Oleh Salman Rusydie Anwar
“Gayus kabur dengan tertib dari dalam tahanan. Sompret benar si akal bulus itu.”
Martejo menghempaskan tubuhnya di atas tikar lapuk malam itu. Diantara sekitar tujuh orang yang biasa hadir ke rumah Marju’e tiap malam Minggu, baru Martejo yang datang. Sendirian. Dengan sarung diselempangkan di leher. Setiap malam minggu, rumah Marju’e memang kelihatan ramai dengan adanya orang-orang yang berasal dari kalangan petani, abang becak, kuli bangunan, tukang parkir, petugas kebersihan jalan, pembuat bata. Dan Marju’e sendiri memiliki pekerjaan tak kalah tragis; pemulung. Mereka berkumpul sekadar main gaple, ngobrol-ngobrol dan pijat secara bergantian. Bhinneka Tunggal Ikalah modelnya.
Anehnya, mereka berkumpul sesama orang yang memiliki awalan nama M. Ada Martejo si tukang bata, Masrawi si petani, Marju’e si pemulung, Murahwi si petugas kebersihan jalan, Misnawan si tukang becak, Maryono si kuli bangunan, dan Marham si tukang parkir. Itu sebabnya mereka menamakan kumpulan mereka dengan nama “M 150”, mirip nama sebuah minuman suplemen. Angka 150 itu sebenarnya penjelasan dari berdirinya perkumpulan tersebut yang didirikan pada tanggal 1 bulan 5 tahun 2000.
“Yang lain pada belum datang?” tanya Martejo.
“Murahwi tak mungkin datang. Tadi dia ijin. Katanya ada pertemuan di balai kota.”
“Pertemuan apaan?”
“Jalanan kan makin kumuh dan kotor dengan sampah. Mungkin ada semacam pengarahan dari kepala dinas kebersihan kota.”
“Sompret. Kepala dinasnya saja suruh nyapu.”
“Dari tadi somprat-sompret terus. Lagi mangkel?”
“Mangkel sama Gayus dan aparat Brimob. Gampang sekali mereka disogok.”
Marju’e sontak tertawa ngakak mendengar alasan kemangkelan sahabat karibnya sejak kecil itu. “Hei, bung. Seandainya sembilan puluh sembilan persen warga negara ini dihuni oleh tukang bata macam kau yang sama-sama mangkel atas kasus itu, keadaan tak akan berubah seinci pun. Negara tak akan terpengaruh.”
Martejo hampir protes. Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara bel yang berkleneng-kleneng nyaring di depan halaman. Tampak Misnawan datang menjinjing sebuah bungkusan.
“Kubawakan tujuh bungkus kopi untuk kalian yang terhormat,” katanya sambil bersalaman.
“Mantap. Akhirnya, setelah sepuluh tahun kita buat perkumpulan ini, baru sekaranglah hatimu terbuka untuk bersedekah,” tukas Marju’e.
“Sompret.”
“Loh, kok sompret juga. Mangkel sama Gayus juga?” tanya Marju’e sambil bergegas ke dalam untuk mengambil gelas.
“Ah. Tak ada Gayas-Gayusan. Yang penting rejeki mbecak hari ini lumayan,” jawab Misnawan yang langsung rebahan di samping Martejo sambil bercerita kalau siang tadi dia dapat order ngangkut-ngangkut barang.
“Coba kau jadi petugas Brimob yang jaga kamar tahanannya Gayus, pasti kaya kau dalam waktu semalam,” kata Martejo
“Alaah. Gayus lagi, Gayus lagi. Bikin hilang nafsu makan kalau mikirin dia. Kau tukang bata berlagak kayak pengacaranya saja. Kenapa kau ini?”
Sambil menuangkan kopi ke dalam gelas, Marju’e menjelaskan kenapa Martejo berbicara Gayus.
“Oohh, itu masalahnya to, Kang. Tak usah ikut ribut soal dia. Sudah ada yang mengatur.”
“Sompret kowe. Bukan itu masalahnya. Tapi mikir dong, masak tahanan bisa keluar masuk seenak udel-nya.”
“Dia kan uangnya banyak to, Jo. Jadi tak ada masalah jika dia mau begitu. Tinggal buat kesepakatan dengan petugas rutannya. Beres. Lagi pula kata kau dia kabur dengan tertib. Itu cocok. Polisi kan tugasnya menciptakan ketertiban dan keamanan masyarakat,” Marju’e menengahi.
“Kabur dengan tertib. Yang aku dengar dia bisa keluar masuk rutan. Bukan kabur,” sela Misnawan.
“Kabur dengan tertib itu menurut istilah Martejo. Artinya, ya sama dengan yang kau dengar itu.”
Misnawan menyalakan rokok. Asap mengepul menerobos serat-serat malam yang semakin dingin. Martejo mengedarkan pandang ke tengah halaman. Mencari-cari barangkali ada lagi yang bakal datang. Namun hanya sunyi yang terpancang di sana. Sedang Marju’e sudah berkali-kali mulutnya menguap. Ngantuk setelah seharian hanya mendapat sedikit barang bekas. Padahal dia sudah berjalan kurang lebih sepuluh kilo jauhnya. Setelah agak lama sama-sama terdiam, akhirnya Martejo buka suara:
“Besok, anakku si Suyono akan aku masukkan ke sekolah brimob. Biar dia bisa jaga rutan tempatnya Gayus. Biar dia kecipratan berkahnya si Tambunan itu.”
