Oleh Salman Rusydie Anwar
Suatu senja di pinggir sebuah sungai di dalam hutan, seorang anak melepas mainan perahunya yang terbuat dari daun-daunan ke dalam air. Kedua matanya berbinar penuh bangga, seakan perahu itu hidup dan berubah menjadi perahu sungguhan.
“Perahu ini akan berjalan sampai ke seberang,” katanya sambil menunjuk ke balik hutan yang jauh, “dia akan menemukan tempatnya sendiri dengan benar.”
Malam hari, di dalam gubuk kayunya, anak kecil itu bercerita kepada kakeknya. Satu-satunya orang yang menjadi temannya setiap hari.
“Besok aku akan pergi menyusul perahuku. Dimana saja aku menemukannya, disitulah aku akan membuat tempat tinggal. Kira-kira sampai dimanakah perahu itu, Kek?”
Si kakek terdiam. Dia kemudian teringat dengan cerita pembangunan yang pernah disampaikan oleh sahabat-sahabatnya. Ya, pembangunan. Sebuah upaya manusia untuk menjadi makhluk yang maju dan bermartabat. Atas nama pembangunan, manusia telah melakukan banyak hal, baik yang benar-benar menguntungkan sekaligus dengan yang nyata-nyata merugikan.
Di mata si kakek waktu itu, pembangunan ibarat sebuah raksasa yang tak pernah terbayangkan besar dan buasnya oleh manusia. Ia melahap apa saja: sumber mata air, pohon-pohon, hutan-hutan, dan juga kesempatan hidup bagi berjenis-jenis makhluk hidup lain yang sebelumnya memberi warna bagi dunia. Tak hanya itu, dalam benak si kakek, pembangunan juga sering mengeluarkan kotoran-kotorannya dengan sembarangan, seperti kencing dan berak di aliran sungai yang membelah hutan. Ia juga suka membuang benda-benda sehabis di pakai di sungai itu, sehingga si kakek kesulitan mendapatkan air bersih.
Maka ketika cucunya mengulang kembali pertanyaan tentang perahu mainannya yang dilepas di sungai sore tadi, si kakek dengan lirih menjawab:
“Perahumu akan sampai di seberang, di tempat pembangunan berada. Tapi kau tak perlu ke sana, Buyung. Sebab cepat atau lambat pembangunan akan sampai juga disini. Mereka bisa membuat tempat tinggal disini. Mengganti perahu daunmu dengan perahu plastik. Mengganti air sungaimu dengan air-air limbah.”
Anak itu termangu-mangu mendengar penjelasan kakeknya. Dia mengangguk sambil tersenyum setelah si kakek selesai bercerita. Malam semakin larut. Di luar, terdengar serigala melolong-lolong panjang.
Jumat, 21 Oktober 2011
Empati Untuk Sumiyati
Oleh Salman Rusydie Anwar
Sejarah “kekuasaan” hampir selalu memiliki prinsip yang sama; selalu menindas mereka yang lemah. Sedang kekuasaan itu sendiri tak melulu harus berwujud negara-pemerintahan, melainkan dapat mengambil bentuk dalam konteks apa saja, dimana saja.
Maka ketika perempuan Sumi yang remuk karena disiksa majikannya itu hampir sekarat, dia pun sadar bahwa dirinya adalah pihak yang lemah, yang sedang mengarung di pusaran kekuasaan rumah majikannya.
Lalu untuk apa perempuan Sumi dan ribuan perempaun lainnya itu memberanikan diri memasuki siklus kekuasaan yang begitu pongah? Yang tidak bersedia mengakui bahwa yang lemah harus segera dipapah?
Saya bayangkan Sumiyati menjawab begini, “Semua itu demi menghidupi keluarga, saya berani merantau ke negeri ini. Negeri para Nabi yang diberkati. Namun ternyata, tak banyak yang tersisa dari kemuliaan mereka di sini. Jika para Nabi terdahulu sanggup menempatkan kami pada singgasana kehormatan karena kelemah-papaan yang kami sandang, tetapi hari ini kemuliaan mereka sepertinya hanya tinggal sebuah kenangan.”
Begitu pahit memang. TKW kita digerushabis di negeri orang. Diinjak-injak kepala mereka. Ditendang-tendang rusuk mereka. Dibanting-banting tubuh mereka. Dan yang lebih menyakitkan, begitu luka dan memarnya hati mereka saat harus kembali dan menemukan bahwa ternyata negerinya sendiri tak sanggup memberi dia pekerjaan sehingga tidak membuatnya pergi ke negeri orang.
Dan pada suatu malam, seorang bocah bertanya pada Ibunya yang seorang peri:
“Apakah negeri kita miskin, Ibu?”
“Tidak anakku. Bahkan lebih kaya dari yang engkau kira,” jawab Ibunya sambil membelai-belai kepala bocah itu.
“Tapi kenapa perempuan itu pergi ke sana kalau negeri kita sendiri cukup kaya untuk memberinya kerja dan upah?”
Ibunya terdiam. Ditatapnya kedua bola mata anaknya dalam-dalam. Begitu bening. Begitu suci. Dua bola mata itu tak pantas menyaksikan berbagai ketimpangan yang terjadi di negerinya sendiri. Begitu pikir si Ibu sambil meletakkan anaknya di atas tempat tidur.
“Kenapa Ibu tidak menjawab pertanyaanku.”
“Tunggu sebentar, anakku,” kata si Ibu sambil bergegas pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu. Tak lama kemudian si Ibu mendatangi anaknya kembali.
“Ibu sudah punya jawabannya?”
Si Ibu mengangguk sambil tersenyum. Lalu diceritakanlah kisah tentang suatu negeri yang kesuburannya mengundang hasrat banyak orang untuk berkuasa. Berganti-ganti mereka yang datang. Semuanya dengan satu tujuan yang sama; mengeruk kekayaan alam. Sampai akhirnya, perlawananpun dilakukan. Rakyat bersatu menerjang penjajahan. Harta nyawa dikorbankan hingga kemerdekaanpun diraih dengan gemilang.
“Lalu. Apakah semua kekayaan itu habis untuk membiayai perang, Ibu?”
Sang Ibu menggeleng. “Ibu sendiri tidak tahu kemana perginya kekayaan itu setelah negeri ini bebas dari penjajahan, Nak. Yang Ibu tahu, semakin banyak saja perempuan-perempuan macam Sumi yang pergi ke negeri orang. Mereka pergi seperti seorang petarung yang gagah berani, namun kembali bagai penjajah yang kalah.”
“Ibu kan seorang peri. Ayunkan tongkat sakti ibu untuk mengembalikan kekayaan itu. Agar tidak lagi ada orang-orang macam Sumi dikemudian hari.”
Si Ibu peri mengeluarkan tongkatnya. Begitu penuh dengan debu dan jelaga. Hitam dan ada bagian-bagian yang tak lagi utuh.
“Bahkan tongkat sakti ibupun tak ada artinya. Lihatlah ini,” katanya sambil mengangkat tongkat sakti itu di depan anaknya. “tongkat sakti ibu sudah tidak utuh lagi. Ada bagian-bagian yang sudah habis dikerat dan sepertinya ini hanya bisa dilakukan oleh tikus-tikus.”
