradaban Timut itu menurut saya hanyalah sebuah idealisme, cita-cita, nilai-nilai dan bukan pemetaan dikotomis geografis macam itu. Sebab Allah sudah menegaskan bahwa kepunyaan Allahlah barat dan timur itu. Sehingga kemana saja engkau menghadap, kalau ia ditujukan kepada “wajah Allah”, maka engkau akan selamat dan mendapat pahala kebenaran.
Sebagai sebuah idealisme, maka peradaban Timur itu sebenarnya dapat dikembangkan dimana saja. Anda boleh saja hidup di benua Amerika, tetapi jika peradaban yang Anda bangun adalah peradaban matahari atau peradaban yang menumbuhkan, membangunkan dan peradaban yang dijalankan di bawah cahaya ketuhanan, maka Anda berhak disebut sebagai pemeluk peradaban Timur.
Sekali lagi ingin saya tegaskan bahwa apa yang saya kemukakan dari awal adalah menafsir-nafsirkan, jadi bukan tafsir, dan juga hanya sebagai upaya untuk melakukan tajribah. Benar-benar tidaknya segala yang sudah saya katakan, tentu harus dikembalikan pada pengkajian dan penelitian yang lebih serius lagi. Dan disitulah letak tanggung jawab kita sebenarnya.
Kita perlu melakukan pengkajian dan pembelajaran dengan penuh tanggung jawab atas segala sesuatu yang sudah difirmankan oleh Allah. Secara historis, kisah Ibrahim dalam ayat di atas memang berbicara tentang perlawanan beliau atas arogansi dan hegemoni Namrud. Tetapi secara pesan keilmuan dan substansi petunjuknya, kisah itu juga mendorong kita untuk lebih jeli melihat peluang-peluang yang dapat kita masuki untuk menerbitkan cahaya matahari ketuhanan, agar peradaban Namrud dapat diperbaiki. Syukur-syukur dapat dihilangkan, sehingga nasib kemanusiaan tidak mengalami kematian demi kematian.
Kebumen 22 February 2010.
Oleh Salman Rusydie Anwar*
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan." Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Kalau Anda perhatikan, perdebatan Ibrahim dengan Raja Namrud waktu itu ternyata bukan sekadar perdebatan teologis yang pada akhirnya mengantarkan Ibrahim menang telak atas Raja Babilonia itu.
Namun saya kira, perdebatan itu mengandung teka-teki tertentu berkenaan dengan bagaimana masa depan ilmu teologi dan ilmu kemanusiaan itu sendiri.
Jelasnya begini: kalau Raja Namrud mengatakan bahwa ia merasa mampu “menentukan” mati tidaknya seseorang, maka hal itu konteksnya adalah kemanusiaan. Artinya, dengan kekuasaannya, Raja Namrud memang memungkinkan untuk menentukan hidup matinya nasib kemanusiaan rakyatnya sendiri yang hal itu tentu saja dapat diwujudkan melalui sistem pemerintahan yang ia kembangkan.
Jika sistem pemerintahan yang ia terapkan adalah sistem kekuasaan yang otoriter, tiran, tidak memperdulikan keadilan, sewenang-wenang, korup dan cenderung menindas, maka matilah nasib kedaulatan negaranya dan mampuslah sisi kemanusiaan rakyatnya. Dan sistem semacam ini ternyata tidak hanya berlaku pada Raja Namrud. Siapa pun saja di dunia ini, yang memerintah dengan cara-cara ala Raja Namrud, maka ia dengan sendirinya adalah Namrud-Namrud baru yang dapat “menentukan” hidup matinya rakyat manusia.
Saya menduga bahwa waktu itu Nabi Ibrahim menyadari kalau dalam aspek kemanusiaan Raja Namrud memang bisa menentukan hidup matinya seseorang dari kalangan rakyatnya sendiri. Dan itulah sebabnya kenapa ia tidak mendebat lebih jauh tentang masalah ini. Tidak mendebatnya Nabi Ibrahim mungkin juga menunjukkan sebuah kemungkinan bahwa pemerintahan ala Namrud akan kembali terjadi pada masa-masa selanjutnya. Dan kita pun pernah merasakan aroma pemerintahan ala Namrud macam itu. Bahkan tidak sedikit negara yang menganut sistem pemerintahan ala Namrud saat ini.