Misnawan dan Marju’e yang mendengar omongan Martejo secara spontan sama-sama berucap:
“Sompret kowe...”
Setelah itu mereka tertawa ngakak bersama. Tawa yang bebas. Sebebas mereka bermimpi dan berkhayal. Setiap hari. Setiap waktu.
Jumat, 21 Oktober 2011
Bakso
Salman Rusydie Anwar
Nur Kasiman hanya pedagang bakso biasa. Padanya, tak terlihat hal-hal yang membuat dirinya tampak istimewa. Setiap hari seusai dhuhur dia bersiap membuka warung baksonya. Untuk hari Minggu dia ikutan libur kerja. Sebagai pedagang bakso dengan warung lapak apa adanya, Mas Nur –begitu ia akrab disapa- tentu tak memiliki pemasukan tetap, apalagi dengan jumlah yang sangat besar.
“Cukup untuk mencukupi kebutuhan sekeluarga. Dan itu alhamdulillah,” katanya.
Dan begitulah Mas Nur menjalani sejarah hidupnya. Sudah tujuh tahun dia membuka usaha berjualan bakso tanpa pernah berpikir apakah kelak dia akan menjadi kaya dengan usahanya itu atau sekadar biasa-biasa saja atau bahkan mungkin jatuh terpuruk dan menjadi papa. Baginya yang terpenting adalah bekerja. Tanpa agenda. Tanpa rencana. Mungkin kehidupan ini dipahaminya seperti sebuah aliran air di sebuah kali. Mengalir begitu saja. Datar. Tanpa riak dan...yah, begitu-begitu saja.
Mohon prinsip Mas Nur ini jangan diutarakan kepada para konsultan, motivator-motivator atau penasehat hidup dengan label apapun. Bukan maksud saya agar Mas Nur tetap hidup begitu saja dan apa adanya. Tetapi antara Mas Nur dengan mereka terdapat kesenjangan sejarah yang sangat sukar dipertemukan garis tepinya. Mas Nur telah menemukan daya survive-nya dengan cara dan hidupnya sendiri yang kemudian ia pegang dan yakini erat-erat. Sehingga untuk mengubahnya barangkali diperlukan seminar dua tahun penuh berturut-turut. Wow....
Namun Mas Nur ternyata bukan sekadar “Mas Nur” yang pedagang bakso. Di samping itu dia juga mengandung banyak makna untuk diraba; dia kepala keluarga, ayah dari ketiga anaknya, kakak dari adiknya, cucu dari neneknya, anak dari kedua orangtuanya, seorang warga dari bangsa yang didiaminya dan yang tak kalah penting dia adalah manusia.
Sebagai manusia, Mas Nur telah membuktikan fungsi kehadirannya di dunia ini yang tidak lain adalah untuk BEKERJA. Manusia diciptakan memang untuk bekerja, yang sayangnya kata “bekerja” ini telah diarahkan maknanya hanya pada usaha mencari uang, harta. Padahal bekerja itu meliputi tidur, mandi, bera’, kencing, bersetubuh, shalat, berdoa dan sebagainya. Bahkan bayi yang baru lahirpun oleh Allah sudah diberi kemampuan untuk bekerja seperti menangis, kencing, buang air besar dan tidur.
Hal yang menarik dari Mas Nur disini adalah keberadaannya sebagai warga dari bangsa yang didiaminya. Suatu hari saya pernah mampir ke warung baksonya dan kebetulan beliau sedang membaca berita dari sebuah koran bekas.
“Repot tenan, dadhi wong Indonesia,” ujarnya.
Saya bertanya, “Memang ada apa? Kenapa harus repot?”
“Setiap hari harus selalu siap kaget.”
“Loh, kok bisa?”
“Sebentar-sebentar ada berita bencana, hati jadi menangis lagi lihat para korban menderita. Lalu ada tahanan yang bisa keluyuran, ada pejabat baru korup, banjir, gosip artis, demo, tawuran. Wes, poko’e kabeh bikin mumet ndas. Hilang akal kita, bagaimana sih caranya jadi rakyat yang menyenangkan disini.”
Bagi saya ucapan Mas Nur luar biasa. Dia mencoba mengapresiasi kejadian demi kejadian yang dialami bangsanya dengan daya nalarnya yang sederhana, ringan, sedikit gurih, manis namun juga ada dikit-dikit pedasnya. Jika dirasa-rasa, sama persis dengan cita rasa bakso yang dijualnya.
Ah, dari pada mumet kayak Mas Nur, mending hayo kita makan bakso bareng-bareng. Pasti seru.
Nur Kasiman hanya pedagang bakso biasa. Padanya, tak terlihat hal-hal yang membuat dirinya tampak istimewa. Setiap hari seusai dhuhur dia bersiap membuka warung baksonya. Untuk hari Minggu dia ikutan libur kerja. Sebagai pedagang bakso dengan warung lapak apa adanya, Mas Nur –begitu ia akrab disapa- tentu tak memiliki pemasukan tetap, apalagi dengan jumlah yang sangat besar.