Bocah itu terdiam. Seperti sedang berpikir. Di dalam tempurung kepalanya kemudian terbayang akan kesaktian si tikus yang sanggup mengerat tongkat sakti ibunya tanpa sedikitpun mengalami celaka. Bocah itu tersenyum. Lalu berguman. Begitu lirih:
“Andai aku seekor tikus. Pasti lebih sakti dari tongkat ajaib ibu.”
Sejarah “kekuasaan” hampir selalu memiliki prinsip yang sama; selalu menindas mereka yang lemah. Sedang kekuasaan itu sendiri tak melulu harus berwujud negara-pemerintahan, melainkan dapat mengambil bentuk dalam konteks apa saja, dimana saja.
Maka ketika perempuan Sumi yang remuk karena disiksa majikannya itu hampir sekarat, dia pun sadar bahwa dirinya adalah pihak yang lemah, yang sedang mengarung di pusaran kekuasaan rumah majikannya.
Lalu untuk apa perempuan Sumi dan ribuan perempaun lainnya itu memberanikan diri memasuki siklus kekuasaan yang begitu pongah? Yang tidak bersedia mengakui bahwa yang lemah harus segera dipapah?
Saya bayangkan Sumiyati menjawab begini, “Semua itu demi menghidupi keluarga, saya berani merantau ke negeri ini. Negeri para Nabi yang diberkati. Namun ternyata, tak banyak yang tersisa dari kemuliaan mereka di sini. Jika para Nabi terdahulu sanggup menempatkan kami pada singgasana kehormatan karena kelemah-papaan yang kami sandang, tetapi hari ini kemuliaan mereka sepertinya hanya tinggal sebuah kenangan.”
Begitu pahit memang. TKW kita digerushabis di negeri orang. Diinjak-injak kepala mereka. Ditendang-tendang rusuk mereka. Dibanting-banting tubuh mereka. Dan yang lebih menyakitkan, begitu luka dan memarnya hati mereka saat harus kembali dan menemukan bahwa ternyata negerinya sendiri tak sanggup memberi dia pekerjaan sehingga tidak membuatnya pergi ke negeri orang.
Dan pada suatu malam, seorang bocah bertanya pada Ibunya yang seorang peri:
“Apakah negeri kita miskin, Ibu?”
“Tidak anakku. Bahkan lebih kaya dari yang engkau kira,” jawab Ibunya sambil membelai-belai kepala bocah itu.
“Tapi kenapa perempuan itu pergi ke sana kalau negeri kita sendiri cukup kaya untuk memberinya kerja dan upah?”
Ibunya terdiam. Ditatapnya kedua bola mata anaknya dalam-dalam. Begitu bening. Begitu suci. Dua bola mata itu tak pantas menyaksikan berbagai ketimpangan yang terjadi di negerinya sendiri. Begitu pikir si Ibu sambil meletakkan anaknya di atas tempat tidur.
“Kenapa Ibu tidak menjawab pertanyaanku.”
“Tunggu sebentar, anakku,” kata si Ibu sambil bergegas pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu. Tak lama kemudian si Ibu mendatangi anaknya kembali.
“Ibu sudah punya jawabannya?”
Si Ibu mengangguk sambil tersenyum. Lalu diceritakanlah kisah tentang suatu negeri yang kesuburannya mengundang hasrat banyak orang untuk berkuasa. Berganti-ganti mereka yang datang. Semuanya dengan satu tujuan yang sama; mengeruk kekayaan alam. Sampai akhirnya, perlawananpun dilakukan. Rakyat bersatu menerjang penjajahan. Harta nyawa dikorbankan hingga kemerdekaanpun diraih dengan gemilang.
“Lalu. Apakah semua kekayaan itu habis untuk membiayai perang, Ibu?”
Sang Ibu menggeleng. “Ibu sendiri tidak tahu kemana perginya kekayaan itu setelah negeri ini bebas dari penjajahan, Nak. Yang Ibu tahu, semakin banyak saja perempuan-perempuan macam Sumi yang pergi ke negeri orang. Mereka pergi seperti seorang petarung yang gagah berani, namun kembali bagai penjajah yang kalah.”
“Ibu kan seorang peri. Ayunkan tongkat sakti ibu untuk mengembalikan kekayaan itu. Agar tidak lagi ada orang-orang macam Sumi dikemudian hari.”
Si Ibu peri mengeluarkan tongkatnya. Begitu penuh dengan debu dan jelaga. Hitam dan ada bagian-bagian yang tak lagi utuh.
“Bahkan tongkat sakti ibupun tak ada artinya. Lihatlah ini,” katanya sambil mengangkat tongkat sakti itu di depan anaknya. “tongkat sakti ibu sudah tidak utuh lagi. Ada bagian-bagian yang sudah habis dikerat dan sepertinya ini hanya bisa dilakukan oleh tikus-tikus.”
Bocah itu terdiam. Seperti sedang berpikir. Di dalam tempurung kepalanya kemudian terbayang akan kesaktian si tikus yang sanggup mengerat tongkat sakti ibunya tanpa sedikitpun mengalami celaka. Bocah itu tersenyum. Lalu berguman. Begitu lirih:
“Andai aku seekor tikus. Pasti lebih sakti dari tongkat ajaib ibu.”
Sapi-Sapi Kurban
Oleh Salman Rusydie Anwar
Dua ekor sapi di dalam penangkaran. Sedang terlibat pembicaraan. Begitu serius. Tak peduli pada rumput hijau yang baru saja diangsurkan seseorang kepada mereka.
“Sudahlah. Tak usah bersedih terus,” kata yang seekor sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Mengusir nyamuk.
“Padahal aku belum melihat anak-anakku dewasa. Rasanya baru beberapa menit saja kebersamaan kami dengannya. Sekarang kami malah dipaksa berpisah,” kata yang seekor dengan suara pelan. Memendam kesedihan.
“Bukankah dengan cara ini kita bisa menunjukkan bakti kita pada manusia. Pada Tuhan?” kata yang seekor. Mencoba menenangkan.
“Entahlah.”
Keduanya lalu terdiam. Memandang ke luar penangkaran. Di luar, cuaca tampak begitu cerah. Hanya terlihat awan tipis warna putih melapisi hamparan cakrawala. Rumput hijau teronggok di depan keduanya. Masih tak terjamah. Seperti hilang nafsu makan mereka. Memendam sedih yang tak mungkin dipahami manusia.
Keesokan hari kedua sapi dan beberapa ekor kambing yang ditempatkan di penangkaran yang berbeda itu akan disembelih. Untuk kurban. Untuk sebuah ketaatan manusia kepada perintah Tuhan.
“Malam nanti aku ingin tidur dengan tenang,” kata sapi yang dari tadi selalu murung. Kata-katanya berdesir lirih. Menimpakan haru pada sapi yang satunya, yang tampak tegar menghadapi kenyataan. “Kau sendiri kelihatan tenang. Apa memang demikian isi pikiranmu?”
Sapi yang satunya melenguh. Sebentar saja. Barangkali sekadar menghenyakkan pegal dari badannya.
“Sebenarnya aku juga sedih,” jawabnya singkat saja.
“Tapi aku tak melihatmu seperti itu.”
“Itu karena aku menyembunyikannya.”
Sapi yang selalu murung itu menatap temannya yang dari tadi tampak selalu terlihat tegar. Dilihatnya wajah sahabatnya itu. Dengan amat lekat. Seperti mencoba menyelami kesedihan yang selalu ia sembunyikan. Lalu keduanya melihat ke atas. Sesaat setelah mereka mendengar kaok burung bangau yang sedang pulang ke sarang.