Akan tetapi bagaimana dengan konteks teologi dimana kesombongan Namrud pada akhirnya takluk pada perintah Ibrahim agar dia menerbitkan matahari dari sebelah Barat, tidak seperti biasanya yang terbit dari sebelah Timur? Saya menduga bahwa pada akhirnya matahari itu memang akan selalu terbit dari sebelah timur. Dan jika ia terbit dari sebelah barat, maka kiamatlah itu namanya.
Sekarang saya ingin mengajak Anda untuk berbicara matahari dalam konteks yang lebih simbolistik. Dalam tradisi sufi dan spiritualisme Islam, matahari itu adalah perlambang atau simbol dari sifat Tuhan. Sifat dan karakter matahari adalah membangunkan, yaitu membangun kehidupan untuk dijalankan kembali oleh manusia. Terbitnya matahari dengan sendirinya adalah pertanda dari bangunnya kehidupan setelah mengalami ketertiduran sebelumnya.
Selain itu, sifat matahari yang lain adalah menerangi. Kehidupan tidak akan berjalan dengan benar apabila tidak ada pencahayaan yang berasal dari matahari, sehingga menjadi jelaslah jalan-jalan mana yang harus ditempuh. Dengan matahari, Anda dapat mengenali dengan lebih jelas jurang yang ada di depan Anda, mana yang duri dan mana yang bukan. Lebih jelasnya, matahari dapat menuntun Anda pada jalan mana yang harus Anda lalui.
Lalau kalau kemudian ada istilah peradaban Timur, maka itu sebenarnya adalah peradaban matahari, atau peradaban yang dibangun di atas kesadaran yang utuh pada Tuhan serta sekaligus peradaban yang dijalankan di bawah pencahayaan matahari atau nilai-nilai ketuhanan itu sendiri.
Pertanyaannya kemudian; apakah yang dimaksud peradaban Timur itu adalah peradaban yang muncul dari wilayah-wilayah yang secara geografis ada di bagian Timur?
Terus terang saya tidak begitu setuju dengan konsep ini. Memang, konsep pembagian peradaban itu memang dibagi menjadi dua bagian. Ada peradaban Timur yang diwakili oleh negara-negara Asia dan semacamnya dan ada peradaban Barat yang identik dengan negara-negara Eropa. Akan tetapi peradaban Timut itu menurut saya hanyalah sebuah idealisme, cita-cita, nilai-nilai dan bukan pemetaan dikotomis geografis macam itu. Sebab Allah sudah menegaskan bahwa kepunyaan Allahlah barat dan timur itu. Sehingga kemana saja engkau menghadap, kalau ia ditujukan kepada “wajah Allah”, maka engkau akan selamat dan mendapat pahala kebenaran.
Sebagai sebuah idealisme, maka peradaban Timur itu sebenarnya dapat dikembangkan dimana saja. Anda boleh saja hidup di benua Amerika, tetapi jika peradaban yang Anda bangun adalah peradaban matahari atau peradaban yang menumbuhkan, membangunkan dan peradaban yang dijalankan di bawah cahaya ketuhanan, maka Anda berhak disebut sebagai pemeluk peradaban Timur.
Sekali lagi ingin saya tegaskan bahwa apa yang saya kemukakan dari awal adalah menafsir-nafsirkan, jadi bukan tafsir, dan juga hanya sebagai upaya untuk melakukan tajribah. Benar-benar tidaknya segala yang sudah saya katakan, tentu harus dikembalikan pada pengkajian dan penelitian yang lebih serius lagi. Dan disitulah letak tanggung jawab kita sebenarnya.
Kita perlu melakukan pengkajian dan pembelajaran dengan penuh tanggung jawab atas segala sesuatu yang sudah difirmankan oleh Allah. Secara historis, kisah Ibrahim dalam ayat di atas memang berbicara tentang perlawanan beliau atas arogansi dan hegemoni Namrud. Tetapi secara pesan keilmuan dan substansi petunjuknya, kisah itu juga mendorong kita untuk lebih jeli melihat peluang-peluang yang dapat kita masuki untuk menerbitkan cahaya matahari ketuhanan, agar peradaban Namrud dapat diperbaiki. Syukur-syukur dapat dihilangkan, sehingga nasib kemanusiaan tidak mengalami kematian demi kematian.
Kebumen 22 February 2010.
Senin, 08 Februari 2010
Kitalah Mandataris Tuhan Itu!
Kitalah Mandataris Tuhan Itu!