“Cukup untuk mencukupi kebutuhan sekeluarga. Dan itu alhamdulillah,” katanya.
Dan begitulah Mas Nur menjalani sejarah hidupnya. Sudah tujuh tahun dia membuka usaha berjualan bakso tanpa pernah berpikir apakah kelak dia akan menjadi kaya dengan usahanya itu atau sekadar biasa-biasa saja atau bahkan mungkin jatuh terpuruk dan menjadi papa. Baginya yang terpenting adalah bekerja. Tanpa agenda. Tanpa rencana. Mungkin kehidupan ini dipahaminya seperti sebuah aliran air di sebuah kali. Mengalir begitu saja. Datar. Tanpa riak dan...yah, begitu-begitu saja.
Mohon prinsip Mas Nur ini jangan diutarakan kepada para konsultan, motivator-motivator atau penasehat hidup dengan label apapun. Bukan maksud saya agar Mas Nur tetap hidup begitu saja dan apa adanya. Tetapi antara Mas Nur dengan mereka terdapat kesenjangan sejarah yang sangat sukar dipertemukan garis tepinya. Mas Nur telah menemukan daya survive-nya dengan cara dan hidupnya sendiri yang kemudian ia pegang dan yakini erat-erat. Sehingga untuk mengubahnya barangkali diperlukan seminar dua tahun penuh berturut-turut. Wow....
Namun Mas Nur ternyata bukan sekadar “Mas Nur” yang pedagang bakso. Di samping itu dia juga mengandung banyak makna untuk diraba; dia kepala keluarga, ayah dari ketiga anaknya, kakak dari adiknya, cucu dari neneknya, anak dari kedua orangtuanya, seorang warga dari bangsa yang didiaminya dan yang tak kalah penting dia adalah manusia.
Sebagai manusia, Mas Nur telah membuktikan fungsi kehadirannya di dunia ini yang tidak lain adalah untuk BEKERJA. Manusia diciptakan memang untuk bekerja, yang sayangnya kata “bekerja” ini telah diarahkan maknanya hanya pada usaha mencari uang, harta. Padahal bekerja itu meliputi tidur, mandi, bera’, kencing, bersetubuh, shalat, berdoa dan sebagainya. Bahkan bayi yang baru lahirpun oleh Allah sudah diberi kemampuan untuk bekerja seperti menangis, kencing, buang air besar dan tidur.
Hal yang menarik dari Mas Nur disini adalah keberadaannya sebagai warga dari bangsa yang didiaminya. Suatu hari saya pernah mampir ke warung baksonya dan kebetulan beliau sedang membaca berita dari sebuah koran bekas.
“Repot tenan, dadhi wong Indonesia,” ujarnya.
Saya bertanya, “Memang ada apa? Kenapa harus repot?”
“Setiap hari harus selalu siap kaget.”
“Loh, kok bisa?”
“Sebentar-sebentar ada berita bencana, hati jadi menangis lagi lihat para korban menderita. Lalu ada tahanan yang bisa keluyuran, ada pejabat baru korup, banjir, gosip artis, demo, tawuran. Wes, poko’e kabeh bikin mumet ndas. Hilang akal kita, bagaimana sih caranya jadi rakyat yang menyenangkan disini.”
Bagi saya ucapan Mas Nur luar biasa. Dia mencoba mengapresiasi kejadian demi kejadian yang dialami bangsanya dengan daya nalarnya yang sederhana, ringan, sedikit gurih, manis namun juga ada dikit-dikit pedasnya. Jika dirasa-rasa, sama persis dengan cita rasa bakso yang dijualnya.
Ah, dari pada mumet kayak Mas Nur, mending hayo kita makan bakso bareng-bareng. Pasti seru.
Kamis, 28 April 2011
Hati yang Mati oleh Sepuluh Hal
Naskah khutbah Jum'at
Oleh Salman Rusydie Anwar
30 April 2011
Hadirin jamaah jum’at yang dirahmati Allah SWT.
Muhammad Amin Al-Jundi, dalam bukunya yang berjudul Mi’ah Qishshah Wa Qishshah Fii Aniis ash-Shaalihiin Wa Samiir al-Muttaqiin Juz.II, hal.94 menuliskan sebuah kisah begini. Konon, pada suatu hari, Ibrahim bin A’dham ra pernah melintas di pasar Basrah. Tak lama kemudian, orang-orang yang kebetulan melihat Ibrahim datang mendatangi dan mengerumuninya. Salah seorang diantara mereka berkata, “Wahai Abu Ishaq, apa yang menyebabkan doa-doa kami tidak pernah dikabulkan?”
Ibrahim kemudian menjawab, “Doa kalian tidak dikabulkan karena hati kalian telah mati oleh sepuluh hal. Pertama, kalian mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya. Kedua, kalian mengaku cinta kepada Rasulullah Saw tetapi meninggalkan sunnahnya. Ketiga, kalian membaca al-Qur’an tetapi tidak mengamalkan isinya. Keempat, kalian memakan nikmat-nikmat Allah SWT tetapi tidak pernah pandai mensyukurinya. Kelima, kalian mengatakan bahwa setan itu adalah musuh kalian tetapi tidak pernah berani menentangnya. Keenam, kalian katakan bahwa surga itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya. Ketujuh, kalian katakan bahwa neraka itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak mau lari darinya. Kedelapan, kalian katakan bahwa kematian itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah menyiapkan diri untuknya. Kesembilan, kalian bangun dari tidur lantas sibuk memperbincangkan aib orang lain tetapi lupa dengan aib sendiri. Dan kesepuluh, kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka. Itulah sebabnya hati kalian menjadi mati dan karenanya doa-doa kalian tak pernah dikabulkan.”