“Rupanya hari sudah senja.”
“Itu artinya akhir hidup kita semakin dekat,” kata sapi yang selalu bersedih.
“Makanan kita sejak tadi belum terjamah. Sebaiknya mari kita makan dulu. Jangan terus bersedih. Setidaknya, kita bisa mati tanpa kepikiran tentang rumput yang hijau dan lezat ini,” kata sapi yang tegar. Seperti ingin mengalihkan pembicaraan.
“Maukah kau bercerita apa yang membuatmu sedih?”
“Kenapa kau ingin tahu?”
“Hanya ingin tahu saja.”
Sapi yang tampak tegar itu menatap sapi di sampingnya. Lalu menarik napas. Tidak terlalu panjang.
“Aku sedih...,” suaranya terbata-bata, “bukan karena... hidupku akan diakhiri. Pun juga bukan karena akan berpisah dengan keluarga. Aku rela disembelih. Apalagi untuk kurban. Karena seperti ucapanku, dengan cara inilah aku bisa menunjukkan baktiku pada Sang Pencipta.”
“Lalu?”
“Aku sedih...karena orang yang berharap sekerat dagingku beberapa tahun ini begitu membludak. Berdesak-desak saat pembagian. Terserimpung. Terinjak-injak kepalanya. Lalu mati. Tanpa sempat mencicipi daging kita ini. Dan yang lebih membuatku sedih, manusia selalu terlambat memperbaiki. Sehingga dari tahun ke tahun musibah kurban terjadi lagi. Aku sedih, karena karunia dan pahala Tuhan yang dijanjikan dalam kurban harus ditebus dengan sesak sengal napas si fakir yang terhimpit, tergencet saat mengambil jatah.”
“Padahal mereka hanya dapat sekerat saja,” sapi yang satu menimpali.
“Begitulah.”
Keduanya sama-sama menarik napas. Kali ini agak begitu panjang. Malam pun turun merambat. Perlahan. Membawa dingin suasana terus mengalir. Melalui pagar-pagar penangkaran yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Sampai tengah malam, kedua sapi itu tidak bisa memejamkan mata. Seperti ada kegelisahan yang begitu sempurna.
Bersambung...,
Dua ekor sapi di dalam penangkaran. Sedang terlibat pembicaraan. Begitu serius. Tak peduli pada rumput hijau yang baru saja diangsurkan seseorang kepada mereka.
“Sudahlah. Tak usah bersedih terus,” kata yang seekor sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Mengusir nyamuk.
“Padahal aku belum melihat anak-anakku dewasa. Rasanya baru beberapa menit saja kebersamaan kami dengannya. Sekarang kami malah dipaksa berpisah,” kata yang seekor dengan suara pelan. Memendam kesedihan.
“Bukankah dengan cara ini kita bisa menunjukkan bakti kita pada manusia. Pada Tuhan?” kata yang seekor. Mencoba menenangkan.
“Entahlah.”
Keduanya lalu terdiam. Memandang ke luar penangkaran. Di luar, cuaca tampak begitu cerah. Hanya terlihat awan tipis warna putih melapisi hamparan cakrawala. Rumput hijau teronggok di depan keduanya. Masih tak terjamah. Seperti hilang nafsu makan mereka. Memendam sedih yang tak mungkin dipahami manusia.
Keesokan hari kedua sapi dan beberapa ekor kambing yang ditempatkan di penangkaran yang berbeda itu akan disembelih. Untuk kurban. Untuk sebuah ketaatan manusia kepada perintah Tuhan.
“Malam nanti aku ingin tidur dengan tenang,” kata sapi yang dari tadi selalu murung. Kata-katanya berdesir lirih. Menimpakan haru pada sapi yang satunya, yang tampak tegar menghadapi kenyataan. “Kau sendiri kelihatan tenang. Apa memang demikian isi pikiranmu?”
Sapi yang satunya melenguh. Sebentar saja. Barangkali sekadar menghenyakkan pegal dari badannya.
“Sebenarnya aku juga sedih,” jawabnya singkat saja.
“Tapi aku tak melihatmu seperti itu.”
“Itu karena aku menyembunyikannya.”
Sapi yang selalu murung itu menatap temannya yang dari tadi tampak selalu terlihat tegar. Dilihatnya wajah sahabatnya itu. Dengan amat lekat. Seperti mencoba menyelami kesedihan yang selalu ia sembunyikan. Lalu keduanya melihat ke atas. Sesaat setelah mereka mendengar kaok burung bangau yang sedang pulang ke sarang.
“Rupanya hari sudah senja.”
“Itu artinya akhir hidup kita semakin dekat,” kata sapi yang selalu bersedih.
“Makanan kita sejak tadi belum terjamah. Sebaiknya mari kita makan dulu. Jangan terus bersedih. Setidaknya, kita bisa mati tanpa kepikiran tentang rumput yang hijau dan lezat ini,” kata sapi yang tegar. Seperti ingin mengalihkan pembicaraan.
“Maukah kau bercerita apa yang membuatmu sedih?”
“Kenapa kau ingin tahu?”
“Hanya ingin tahu saja.”
Sapi yang tampak tegar itu menatap sapi di sampingnya. Lalu menarik napas. Tidak terlalu panjang.
“Aku sedih...,” suaranya terbata-bata, “bukan karena... hidupku akan diakhiri. Pun juga bukan karena akan berpisah dengan keluarga. Aku rela disembelih. Apalagi untuk kurban. Karena seperti ucapanku, dengan cara inilah aku bisa menunjukkan baktiku pada Sang Pencipta.”
“Lalu?”
“Aku sedih...karena orang yang berharap sekerat dagingku beberapa tahun ini begitu membludak. Berdesak-desak saat pembagian. Terserimpung. Terinjak-injak kepalanya. Lalu mati. Tanpa sempat mencicipi daging kita ini. Dan yang lebih membuatku sedih, manusia selalu terlambat memperbaiki. Sehingga dari tahun ke tahun musibah kurban terjadi lagi. Aku sedih, karena karunia dan pahala Tuhan yang dijanjikan dalam kurban harus ditebus dengan sesak sengal napas si fakir yang terhimpit, tergencet saat mengambil jatah.”
“Padahal mereka hanya dapat sekerat saja,” sapi yang satu menimpali.
“Begitulah.”
Keduanya sama-sama menarik napas. Kali ini agak begitu panjang. Malam pun turun merambat. Perlahan. Membawa dingin suasana terus mengalir. Melalui pagar-pagar penangkaran yang terbuat dari bilah-bilah bambu. Sampai tengah malam, kedua sapi itu tidak bisa memejamkan mata. Seperti ada kegelisahan yang begitu sempurna.
Bersambung...,
Dan Gayuspun Kabur
Oleh Salman Rusydie Anwar
“Gayus kabur dengan tertib dari dalam tahanan. Sompret benar si akal bulus itu.”
Martejo menghempaskan tubuhnya di atas tikar lapuk malam itu. Diantara sekitar tujuh orang yang biasa hadir ke rumah Marju’e tiap malam Minggu, baru Martejo yang datang. Sendirian. Dengan sarung diselempangkan di leher. Setiap malam minggu, rumah Marju’e memang kelihatan ramai dengan adanya orang-orang yang berasal dari kalangan petani, abang becak, kuli bangunan, tukang parkir, petugas kebersihan jalan, pembuat bata. Dan Marju’e sendiri memiliki pekerjaan tak kalah tragis; pemulung. Mereka berkumpul sekadar main gaple, ngobrol-ngobrol dan pijat secara bergantian. Bhinneka Tunggal Ikalah modelnya.