Salman Rusydie Anwar
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka (para malaikat) berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan? Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah: 30-34)”
Sesungguhnya, peristiwa sujudnya Malaikat kepada Adam yang manusia merupakan peristiwa amat dahsyat dalam sejarah manusia itu sendiri. Kita tahu, betapa Malaikat adalah satu-satunya makhluk yang tidak memiliki pilihan lain kecuali hanya taat kepada Allah SWT. Malaikat diciptakan oleh Allah dengan potensi ketaatan yang luar biasa sehingga tak satupun perilakunya yang menyimpang atau melanggar dari apa yang sudah diperintahkan oleh Allah kepada mereka.
Mengingat ketaatannya kepada Allah mengalahkan makhluk yang lain, maka tidak heran jika pada saat Allah memberi tahu mereka untuk menciptakan khalifah, lantas mereka beramai-ramai datang ‘mendemo’ dan mengajukan gugatan kepada-Nya:
“Mengapa. Mengapa harus Kau buat makhluk lain di bumi itu yang kerjaannya hanyalah merusak dan saling tawur? Tak cukupkah ketaatan yang kuberikan selama ini? Tak memadaikah penyucianku kepada-Mu selama ini sehingga Engkau berencana membuat makhluk lain selain aku?” begitulah kira-kira protes para Malaikat itu.
Tetapi Malaikat hanyalah Malaikat. Mereka adalah makhluk yang keberadaannya dicipta dan ditentukan sendiri oleh Allah. Mereka, meski dengan ketaatan yang luar biasa, tetap tidak mampu mengungguli pengetahuan Allah. Meski mereka selalu dekat dengan Allah, tiap waktu selalu ada di sisi-Nya, namun tak secuilpun mereka tahu apa yang Allah ketahui. Itu sebabnya, dengan tutur kata yang lembut Allah menanggapi demo mereka:
“Aku yang lebih tahu dengan segala rencana-Ku sebagaimana Aku yang lebih mengerti segala rahasia yang ada di pelosok langit dan yang ada di balik lipatan bumi. Jadi kamu tenang sajalah!” begitu jawab Allah kira-kira.
Maka Maha Suci Allah yang kemudian menciptakan Adam, dimana pengetahuan mutakhir para ahli mengenai mutasi ‘gen’ sudah mempercayai bahwa dialah cikal bakal manusia pertama di dunia ini. Namun Allah tidak hanya menciptakan Adam sebagai manusia belaka. Dia juga memberinya gelar kehormatan yang begitu istimewa, yaitu sebagai khalifah.
Terserah kita mau mengartikan khalifah dengan makna apa. Namun yang jelas, khalifah memiliki konotasi makna yang cukup dekat dengan arti mandataris, wakil atau kepercayaan Tuhan yang harus menjalankan tugas-Nya di muka bumi ini dengan benar. Untuk bisa menjalankan tugas itu, Allah memberi Adam pelajaran dan pelajaran pertama yang diberikan Allah kepada si manusia Adam ini adalah pengetahuan tentang nama-nama atau kemampuan mengidentifikasi segala sesuatu yang ada di bumi dimana kemampuan ini pada akhirnya akan berkembang menjadi ilmu-ilmu, seperti ilmu fisika, biologi, sejarah, astronomi, kelautan, politik, sosial, budaya, agama, bahasa dan beribu-ribu disiplin keilmuan lainnya.
Maka tidak usah heran kalau ilmu dan kemampuan yang diberikan Allah kepada Adam ini membuatnya lebih unggul sampai-sampai Allah memerintahkan mereka para Malaikat:
“Sujudlah!”
Jika kita bayangkan, rasanya tidak mungkin manusia Adam ini akan sanggup menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini tanpa rasa tanggung jawab yang total, paling tidak terhadap ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Sebab, betapa pun tinggi dan memadainya ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang, akan tetapi jika dalam dirinya tidak ada rasa tanggung jawab yang besar untuk hanya menggunakan dan memanfaatkan ilmunya pada kebenaran maka segalanya akan kacau. Atau dalam terminologi Malaikat, “Hanya akan melahirkan kerusakan dan pertumpahan darah.”
Maka Malaikat benar dalam satu sisi, bahwa kerusakan dan pertumpahan darah yang terjadi di muka bumi ini terkadang memang lahir dan sengaja dilahirkan oleh manusia-manusia berpengatahuan tinggi, namun memiliki semangat tanggung jawab yang amat rendah terhadap ilmunya.
Mungkin saja begitu. Kalau kurang puas, silahkan tanya sendiri sama Tuhan. Gak repot, kan!?