Hadirin jamaah jum’at yang dirahmati Allah.
Pada saat kita berdoa, tentu tidak ada harapan lain yang ada dalam hati kita selain doa kita dikabulkan oleh Allah SWT. Setiap hari kita berdoa agar semua urusan dimudahkan, rizki dicukupkan, kesehatan dan umur ditambah dan dipanjangkan, putra-putri kita dijadikan orang shalih dan shalihah, ilmu bertambah dan karir atau pekerjaan supaya dipermudah. Dari sekian banyak doa-doa yang kita panjatkan siang dan malam, mungkin ada yang merasa sebagian sudah dikabulkan, dan mungkin tidak sedikit yang merasa doanya sama sekali belum dikabulkan. Lalu kalau kita renungkan petuah yang dikemukakan Ibrahim bin A’dham di atas, maka timbullah pertanyaan; apakah kita termasuk orang yang mengerjakan salah satu dari sepuluh hal yang membuat hati kita mati atau bahkan semuanya kita lakukan? Kalau pertanyaan itu ditujukan untuk saya sendiri, maka sepertinya sepuluh hal itu sering saya lakukan sehari-hari.
Hadirin jama’ah jum’at yang dirahmati Allah.
Hal menarik dari petuah Ibrahim bin A’dham di atas, untuk kita renungkan bersama saat ini adalah, bagaimana kita menjaga hati. Rasulullah Saw pernah bersabda bahwasanya di dalam tubuh seseorang terdapat sesuatu yang disebut hati. Jika kualitas si hati itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuh. Tetapi sebaliknya, jika kualitas si hati itu buruk, maka akan buruklah seluruh tubuh. Kalau demikian, apa fungsi hati bagi tubuh kita?
Kalau dilihat secara fisik, hati, menurut ilmu kesehatan adalah organ tunggal yang paling besar dan kompleks. Dalam tubuh, hati memiliki fungsi yang sangat penting dan rumit demi kesehatan seluruh tubuh. Sedikitnya ada tiga manfaat Allah memberikan kita anggota tubuh yang bernama hati. Pertama, hati berfungsi mengatur komposisi darah, jumlah gula, protein dan lemak yang masuk ke dalam darah. Kedua, hati berfungsi mengubah semua zat makanan menjadi sesuatu yang berguna bagi tubuh dan juga menyimpan zat gizi. Ketiga, hati berfungsi untuk memisahkan kandungan kimia yang ada dalam obat-obatan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang tidak berbahaya bagi tubuh.
Tetapi, yang dimaksud hati kita mati oleh Ibrahim bin A’dham di atas apakah hati yang bersifat fisik semata? Tentu tidak demikian jawabannya. Yang disebut hati kita mati oleh sepuluh hal adalah hati nurani kita, jiwa kita dan kesadaran kita. Selain memiliki hati yang bersifat fisik, manusia juga memiliki hati nurani yang bersifat non fisik. Tidak diketahui secara pasti dimana letak dan seperti apa bentuk hati nurani itu. Akan tetapi, setiap manusia pasti merasakan keberadaannya. Kalau hati yang bersifat fisik mampu memisahkan bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi tubuh, maka demikian halnya dengan hati nurani kita.
Contoh, kalau kita berbuat salah misalnya, maka pasti kita merasa bahwa apa yang kita perbuat itu memang salah meski akal pikiran dan nafsu kita menganggap benar. Seorang penjahat sekalipun, yang setiap hari selalu berbuat kejahatan kepada orang lain, mereka pasti juga merasa bahwa perbuatannya itu tidak benar. Nah, kesadaran dan perasaan seperti itu seakan-akan muncul di hati kita yang letaknya berada di depan dada ini, sehingga orang kemudian menyebutnya sebagai bisikan hati nurani. Oleh sebab itu, di samping kita harus menjaga hati kita yang bersifat fisik agar selalu sehat, kita juga diharuskan untuk menjaga hati nurani dengan cara mau mendengar bisikan-bisikannya.
Menjaga hati yang bersifat fisik, dapat dilakukan dengan menjaga pola makan, olahraga dan barangkali juga istirahat yang cukup. Sementara menjaga hati nurani yang bersifat non fisik, kita dapat melakukan apa yang pernah dikatakan oleh Sunan Kalijaga tentang obat hati yang berjumlah lima macam. Pertama, membaca Qur’an sambil merenungkan maknanya. Kedua, shalat malam. Ketiga, banyak melakukan dzikir malam. Empat, berpuasa dan kelima senang bergaul dengan orang-orang shalih.
Demikian itulah beberapa cara agar hati kita menjadi hidup dan peka sehingga karena itulah doa-doa kita akan didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Baarakallaahu lii wa lakum fil qur’aanil kariim. Wanafaanii wa iyyakum bimaa fiihi wadzdzikril hakim. Wataqabbala minnii wa mingkum tilaawatahuu, innahuu huwal ghafuurrahiim.