Anehnya, mereka berkumpul sesama orang yang memiliki awalan nama M. Ada Martejo si tukang bata, Masrawi si petani, Marju’e si pemulung, Murahwi si petugas kebersihan jalan, Misnawan si tukang becak, Maryono si kuli bangunan, dan Marham si tukang parkir. Itu sebabnya mereka menamakan kumpulan mereka dengan nama “M 150”, mirip nama sebuah minuman suplemen. Angka 150 itu sebenarnya penjelasan dari berdirinya perkumpulan tersebut yang didirikan pada tanggal 1 bulan 5 tahun 2000.
“Yang lain pada belum datang?” tanya Martejo.
“Murahwi tak mungkin datang. Tadi dia ijin. Katanya ada pertemuan di balai kota.”
“Pertemuan apaan?”
“Jalanan kan makin kumuh dan kotor dengan sampah. Mungkin ada semacam pengarahan dari kepala dinas kebersihan kota.”
“Sompret. Kepala dinasnya saja suruh nyapu.”
“Dari tadi somprat-sompret terus. Lagi mangkel?”
“Mangkel sama Gayus dan aparat Brimob. Gampang sekali mereka disogok.”
Marju’e sontak tertawa ngakak mendengar alasan kemangkelan sahabat karibnya sejak kecil itu. “Hei, bung. Seandainya sembilan puluh sembilan persen warga negara ini dihuni oleh tukang bata macam kau yang sama-sama mangkel atas kasus itu, keadaan tak akan berubah seinci pun. Negara tak akan terpengaruh.”
Martejo hampir protes. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara bel yang berkleneng-kleneng nyaring di depan halaman. Tampak Misnawan datang menjinjing sebuah bungkusan.
“Kubawakan tujuh bungkus kopi untuk kalian yang terhormat,” katanya sambil bersalaman.
“Mantap. Akhirnya, setelah sepuluh tahun kita buat perkumpulan ini, baru sekaranglah hatimu terbuka untuk bersedekah,” tukas Marju’e.
“Sompret.”
“Loh, kok sompret juga. Mangkel sama Gayus juga?” tanya Marju’e sambil bergegas ke dalam untuk mengambil gelas.
“Ah. Tak ada Gayas-Gayusan. Yang penting rejeki mbecak hari ini lumayan,” jawab Misnawan yang langsung rebahan di samping Martejo sambil bercerita kalau siang tadi dia dapat order ngangkut-ngangkut barang.
“Coba kau jadi petugas Brimob yang jaga kamar tahanannya Gayus, pasti kaya kau dalam waktu semalam,” kata Martejo
“Alaah. Gayus lagi, Gayus lagi. Bikin hilang nafsu makan kalau mikirin dia. Kau tukang bata berlagak kayak pengacaranya saja. Kenapa kau ini?”
Sambil menuangkan kopi ke dalam gelas, Marju’e menjelaskan kenapa Martejo berbicara Gayus.
“Oohh, itu masalahnya to, Kang. Tak usah ikut ribut soal dia. Sudah ada yang mengatur.”
“Sompret kowe. Bukan itu masalahnya. Tapi mikir dong, masak tahanan bisa keluar masuk seenak udel-nya.”
“Dia kan uangnya banyak to, Jo. Jadi tak ada masalah jika dia mau begitu. Tinggal buat kesepakatan dengan petugas rutannya. Beres. Lagi pula kata kau dia kabur dengan tertib. Itu cocok. Polisi kan tugasnya menciptakan ketertiban dan keamanan masyarakat,” Marju’e menengahi.
“Kabur dengan tertib. Yang aku dengar dia bisa keluar masuk rutan. Bukan kabur,” sela Misnawan.
“Kabur dengan tertib itu menurut istilah Martejo. Artinya, ya sama dengan yang kau dengar itu.”
Misnawan menyalakan rokok. Asap mengepul menerobos serat-serat malam yang semakin dingin. Martejo mengedarkan pandang ke tengah halaman. Mencari-cari barangkali ada lagi yang bakal datang. Namun hanya sunyi yang terpancang di sana. Sedang Marju’e sudah berkali-kali mulutnya menguap. Ngantuk setelah seharian hanya mendapat sedikit barang bekas. Padahal dia sudah berjalan kurang lebih sepuluh kilo jauhnya. Setelah agak lama sama-sama terdiam, akhirnya Martejo buka suara:
“Besok, anakku si Suyono akan aku masukkan ke sekolah brimob. Biar dia bisa jaga rutan tempatnya Gayus. Biar dia kecipratan berkahnya si Tambunan itu.”
Misnawan dan Marju’e yang mendengar omongan Martejo secara spontan sama-sama berucap:
“Sompret kowe...”
Setelah itu mereka tertawa ngakak bersama. Tawa yang bebas. Sebebas mereka bermimpi dan berkhayal. Setiap hari. Setiap waktu.
“Gayus kabur dengan tertib dari dalam tahanan. Sompret benar si akal bulus itu.”
Martejo menghempaskan tubuhnya di atas tikar lapuk malam itu. Diantara sekitar tujuh orang yang biasa hadir ke rumah Marju’e tiap malam Minggu, baru Martejo yang datang. Sendirian. Dengan sarung diselempangkan di leher. Setiap malam minggu, rumah Marju’e memang kelihatan ramai dengan adanya orang-orang yang berasal dari kalangan petani, abang becak, kuli bangunan, tukang parkir, petugas kebersihan jalan, pembuat bata. Dan Marju’e sendiri memiliki pekerjaan tak kalah tragis; pemulung. Mereka berkumpul sekadar main gaple, ngobrol-ngobrol dan pijat secara bergantian. Bhinneka Tunggal Ikalah modelnya.
Anehnya, mereka berkumpul sesama orang yang memiliki awalan nama M. Ada Martejo si tukang bata, Masrawi si petani, Marju’e si pemulung, Murahwi si petugas kebersihan jalan, Misnawan si tukang becak, Maryono si kuli bangunan, dan Marham si tukang parkir. Itu sebabnya mereka menamakan kumpulan mereka dengan nama “M 150”, mirip nama sebuah minuman suplemen. Angka 150 itu sebenarnya penjelasan dari berdirinya perkumpulan tersebut yang didirikan pada tanggal 1 bulan 5 tahun 2000.
“Yang lain pada belum datang?” tanya Martejo.
“Murahwi tak mungkin datang. Tadi dia ijin. Katanya ada pertemuan di balai kota.”
“Pertemuan apaan?”
“Jalanan kan makin kumuh dan kotor dengan sampah. Mungkin ada semacam pengarahan dari kepala dinas kebersihan kota.”
“Sompret. Kepala dinasnya saja suruh nyapu.”
“Dari tadi somprat-sompret terus. Lagi mangkel?”
“Mangkel sama Gayus dan aparat Brimob. Gampang sekali mereka disogok.”
Marju’e sontak tertawa ngakak mendengar alasan kemangkelan sahabat karibnya sejak kecil itu. “Hei, bung. Seandainya sembilan puluh sembilan persen warga negara ini dihuni oleh tukang bata macam kau yang sama-sama mangkel atas kasus itu, keadaan tak akan berubah seinci pun. Negara tak akan terpengaruh.”