Kebumen 29 Januari 2010
Salman Rusydie Anwar
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka (para malaikat) berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan? Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah: 30-34)”
Sesungguhnya, peristiwa sujudnya Malaikat kepada Adam yang manusia merupakan peristiwa amat dahsyat dalam sejarah manusia itu sendiri. Kita tahu, betapa Malaikat adalah satu-satunya makhluk yang tidak memiliki pilihan lain kecuali hanya taat kepada Allah SWT. Malaikat diciptakan oleh Allah dengan potensi ketaatan yang luar biasa sehingga tak satupun perilakunya yang menyimpang atau melanggar dari apa yang sudah diperintahkan oleh Allah kepada mereka.
Mengingat ketaatannya kepada Allah mengalahkan makhluk yang lain, maka tidak heran jika pada saat Allah memberi tahu mereka untuk menciptakan khalifah, lantas mereka beramai-ramai datang ‘mendemo’ dan mengajukan gugatan kepada-Nya:
“Mengapa. Mengapa harus Kau buat makhluk lain di bumi itu yang kerjaannya hanyalah merusak dan saling tawur? Tak cukupkah ketaatan yang kuberikan selama ini? Tak memadaikah penyucianku kepada-Mu selama ini sehingga Engkau berencana membuat makhluk lain selain aku?” begitulah kira-kira protes para Malaikat itu.
Tetapi Malaikat hanyalah Malaikat. Mereka adalah makhluk yang keberadaannya dicipta dan ditentukan sendiri oleh Allah. Mereka, meski dengan ketaatan yang luar biasa, tetap tidak mampu mengungguli pengetahuan Allah. Meski mereka selalu dekat dengan Allah, tiap waktu selalu ada di sisi-Nya, namun tak secuilpun mereka tahu apa yang Allah ketahui. Itu sebabnya, dengan tutur kata yang lembut Allah menanggapi demo mereka:
“Aku yang lebih tahu dengan segala rencana-Ku sebagaimana Aku yang lebih mengerti segala rahasia yang ada di pelosok langit dan yang ada di balik lipatan bumi. Jadi kamu tenang sajalah!” begitu jawab Allah kira-kira.
Maka Maha Suci Allah yang kemudian menciptakan Adam, dimana pengetahuan mutakhir para ahli mengenai mutasi ‘gen’ sudah mempercayai bahwa dialah cikal bakal manusia pertama di dunia ini. Namun Allah tidak hanya menciptakan Adam sebagai manusia belaka. Dia juga memberinya gelar kehormatan yang begitu istimewa, yaitu sebagai khalifah.
Terserah kita mau mengartikan khalifah dengan makna apa. Namun yang jelas, khalifah memiliki konotasi makna yang cukup dekat dengan arti mandataris, wakil atau kepercayaan Tuhan yang harus menjalankan tugas-Nya di muka bumi ini dengan benar. Untuk bisa menjalankan tugas itu, Allah memberi Adam pelajaran dan pelajaran pertama yang diberikan Allah kepada si manusia Adam ini adalah pengetahuan tentang nama-nama atau kemampuan mengidentifikasi segala sesuatu yang ada di bumi dimana kemampuan ini pada akhirnya akan berkembang menjadi ilmu-ilmu, seperti ilmu fisika, biologi, sejarah, astronomi, kelautan, politik, sosial, budaya, agama, bahasa dan beribu-ribu disiplin keilmuan lainnya.
Maka tidak usah heran kalau ilmu dan kemampuan yang diberikan Allah kepada Adam ini membuatnya lebih unggul sampai-sampai Allah memerintahkan mereka para Malaikat:
“Sujudlah!”
Jika kita bayangkan, rasanya tidak mungkin manusia Adam ini akan sanggup menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini tanpa rasa tanggung jawab yang total, paling tidak terhadap ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Sebab, betapa pun tinggi dan memadainya ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang, akan tetapi jika dalam dirinya tidak ada rasa tanggung jawab yang besar untuk hanya menggunakan dan memanfaatkan ilmunya pada kebenaran maka segalanya akan kacau. Atau dalam terminologi Malaikat, “Hanya akan melahirkan kerusakan dan pertumpahan darah.”
Maka Malaikat benar dalam satu sisi, bahwa kerusakan dan pertumpahan darah yang terjadi di muka bumi ini terkadang memang lahir dan sengaja dilahirkan oleh manusia-manusia berpengatahuan tinggi, namun memiliki semangat tanggung jawab yang amat rendah terhadap ilmunya.
Mungkin saja begitu. Kalau kurang puas, silahkan tanya sendiri sama Tuhan. Gak repot, kan!?
Kebumen 29 Januari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