Oleh Salman Rusydie Anwar
30 April 2011
Hadirin jamaah jum’at yang dirahmati Allah SWT.
Muhammad Amin Al-Jundi, dalam bukunya yang berjudul Mi’ah Qishshah Wa Qishshah Fii Aniis ash-Shaalihiin Wa Samiir al-Muttaqiin Juz.II, hal.94 menuliskan sebuah kisah begini. Konon, pada suatu hari, Ibrahim bin A’dham ra pernah melintas di pasar Basrah. Tak lama kemudian, orang-orang yang kebetulan melihat Ibrahim datang mendatangi dan mengerumuninya. Salah seorang diantara mereka berkata, “Wahai Abu Ishaq, apa yang menyebabkan doa-doa kami tidak pernah dikabulkan?”
Ibrahim kemudian menjawab, “Doa kalian tidak dikabulkan karena hati kalian telah mati oleh sepuluh hal. Pertama, kalian mengenal Allah tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya. Kedua, kalian mengaku cinta kepada Rasulullah Saw tetapi meninggalkan sunnahnya. Ketiga, kalian membaca al-Qur’an tetapi tidak mengamalkan isinya. Keempat, kalian memakan nikmat-nikmat Allah SWT tetapi tidak pernah pandai mensyukurinya. Kelima, kalian mengatakan bahwa setan itu adalah musuh kalian tetapi tidak pernah berani menentangnya. Keenam, kalian katakan bahwa surga itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah beramal untuk menggapainya. Ketujuh, kalian katakan bahwa neraka itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak mau lari darinya. Kedelapan, kalian katakan bahwa kematian itu adalah haq (benar adanya) tetapi tidak pernah menyiapkan diri untuknya. Kesembilan, kalian bangun dari tidur lantas sibuk memperbincangkan aib orang lain tetapi lupa dengan aib sendiri. Dan kesepuluh, kalian kubur orang-orang yang meninggal dunia di kalangan kalian tetapi tidak pernah mengambil pelajaran dari mereka. Itulah sebabnya hati kalian menjadi mati dan karenanya doa-doa kalian tak pernah dikabulkan.”
Hadirin jamaah jum’at yang dirahmati Allah.
Pada saat kita berdoa, tentu tidak ada harapan lain yang ada dalam hati kita selain doa kita dikabulkan oleh Allah SWT. Setiap hari kita berdoa agar semua urusan dimudahkan, rizki dicukupkan, kesehatan dan umur ditambah dan dipanjangkan, putra-putri kita dijadikan orang shalih dan shalihah, ilmu bertambah dan karir atau pekerjaan supaya dipermudah. Dari sekian banyak doa-doa yang kita panjatkan siang dan malam, mungkin ada yang merasa sebagian sudah dikabulkan, dan mungkin tidak sedikit yang merasa doanya sama sekali belum dikabulkan. Lalu kalau kita renungkan petuah yang dikemukakan Ibrahim bin A’dham di atas, maka timbullah pertanyaan; apakah kita termasuk orang yang mengerjakan salah satu dari sepuluh hal yang membuat hati kita mati atau bahkan semuanya kita lakukan? Kalau pertanyaan itu ditujukan untuk saya sendiri, maka sepertinya sepuluh hal itu sering saya lakukan sehari-hari.
Hadirin jama’ah jum’at yang dirahmati Allah.
Hal menarik dari petuah Ibrahim bin A’dham di atas, untuk kita renungkan bersama saat ini adalah, bagaimana kita menjaga hati. Rasulullah Saw pernah bersabda bahwasanya di dalam tubuh seseorang terdapat sesuatu yang disebut hati. Jika kualitas si hati itu baik, maka akan baiklah seluruh tubuh. Tetapi sebaliknya, jika kualitas si hati itu buruk, maka akan buruklah seluruh tubuh. Kalau demikian, apa fungsi hati bagi tubuh kita?
Kalau dilihat secara fisik, hati, menurut ilmu kesehatan adalah organ tunggal yang paling besar dan kompleks. Dalam tubuh, hati memiliki fungsi yang sangat penting dan rumit demi kesehatan seluruh tubuh. Sedikitnya ada tiga manfaat Allah memberikan kita anggota tubuh yang bernama hati. Pertama, hati berfungsi mengatur komposisi darah, jumlah gula, protein dan lemak yang masuk ke dalam darah. Kedua, hati berfungsi mengubah semua zat makanan menjadi sesuatu yang berguna bagi tubuh dan juga menyimpan zat gizi. Ketiga, hati berfungsi untuk memisahkan kandungan kimia yang ada dalam obat-obatan dan mengubahnya menjadi sesuatu yang tidak berbahaya bagi tubuh.
Tetapi, yang dimaksud hati kita mati oleh Ibrahim bin A’dham di atas apakah hati yang bersifat fisik semata? Tentu tidak demikian jawabannya. Yang disebut hati kita mati oleh sepuluh hal adalah hati nurani kita, jiwa kita dan kesadaran kita. Selain memiliki hati yang bersifat fisik, manusia juga memiliki hati nurani yang bersifat non fisik. Tidak diketahui secara pasti dimana letak dan seperti apa bentuk hati nurani itu. Akan tetapi, setiap manusia pasti merasakan keberadaannya. Kalau hati yang bersifat fisik mampu memisahkan bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi tubuh, maka demikian halnya dengan hati nurani kita.