Martejo hampir protes. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara bel yang berkleneng-kleneng nyaring di depan halaman. Tampak Misnawan datang menjinjing sebuah bungkusan.
“Kubawakan tujuh bungkus kopi untuk kalian yang terhormat,” katanya sambil bersalaman.
“Mantap. Akhirnya, setelah sepuluh tahun kita buat perkumpulan ini, baru sekaranglah hatimu terbuka untuk bersedekah,” tukas Marju’e.
“Sompret.”
“Loh, kok sompret juga. Mangkel sama Gayus juga?” tanya Marju’e sambil bergegas ke dalam untuk mengambil gelas.
“Ah. Tak ada Gayas-Gayusan. Yang penting rejeki mbecak hari ini lumayan,” jawab Misnawan yang langsung rebahan di samping Martejo sambil bercerita kalau siang tadi dia dapat order ngangkut-ngangkut barang.
“Coba kau jadi petugas Brimob yang jaga kamar tahanannya Gayus, pasti kaya kau dalam waktu semalam,” kata Martejo
“Alaah. Gayus lagi, Gayus lagi. Bikin hilang nafsu makan kalau mikirin dia. Kau tukang bata berlagak kayak pengacaranya saja. Kenapa kau ini?”
Sambil menuangkan kopi ke dalam gelas, Marju’e menjelaskan kenapa Martejo berbicara Gayus.
“Oohh, itu masalahnya to, Kang. Tak usah ikut ribut soal dia. Sudah ada yang mengatur.”
“Sompret kowe. Bukan itu masalahnya. Tapi mikir dong, masak tahanan bisa keluar masuk seenak udel-nya.”
“Dia kan uangnya banyak to, Jo. Jadi tak ada masalah jika dia mau begitu. Tinggal buat kesepakatan dengan petugas rutannya. Beres. Lagi pula kata kau dia kabur dengan tertib. Itu cocok. Polisi kan tugasnya menciptakan ketertiban dan keamanan masyarakat,” Marju’e menengahi.
“Kabur dengan tertib. Yang aku dengar dia bisa keluar masuk rutan. Bukan kabur,” sela Misnawan.
“Kabur dengan tertib itu menurut istilah Martejo. Artinya, ya sama dengan yang kau dengar itu.”
Misnawan menyalakan rokok. Asap mengepul menerobos serat-serat malam yang semakin dingin. Martejo mengedarkan pandang ke tengah halaman. Mencari-cari barangkali ada lagi yang bakal datang. Namun hanya sunyi yang terpancang di sana. Sedang Marju’e sudah berkali-kali mulutnya menguap. Ngantuk setelah seharian hanya mendapat sedikit barang bekas. Padahal dia sudah berjalan kurang lebih sepuluh kilo jauhnya. Setelah agak lama sama-sama terdiam, akhirnya Martejo buka suara:
“Besok, anakku si Suyono akan aku masukkan ke sekolah brimob. Biar dia bisa jaga rutan tempatnya Gayus. Biar dia kecipratan berkahnya si Tambunan itu.”
Misnawan dan Marju’e yang mendengar omongan Martejo secara spontan sama-sama berucap:
“Sompret kowe...”
Setelah itu mereka tertawa ngakak bersama. Tawa yang bebas. Sebebas mereka bermimpi dan berkhayal. Setiap hari. Setiap waktu.
Bakso
Salman Rusydie Anwar
Nur Kasiman hanya pedagang bakso biasa. Padanya, tak terlihat hal-hal yang membuat dirinya tampak istimewa. Setiap hari seusai dhuhur dia bersiap membuka warung baksonya. Untuk hari Minggu dia ikutan libur kerja. Sebagai pedagang bakso dengan warung lapak apa adanya, Mas Nur –begitu ia akrab disapa- tentu tak memiliki pemasukan tetap, apalagi dengan jumlah yang sangat besar.
“Cukup untuk mencukupi kebutuhan sekeluarga. Dan itu alhamdulillah,” katanya.
Dan begitulah Mas Nur menjalani sejarah hidupnya. Sudah tujuh tahun dia membuka usaha berjualan bakso tanpa pernah berpikir apakah kelak dia akan menjadi kaya dengan usahanya itu atau sekadar biasa-biasa saja atau bahkan mungkin jatuh terpuruk dan menjadi papa. Baginya yang terpenting adalah bekerja. Tanpa agenda. Tanpa rencana. Mungkin kehidupan ini dipahaminya seperti sebuah aliran air di sebuah kali. Mengalir begitu saja. Datar. Tanpa riak dan...yah, begitu-begitu saja.
Mohon prinsip Mas Nur ini jangan diutarakan kepada para konsultan, motivator-motivator atau penasehat hidup dengan label apapun. Bukan maksud saya agar Mas Nur tetap hidup begitu saja dan apa adanya. Tetapi antara Mas Nur dengan mereka terdapat kesenjangan sejarah yang sangat sukar dipertemukan garis tepinya. Mas Nur telah menemukan daya survive-nya dengan cara dan hidupnya sendiri yang kemudian ia pegang dan yakini erat-erat. Sehingga untuk mengubahnya barangkali diperlukan seminar dua tahun penuh berturut-turut. Wow....
Namun Mas Nur ternyata bukan sekadar “Mas Nur” yang pedagang bakso. Di samping itu dia juga mengandung banyak makna untuk diraba; dia kepala keluarga, ayah dari ketiga anaknya, kakak dari adiknya, cucu dari neneknya, anak dari kedua orangtuanya, seorang warga dari bangsa yang didiaminya dan yang tak kalah penting dia adalah manusia.
Sebagai manusia, Mas Nur telah membuktikan fungsi kehadirannya di dunia ini yang tidak lain adalah untuk BEKERJA. Manusia diciptakan memang untuk bekerja, yang sayangnya kata “bekerja” ini telah diarahkan maknanya hanya pada usaha mencari uang, harta. Padahal bekerja itu meliputi tidur, mandi, bera’, kencing, bersetubuh, shalat, berdoa dan sebagainya. Bahkan bayi yang baru lahirpun oleh Allah sudah diberi kemampuan untuk bekerja seperti menangis, kencing, buang air besar dan tidur.
Hal yang menarik dari Mas Nur disini adalah keberadaannya sebagai warga dari bangsa yang didiaminya. Suatu hari saya pernah mampir ke warung baksonya dan kebetulan beliau sedang membaca berita dari sebuah koran bekas.
“Repot tenan, dadhi wong Indonesia,” ujarnya.
Saya bertanya, “Memang ada apa? Kenapa harus repot?”
“Setiap hari harus selalu siap kaget.”
“Loh, kok bisa?”
“Sebentar-sebentar ada berita bencana, hati jadi menangis lagi lihat para korban menderita. Lalu ada tahanan yang bisa keluyuran, ada pejabat baru korup, banjir, gosip artis, demo, tawuran. Wes, poko’e kabeh bikin mumet ndas. Hilang akal kita, bagaimana sih caranya jadi rakyat yang menyenangkan disini.”
Bagi saya ucapan Mas Nur luar biasa. Dia mencoba mengapresiasi kejadian demi kejadian yang dialami bangsanya dengan daya nalarnya yang sederhana, ringan, sedikit gurih, manis namun juga ada dikit-dikit pedasnya. Jika dirasa-rasa, sama persis dengan cita rasa bakso yang dijualnya.