Contoh, kalau kita berbuat salah misalnya, maka pasti kita merasa bahwa apa yang kita perbuat itu memang salah meski akal pikiran dan nafsu kita menganggap benar. Seorang penjahat sekalipun, yang setiap hari selalu berbuat kejahatan kepada orang lain, mereka pasti juga merasa bahwa perbuatannya itu tidak benar. Nah, kesadaran dan perasaan seperti itu seakan-akan muncul di hati kita yang letaknya berada di depan dada ini, sehingga orang kemudian menyebutnya sebagai bisikan hati nurani. Oleh sebab itu, di samping kita harus menjaga hati kita yang bersifat fisik agar selalu sehat, kita juga diharuskan untuk menjaga hati nurani dengan cara mau mendengar bisikan-bisikannya.
Menjaga hati yang bersifat fisik, dapat dilakukan dengan menjaga pola makan, olahraga dan barangkali juga istirahat yang cukup. Sementara menjaga hati nurani yang bersifat non fisik, kita dapat melakukan apa yang pernah dikatakan oleh Sunan Kalijaga tentang obat hati yang berjumlah lima macam. Pertama, membaca Qur’an sambil merenungkan maknanya. Kedua, shalat malam. Ketiga, banyak melakukan dzikir malam. Empat, berpuasa dan kelima senang bergaul dengan orang-orang shalih.
Demikian itulah beberapa cara agar hati kita menjadi hidup dan peka sehingga karena itulah doa-doa kita akan didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT. Baarakallaahu lii wa lakum fil qur’aanil kariim. Wanafaanii wa iyyakum bimaa fiihi wadzdzikril hakim. Wataqabbala minnii wa mingkum tilaawatahuu, innahuu huwal ghafuurrahiim.
Selasa, 29 Maret 2011
Renungan Shahibu Baiti
Ya Rasulallah!
Meski dengan perantara alunan music sederhana ini, aku mencoba belajar merangkum kembali cintaku kepadamu. Selain hanya secuil rasa percaya diri yang rapuh, sebenarnya tak ada kesucian dalam diriku, yang membuatku merasa pantas mengutarakan rasa cinta ini kepadamu.
Prestasi keseharianku adalah dosa dan dosa. Puncak kematangan ilmuku adalah kebodohan yang begitu perih, yang membuat langkahku tak kunjung mendekat pada cintamu. Begitu tinggi jenjang pendidikan yang aku tempuh, namun semuanya semakin menguakkan betapa tebal ketidakmengertianku tentang diriku sendiri.
Ya Rasulallah!
Engkaulah imam para nabi, yang menegakkan tidak hanya agama, melainkan juga cinta. Tuhan menanamkan keistimewaan pada wajahmu, sehingga engkau lebih terang dari purnama. Tuhan meminjamkan kelembutannya pada jiwamu, sehingga engkau tak pernah menanam dendam pada siapa pun saja, termasuk mereka yang memusuhimu.
Ya Rasulallah!
Gemetar hatiku menanti hari perhitungan-Nya, yang tak sebutir debupun dari kesalahanku yang tak akan luput dari pertanyaan-Nya. Sementara sebagai umatmu, aku berada pada barisan terakhir yang mencintaimu. Aku senantiasa menjadi masbuk dari tegaknya shaf-shaf kebenaran yang engkau jalankan. Apakah engkau bersedia menawar nasibku kelak, wahai Nabi? Ketika Tuhan memutuskan untuk melemparku ke dalam gejolak api neraka?
Aku tak memiliki apa-apa, yang dapat kubanggakan sebagai umatmu dan hamba-Nya. Maka di tengah makin nyinyirnya hidup yang kujalani ini, wahai Rasul, ijinkan aku mengutarakan rasa cintaku ini kepadamu. Meski aku sendiri tahu, betapa akan selalu samar suaraku di pendengaranmu walau berkali-kali kuteriakkan namamu. Hari demi hari.
Meski dengan perantara alunan music sederhana ini, aku mencoba belajar merangkum kembali cintaku kepadamu. Selain hanya secuil rasa percaya diri yang rapuh, sebenarnya tak ada kesucian dalam diriku, yang membuatku merasa pantas mengutarakan rasa cinta ini kepadamu.
Prestasi keseharianku adalah dosa dan dosa. Puncak kematangan ilmuku adalah kebodohan yang begitu perih, yang membuat langkahku tak kunjung mendekat pada cintamu. Begitu tinggi jenjang pendidikan yang aku tempuh, namun semuanya semakin menguakkan betapa tebal ketidakmengertianku tentang diriku sendiri.
Ya Rasulallah!
Engkaulah imam para nabi, yang menegakkan tidak hanya agama, melainkan juga cinta. Tuhan menanamkan keistimewaan pada wajahmu, sehingga engkau lebih terang dari purnama. Tuhan meminjamkan kelembutannya pada jiwamu, sehingga engkau tak pernah menanam dendam pada siapa pun saja, termasuk mereka yang memusuhimu.
Ya Rasulallah!