Ah, dari pada mumet kayak Mas Nur, mending hayo kita makan bakso bareng-bareng. Pasti seru.
Nur Kasiman hanya pedagang bakso biasa. Padanya, tak terlihat hal-hal yang membuat dirinya tampak istimewa. Setiap hari seusai dhuhur dia bersiap membuka warung baksonya. Untuk hari Minggu dia ikutan libur kerja. Sebagai pedagang bakso dengan warung lapak apa adanya, Mas Nur –begitu ia akrab disapa- tentu tak memiliki pemasukan tetap, apalagi dengan jumlah yang sangat besar.
“Cukup untuk mencukupi kebutuhan sekeluarga. Dan itu alhamdulillah,” katanya.
Dan begitulah Mas Nur menjalani sejarah hidupnya. Sudah tujuh tahun dia membuka usaha berjualan bakso tanpa pernah berpikir apakah kelak dia akan menjadi kaya dengan usahanya itu atau sekadar biasa-biasa saja atau bahkan mungkin jatuh terpuruk dan menjadi papa. Baginya yang terpenting adalah bekerja. Tanpa agenda. Tanpa rencana. Mungkin kehidupan ini dipahaminya seperti sebuah aliran air di sebuah kali. Mengalir begitu saja. Datar. Tanpa riak dan...yah, begitu-begitu saja.
Mohon prinsip Mas Nur ini jangan diutarakan kepada para konsultan, motivator-motivator atau penasehat hidup dengan label apapun. Bukan maksud saya agar Mas Nur tetap hidup begitu saja dan apa adanya. Tetapi antara Mas Nur dengan mereka terdapat kesenjangan sejarah yang sangat sukar dipertemukan garis tepinya. Mas Nur telah menemukan daya survive-nya dengan cara dan hidupnya sendiri yang kemudian ia pegang dan yakini erat-erat. Sehingga untuk mengubahnya barangkali diperlukan seminar dua tahun penuh berturut-turut. Wow....
Namun Mas Nur ternyata bukan sekadar “Mas Nur” yang pedagang bakso. Di samping itu dia juga mengandung banyak makna untuk diraba; dia kepala keluarga, ayah dari ketiga anaknya, kakak dari adiknya, cucu dari neneknya, anak dari kedua orangtuanya, seorang warga dari bangsa yang didiaminya dan yang tak kalah penting dia adalah manusia.
Sebagai manusia, Mas Nur telah membuktikan fungsi kehadirannya di dunia ini yang tidak lain adalah untuk BEKERJA. Manusia diciptakan memang untuk bekerja, yang sayangnya kata “bekerja” ini telah diarahkan maknanya hanya pada usaha mencari uang, harta. Padahal bekerja itu meliputi tidur, mandi, bera’, kencing, bersetubuh, shalat, berdoa dan sebagainya. Bahkan bayi yang baru lahirpun oleh Allah sudah diberi kemampuan untuk bekerja seperti menangis, kencing, buang air besar dan tidur.
Hal yang menarik dari Mas Nur disini adalah keberadaannya sebagai warga dari bangsa yang didiaminya. Suatu hari saya pernah mampir ke warung baksonya dan kebetulan beliau sedang membaca berita dari sebuah koran bekas.
“Repot tenan, dadhi wong Indonesia,” ujarnya.
Saya bertanya, “Memang ada apa? Kenapa harus repot?”
“Setiap hari harus selalu siap kaget.”
“Loh, kok bisa?”
“Sebentar-sebentar ada berita bencana, hati jadi menangis lagi lihat para korban menderita. Lalu ada tahanan yang bisa keluyuran, ada pejabat baru korup, banjir, gosip artis, demo, tawuran. Wes, poko’e kabeh bikin mumet ndas. Hilang akal kita, bagaimana sih caranya jadi rakyat yang menyenangkan disini.”
Bagi saya ucapan Mas Nur luar biasa. Dia mencoba mengapresiasi kejadian demi kejadian yang dialami bangsanya dengan daya nalarnya yang sederhana, ringan, sedikit gurih, manis namun juga ada dikit-dikit pedasnya. Jika dirasa-rasa, sama persis dengan cita rasa bakso yang dijualnya.
Ah, dari pada mumet kayak Mas Nur, mending hayo kita makan bakso bareng-bareng. Pasti seru.
Kamis, 28 April 2011
Hati yang Mati oleh Sepuluh Hal
Naskah khutbah Jum'at
Oleh Salman Rusydie Anwar
30 April 2011
Hadirin jamaah jum’at yang dirahmati Allah SWT.
Muhammad Amin Al-Jundi, dalam bukunya yang berjudul Mi’ah Qishshah Wa Qishshah Fii Aniis ash-Shaalihiin Wa Samiir al-Muttaqiin Juz.II, hal.94 menuliskan sebuah kisah begini. Konon, pada suatu hari, Ibrahim bin A’dham ra pernah melintas di pasar Basrah. Tak lama kemudian, orang-orang yang kebetulan melihat Ibrahim datang mendatangi dan mengerumuninya. Salah seorang diantara mereka berkata, “Wahai Abu Ishaq, apa yang menyebabkan doa-doa kami tidak pernah dikabulkan?”
Ibrahim kemudian menjawab, “Doa kalian tidak dikabulkan karena hati kalian telah mati oleh sepuluh hal. Pertama, kalian mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya. Kedua, kalian mengaku cinta kepada Rasulullah Saw tetapi meninggalkan sunnahnya. Ketiga, kalian membaca al-Qur’an tetapi tidak mengamalkan isinya. Keempat, kalian memakan nikmat-nikmat Allah SWT tetapi tidak pernah pandai mensyukurinya. Kelima, kalian mengatakan bahwa setan itu adalah musuh kalian tetapi tidak pernah berani menentangnya. Keenam, kalian katakan bahwa surga itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya. Ketujuh, kalian katakan bahwa neraka itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak mau lari darinya. Kedelapan, kalian katakan bahwa kematian itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah menyiapkan diri untuknya. Kesembilan, kalian bangun dari tidur lantas sibuk memperbincangkan aib orang lain tetapi lupa dengan aib sendiri. Dan kesepuluh, kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka. Itulah sebabnya hati kalian menjadi mati dan karenanya doa-doa kalian tak pernah dikabulkan.”
Hadirin jamaah jum’at yang dirahmati Allah.
Pada saat kita berdoa, tentu tidak ada harapan lain yang ada dalam hati kita selain doa kita dikabulkan oleh Allah SWT. Setiap hari kita berdoa agar semua urusan dimudahkan, rizki dicukupkan, kesehatan dan umur ditambah dan dipanjangkan, putra-putri kita dijadikan orang shalih dan shalihah, ilmu bertambah dan karir atau pekerjaan supaya dipermudah. Dari sekian banyak doa-doa yang kita panjatkan siang dan malam, mungkin ada yang merasa sebagian sudah dikabulkan, dan mungkin tidak sedikit yang merasa doanya sama sekali belum dikabulkan. Lalu kalau kita renungkan petuah yang dikemukakan Ibrahim bin A’dham di atas, maka timbullah pertanyaan; apakah kita termasuk orang yang mengerjakan salah satu dari sepuluh hal yang membuat hati kita mati atau bahkan semuanya kita lakukan? Kalau pertanyaan itu ditujukan untuk saya sendiri, maka sepertinya sepuluh hal itu sering saya lakukan sehari-hari.
Hadirin jama’ah jum’at yang dirahmati Allah.
Hal menarik dari petuah Ibrahim bin A’dham di atas, untuk kita renungkan bersama saat ini adalah, bagaimana kita menjaga hati. Rasulullah Saw pernah bersabda bahwasanya di dalam tubuh seseorang terdapat sesuatu yang disebut hati. Jika kualitas si hati itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuh. Tetapi sebaliknya, jika kualitas si hati itu buruk, maka akan buruklah seluruh tubuh. Kalau demikian, apa fungsi hati bagi tubuh kita?
Kalau dilihat secara fisik, hati, menurut ilmu kesehatan adalah organ tunggal yang paling besar dan kompleks. Dalam tubuh, hati memiliki fungsi yang sangat penting dan rumit demi kesehatan seluruh tubuh. Sedikitnya ada tiga manfaat Allah memberikan kita anggota tubuh yang bernama hati. Pertama, hati berfungsi mengatur komposisi darah, jumlah gula, protein dan lemak yang masuk ke dalam darah. Kedua, hati berfungsi mengubah semua zat makanan menjadi sesuatu yang berguna bagi tubuh dan juga menyimpan zat gizi. Ketiga, hati berfungsi untuk memisahkan kandungan kimia yang ada dalam obat-obatan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang tidak berbahaya bagi tubuh.
Tetapi, yang dimaksud hati kita mati oleh Ibrahim bin A’dham di atas apakah hati yang bersifat fisik semata? Tentu tidak demikian jawabannya. Yang disebut hati kita mati oleh sepuluh hal adalah hati nurani kita, jiwa kita dan kesadaran kita. Selain memiliki hati yang bersifat fisik, manusia juga memiliki hati nurani yang bersifat non fisik. Tidak diketahui secara pasti dimana letak dan seperti apa bentuk hati nurani itu. Akan tetapi, setiap manusia pasti merasakan keberadaannya. Kalau hati yang bersifat fisik mampu memisahkan bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi tubuh, maka demikian halnya dengan hati nurani kita.
Contoh, kalau kita berbuat salah misalnya, maka pasti kita merasa bahwa apa yang kita perbuat itu memang salah meski akal pikiran dan nafsu kita menganggap benar. Seorang penjahat sekalipun, yang setiap hari selalu berbuat kejahatan kepada orang lain, mereka pasti juga merasa bahwa perbuatannya itu tidak benar. Nah, kesadaran dan perasaan seperti itu seakan-akan muncul di hati kita yang letaknya berada di depan dada ini, sehingga orang kemudian menyebutnya sebagai bisikan hati nurani. Oleh sebab itu, di samping kita harus menjaga hati kita yang bersifat fisik agar selalu sehat, kita juga diharuskan untuk menjaga hati nurani dengan cara mau mendengar bisikan-bisikannya.
Menjaga hati yang bersifat fisik, dapat dilakukan dengan menjaga pola makan, olahraga dan barangkali juga istirahat yang cukup. Sementara menjaga hati nurani yang bersifat non fisik, kita dapat melakukan apa yang pernah dikatakan oleh Sunan Kalijaga tentang obat hati yang berjumlah lima macam. Pertama, membaca Qur’an sambil merenungkan maknanya. Kedua, shalat malam. Ketiga, banyak melakukan dzikir malam. Empat, berpuasa dan kelima senang bergaul dengan orang-orang shalih.
Demikian itulah beberapa cara agar hati kita menjadi hidup dan peka sehingga karena itulah doa-doa kita akan didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Baarakallaahu lii wa lakum fil qur’aanil kariim. Wanafaanii wa iyyakum bimaa fiihi wadzdzikril hakim. Wataqabbala minnii wa mingkum tilaawatahuu, innahuu huwal ghafuurrahiim.
Oleh Salman Rusydie Anwar
30 April 2011
Hadirin jamaah jum’at yang dirahmati Allah SWT.
Muhammad Amin Al-Jundi, dalam bukunya yang berjudul Mi’ah Qishshah Wa Qishshah Fii Aniis ash-Shaalihiin Wa Samiir al-Muttaqiin Juz.II, hal.94 menuliskan sebuah kisah begini. Konon, pada suatu hari, Ibrahim bin A’dham ra pernah melintas di pasar Basrah. Tak lama kemudian, orang-orang yang kebetulan melihat Ibrahim datang mendatangi dan mengerumuninya. Salah seorang diantara mereka berkata, “Wahai Abu Ishaq, apa yang menyebabkan doa-doa kami tidak pernah dikabulkan?”
Ibrahim kemudian menjawab, “Doa kalian tidak dikabulkan karena hati kalian telah mati oleh sepuluh hal. Pertama, kalian mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya. Kedua, kalian mengaku cinta kepada Rasulullah Saw tetapi meninggalkan sunnahnya. Ketiga, kalian membaca al-Qur’an tetapi tidak mengamalkan isinya. Keempat, kalian memakan nikmat-nikmat Allah SWT tetapi tidak pernah pandai mensyukurinya. Kelima, kalian mengatakan bahwa setan itu adalah musuh kalian tetapi tidak pernah berani menentangnya. Keenam, kalian katakan bahwa surga itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya. Ketujuh, kalian katakan bahwa neraka itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak mau lari darinya. Kedelapan, kalian katakan bahwa kematian itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah menyiapkan diri untuknya. Kesembilan, kalian bangun dari tidur lantas sibuk memperbincangkan aib orang lain tetapi lupa dengan aib sendiri. Dan kesepuluh, kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka. Itulah sebabnya hati kalian menjadi mati dan karenanya doa-doa kalian tak pernah dikabulkan.”
Hadirin jamaah jum’at yang dirahmati Allah.
Pada saat kita berdoa, tentu tidak ada harapan lain yang ada dalam hati kita selain doa kita dikabulkan oleh Allah SWT. Setiap hari kita berdoa agar semua urusan dimudahkan, rizki dicukupkan, kesehatan dan umur ditambah dan dipanjangkan, putra-putri kita dijadikan orang shalih dan shalihah, ilmu bertambah dan karir atau pekerjaan supaya dipermudah. Dari sekian banyak doa-doa yang kita panjatkan siang dan malam, mungkin ada yang merasa sebagian sudah dikabulkan, dan mungkin tidak sedikit yang merasa doanya sama sekali belum dikabulkan. Lalu kalau kita renungkan petuah yang dikemukakan Ibrahim bin A’dham di atas, maka timbullah pertanyaan; apakah kita termasuk orang yang mengerjakan salah satu dari sepuluh hal yang membuat hati kita mati atau bahkan semuanya kita lakukan? Kalau pertanyaan itu ditujukan untuk saya sendiri, maka sepertinya sepuluh hal itu sering saya lakukan sehari-hari.
Hadirin jama’ah jum’at yang dirahmati Allah.
Hal menarik dari petuah Ibrahim bin A’dham di atas, untuk kita renungkan bersama saat ini adalah, bagaimana kita menjaga hati. Rasulullah Saw pernah bersabda bahwasanya di dalam tubuh seseorang terdapat sesuatu yang disebut hati. Jika kualitas si hati itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuh. Tetapi sebaliknya, jika kualitas si hati itu buruk, maka akan buruklah seluruh tubuh. Kalau demikian, apa fungsi hati bagi tubuh kita?