Gemetar hatiku menanti hari perhitungan-Nya, yang tak sebutir debupun dari kesalahanku yang tak akan luput dari pertanyaan-Nya. Sementara sebagai umatmu, aku berada pada barisan terakhir yang mencintaimu. Aku senantiasa menjadi masbuk dari tegaknya shaf-shaf kebenaran yang engkau jalankan. Apakah engkau bersedia menawar nasibku kelak, wahai Nabi? Ketika Tuhan memutuskan untuk melemparku ke dalam gejolak api neraka?
Aku tak memiliki apa-apa, yang dapat kubanggakan sebagai umatmu dan hamba-Nya. Maka di tengah makin nyinyirnya hidup yang kujalani ini, wahai Rasul, ijinkan aku mengutarakan rasa cintaku ini kepadamu. Meski aku sendiri tahu, betapa akan selalu samar suaraku di pendengaranmu walau berkali-kali kuteriakkan namamu. Hari demi hari.
Rabu, 09 Februari 2011
Salah Ariel dan Dosa Kita
Saya mencintai Ariel. Bukan karena dia seorang penyanyi tampan yang mampu memperdengarkan suara bagusnya ketika sedang bernyanyi. Melainkan sebagai sesama manusia yang sama-sama menggenggam hakikat kemanusiaannya yang sewaktu-waktu dapat cacat. Sebagai wujud cinta saya kepada Ariel, saya mendukung keputusan apapun yang akan diberikan untuk “mengadili” perbuatannya, meski sampai hari ini masih simpang siur juga mengenai kebenaran atas perilaku Ariel dengan dua selebritis itu.
Saya juga yakin bahwa, ribuan orang yang berencana datang untuk mengawal sidang kasus Ariel itu memiliki rasa cinta yang sama. Persoalan apakah mereka datang dengan gemuruh amarah yang meledak-ledak, itu saya rasa adalah pilihan mereka dalam menunjukkan formula cintanya semata. Bukankah cinta tak dapat diformulasikan dalam satu bentuk seperti misalnya romantisme semata?
Artinya begini. Terlampau besarnya cinta Anda kepada seseorang, terkadang dapat membuat Anda begitu geram melihat orang yang Anda cintai itu melakukan perbuatan yang dapat menjerumuskan dan merusak nilai hidupnya.
Tapi masalahnya, sesungguhnya bangsa ini terlampau besar untuk dinodai hanya oleh seorang Ariel. Jika hukum benar-benar memberikan keputusan yang adil bagi Ariel, itu tidak berarti keadilan sudah tercipta dan kemaksiatan akan berkurang. Maka sangat aneh jika ribuan orang tiba-tiba menjadikan Ariel sebagai factor utama yang diyakini dapat merusak sebuah bangsa.
Saya sepakat bahwa Ariel memiliki penggemar yang sangat banyak. Tak sedikit orang mengidolakan Ariel sampai-sampai sosoknya menyisihkan tokoh-tokoh lain yang umpamanya lebih masuk akal untuk diidolakan. Sebut saja Nabi Muhammad. Kalau sampai si pengidola Ariel ini terjebak untuk ikutan dalam perilaku tak pantas sebagaimana dilakukan oleh Ariel, maka siapa sesungguhnya yang bersalah? Arielkah? Fansnyakah? Atau justru itu adalah kesalahan kolektif dimana di dalam kolektifitas itu dapat terangkum banyak problem seperti penddikan, politik, hukum, ekonomi dan bahkan agama.
Oleh sebab itu, Ariel bagi saya adalah satu kasus yang perlu dituntaskan. Tetapi ia tidak yang utama, karena diantara Ariel masih banyak kasus lain yang tak perlu disepelekan hanya karena pelakunya tak setenar itu artis. Maka saya tak melihat kegeraman serupa ketika kasus semacam Gayus tak kelar-kelar. Kemana para pendemo yang seakan-akan “suruhan Tuhan” itu pergi? Saya tak mendengar dengus geram hati mereka.
by; salman rusydie anwar
Saya juga yakin bahwa, ribuan orang yang berencana datang untuk mengawal sidang kasus Ariel itu memiliki rasa cinta yang sama. Persoalan apakah mereka datang dengan gemuruh amarah yang meledak-ledak, itu saya rasa adalah pilihan mereka dalam menunjukkan formula cintanya semata. Bukankah cinta tak dapat diformulasikan dalam satu bentuk seperti misalnya romantisme semata?
Artinya begini. Terlampau besarnya cinta Anda kepada seseorang, terkadang dapat membuat Anda begitu geram melihat orang yang Anda cintai itu melakukan perbuatan yang dapat menjerumuskan dan merusak nilai hidupnya.
Tapi masalahnya, sesungguhnya bangsa ini terlampau besar untuk dinodai hanya oleh seorang Ariel. Jika hukum benar-benar memberikan keputusan yang adil bagi Ariel, itu tidak berarti keadilan sudah tercipta dan kemaksiatan akan berkurang. Maka sangat aneh jika ribuan orang tiba-tiba menjadikan Ariel sebagai factor utama yang diyakini dapat merusak sebuah bangsa.