Kalau dilihat secara fisik, hati, menurut ilmu kesehatan adalah organ tunggal yang paling besar dan kompleks. Dalam tubuh, hati memiliki fungsi yang sangat penting dan rumit demi kesehatan seluruh tubuh. Sedikitnya ada tiga manfaat Allah memberikan kita anggota tubuh yang bernama hati. Pertama, hati berfungsi mengatur komposisi darah, jumlah gula, protein dan lemak yang masuk ke dalam darah. Kedua, hati berfungsi mengubah semua zat makanan menjadi sesuatu yang berguna bagi tubuh dan juga menyimpan zat gizi. Ketiga, hati berfungsi untuk memisahkan kandungan kimia yang ada dalam obat-obatan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang tidak berbahaya bagi tubuh.
Tetapi, yang dimaksud hati kita mati oleh Ibrahim bin A’dham di atas apakah hati yang bersifat fisik semata? Tentu tidak demikian jawabannya. Yang disebut hati kita mati oleh sepuluh hal adalah hati nurani kita, jiwa kita dan kesadaran kita. Selain memiliki hati yang bersifat fisik, manusia juga memiliki hati nurani yang bersifat non fisik. Tidak diketahui secara pasti dimana letak dan seperti apa bentuk hati nurani itu. Akan tetapi, setiap manusia pasti merasakan keberadaannya. Kalau hati yang bersifat fisik mampu memisahkan bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi tubuh, maka demikian halnya dengan hati nurani kita.
Contoh, kalau kita berbuat salah misalnya, maka pasti kita merasa bahwa apa yang kita perbuat itu memang salah meski akal pikiran dan nafsu kita menganggap benar. Seorang penjahat sekalipun, yang setiap hari selalu berbuat kejahatan kepada orang lain, mereka pasti juga merasa bahwa perbuatannya itu tidak benar. Nah, kesadaran dan perasaan seperti itu seakan-akan muncul di hati kita yang letaknya berada di depan dada ini, sehingga orang kemudian menyebutnya sebagai bisikan hati nurani. Oleh sebab itu, di samping kita harus menjaga hati kita yang bersifat fisik agar selalu sehat, kita juga diharuskan untuk menjaga hati nurani dengan cara mau mendengar bisikan-bisikannya.
Menjaga hati yang bersifat fisik, dapat dilakukan dengan menjaga pola makan, olahraga dan barangkali juga istirahat yang cukup. Sementara menjaga hati nurani yang bersifat non fisik, kita dapat melakukan apa yang pernah dikatakan oleh Sunan Kalijaga tentang obat hati yang berjumlah lima macam. Pertama, membaca Qur’an sambil merenungkan maknanya. Kedua, shalat malam. Ketiga, banyak melakukan dzikir malam. Empat, berpuasa dan kelima senang bergaul dengan orang-orang shalih.
Demikian itulah beberapa cara agar hati kita menjadi hidup dan peka sehingga karena itulah doa-doa kita akan didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Baarakallaahu lii wa lakum fil qur’aanil kariim. Wanafaanii wa iyyakum bimaa fiihi wadzdzikril hakim. Wataqabbala minnii wa mingkum tilaawatahuu, innahuu huwal ghafuurrahiim.
Selasa, 29 Maret 2011
Renungan Shahibu Baiti
Ya Rasulallah!
Meski dengan perantara alunan music sederhana ini, aku mencoba belajar merangkum kembali cintaku kepadamu. Selain hanya secuil rasa percaya diri yang rapuh, sebenarnya tak ada kesucian dalam diriku, yang membuatku merasa pantas mengutarakan rasa cinta ini kepadamu.
Prestasi keseharianku adalah dosa dan dosa. Puncak kematangan ilmuku adalah kebodohan yang begitu perih, yang membuat langkahku tak kunjung mendekat pada cintamu. Begitu tinggi jenjang pendidikan yang aku tempuh, namun semuanya semakin menguakkan betapa tebal ketidakmengertianku tentang diriku sendiri.
Ya Rasulallah!
Engkaulah imam para nabi, yang menegakkan tidak hanya agama, melainkan juga cinta. Tuhan menanamkan keistimewaan pada wajahmu, sehingga engkau lebih terang dari purnama. Tuhan meminjamkan kelembutannya pada jiwamu, sehingga engkau tak pernah menanam dendam pada siapa pun saja, termasuk mereka yang memusuhimu.
Ya Rasulallah!
Gemetar hatiku menanti hari perhitungan-Nya, yang tak sebutir debupun dari kesalahanku yang tak akan luput dari pertanyaan-Nya. Sementara sebagai umatmu, aku berada pada barisan terakhir yang mencintaimu. Aku senantiasa menjadi masbuk dari tegaknya shaf-shaf kebenaran yang engkau jalankan. Apakah engkau bersedia menawar nasibku kelak, wahai Nabi? Ketika Tuhan memutuskan untuk melemparku ke dalam gejolak api neraka?
Aku tak memiliki apa-apa, yang dapat kubanggakan sebagai umatmu dan hamba-Nya. Maka di tengah makin nyinyirnya hidup yang kujalani ini, wahai Rasul, ijinkan aku mengutarakan rasa cintaku ini kepadamu. Meski aku sendiri tahu, betapa akan selalu samar suaraku di pendengaranmu walau berkali-kali kuteriakkan namamu. Hari demi hari.
Meski dengan perantara alunan music sederhana ini, aku mencoba belajar merangkum kembali cintaku kepadamu. Selain hanya secuil rasa percaya diri yang rapuh, sebenarnya tak ada kesucian dalam diriku, yang membuatku merasa pantas mengutarakan rasa cinta ini kepadamu.
Prestasi keseharianku adalah dosa dan dosa. Puncak kematangan ilmuku adalah kebodohan yang begitu perih, yang membuat langkahku tak kunjung mendekat pada cintamu. Begitu tinggi jenjang pendidikan yang aku tempuh, namun semuanya semakin menguakkan betapa tebal ketidakmengertianku tentang diriku sendiri.
Ya Rasulallah!
Engkaulah imam para nabi, yang menegakkan tidak hanya agama, melainkan juga cinta. Tuhan menanamkan keistimewaan pada wajahmu, sehingga engkau lebih terang dari purnama. Tuhan meminjamkan kelembutannya pada jiwamu, sehingga engkau tak pernah menanam dendam pada siapa pun saja, termasuk mereka yang memusuhimu.
Ya Rasulallah!
Gemetar hatiku menanti hari perhitungan-Nya, yang tak sebutir debupun dari kesalahanku yang tak akan luput dari pertanyaan-Nya. Sementara sebagai umatmu, aku berada pada barisan terakhir yang mencintaimu. Aku senantiasa menjadi masbuk dari tegaknya shaf-shaf kebenaran yang engkau jalankan. Apakah engkau bersedia menawar nasibku kelak, wahai Nabi? Ketika Tuhan memutuskan untuk melemparku ke dalam gejolak api neraka?
Aku tak memiliki apa-apa, yang dapat kubanggakan sebagai umatmu dan hamba-Nya. Maka di tengah makin nyinyirnya hidup yang kujalani ini, wahai Rasul, ijinkan aku mengutarakan rasa cintaku ini kepadamu. Meski aku sendiri tahu, betapa akan selalu samar suaraku di pendengaranmu walau berkali-kali kuteriakkan namamu. Hari demi hari.
Langganan:
Postingan (Atom)