Saya sepakat bahwa Ariel memiliki penggemar yang sangat banyak. Tak sedikit orang mengidolakan Ariel sampai-sampai sosoknya menyisihkan tokoh-tokoh lain yang umpamanya lebih masuk akal untuk diidolakan. Sebut saja Nabi Muhammad. Kalau sampai si pengidola Ariel ini terjebak untuk ikutan dalam perilaku tak pantas sebagaimana dilakukan oleh Ariel, maka siapa sesungguhnya yang bersalah? Arielkah? Fansnyakah? Atau justru itu adalah kesalahan kolektif dimana di dalam kolektifitas itu dapat terangkum banyak problem seperti penddikan, politik, hukum, ekonomi dan bahkan agama.
Oleh sebab itu, Ariel bagi saya adalah satu kasus yang perlu dituntaskan. Tetapi ia tidak yang utama, karena diantara Ariel masih banyak kasus lain yang tak perlu disepelekan hanya karena pelakunya tak setenar itu artis. Maka saya tak melihat kegeraman serupa ketika kasus semacam Gayus tak kelar-kelar. Kemana para pendemo yang seakan-akan “suruhan Tuhan” itu pergi? Saya tak mendengar dengus geram hati mereka.
by; salman rusydie anwar
Sajak-sajak
Salman Rusydie Anwar
Laut Menyimpan Bau Tubuhmu
Berdiri di tepi laut, gemuruhmu mengalir
membangun lempengan-lempengan rindu terbakar
Bersama senja membasuh kaki-kakinya diujung riak
kudayung doa ini meniti gelombang
Kutatap wajah pantai murung, dan karang hitam
berlompatan ke dalam gigil
Berikan sisa bau tubuhmu agar mampu
mengasinkan perjalanan rasaku
Mengecap segala renyah keringat nelayan
yang melepas sauh hingga ke ujung malam
Meski mungkin hanya laut yang mampu
mendebarkan ombak di dadaku
meredakan sisa sakit
yang mengukir dirinya di tubuh-tubuh karang berlumut
Namun di bau tubuhmu
aku dapat menemukan tempat untuk berlabuh
Kebumen, 2011.
Usai Cinta Membaca Gerimis
Apa yang kau temukan pada kaki-kaki gerimis
di wajah jendela, usai kita mengurai cinta?
Malam seperti menyusun lolongan panjang
memperdengarkan riuh ricuh mulut si gelandang
yang tak mampu melabuhkan secuilpun kecupan
pada bibir kekasihnya pucat gemetar
Dari balik kamar yang menyimpan parfum kesukaanmu
aku melihat gerimis seperti ujung jarum ditabur
menancap telak pada sekepal otak mereka
yang tak sanggup berpikir apakah dunia masih memiliki cinta
Sisa bau anggur dibibirmu pun telah mengering
mengalirkan gersang kemarau
pada rumah-rumah kardus berlantai tanah
menyisakan mimpi-mimpi semakin renggas
diliku-luka mereka yang terus bernanah
Ingin kutuntaskan gelut geliat cinta
agar keringat ini menghanyutkan doa
ke resah risau mulut mereka
Kebumen, 2011.
Tebing Hujan
Telah kubangun sebuah tebing
dengan hujan yang berlari dari mataku
Tangan-tangan waktu merayap di atasnya
meninggalkan sejarah demi sejarah
langkah demi langkah
Kau menyangka tebing ini adalah sebuah perhentian
sedang aku meyakini ia adalah sebuah hunian
tempat luka dan doa, nyanyi dan harapan
menempa dirinya menjadi akar
yang sulurnya merambat hingga matahari
Dan ketika matahari menusukkan sinarnya
ke ubun waktu dalam diammu
kau pun menjadi bagian dari tebingku
yang harus sedia menanggung perih cuaca
Kebumen, 2011
Geretan
akan kunyalakan lagi sebatang usiamu
dengan geretan matahari dan
ruas rusukku
lalu bara
menyala
melerai kantuk yang meringkuk
dipojok saku celana
masih ada abu didadaku
menari-nari nirukan liuk angsa yang terpana
pada semburan api dibola matamu
hari masih bersarang didasar benua
menyusui ikan-ikan yang berenang
ke sunyi dermaga
menyerahkan siripnya pada usia matahari
yang semakin renta dan penuh luka
2011
Laut Menyimpan Bau Tubuhmu
Berdiri di tepi laut, gemuruhmu mengalir
membangun lempengan-lempengan rindu terbakar
Bersama senja membasuh kaki-kakinya diujung riak
kudayung doa ini meniti gelombang
Kutatap wajah pantai murung, dan karang hitam
berlompatan ke dalam gigil
Berikan sisa bau tubuhmu agar mampu
mengasinkan perjalanan rasaku
Mengecap segala renyah keringat nelayan
yang melepas sauh hingga ke ujung malam
Meski mungkin hanya laut yang mampu
mendebarkan ombak di dadaku
meredakan sisa sakit
yang mengukir dirinya di tubuh-tubuh karang berlumut
Namun di bau tubuhmu
aku dapat menemukan tempat untuk berlabuh
Kebumen, 2011.
Usai Cinta Membaca Gerimis
Apa yang kau temukan pada kaki-kaki gerimis
di wajah jendela, usai kita mengurai cinta?
Malam seperti menyusun lolongan panjang
memperdengarkan riuh ricuh mulut si gelandang
yang tak mampu melabuhkan secuilpun kecupan
pada bibir kekasihnya pucat gemetar
Dari balik kamar yang menyimpan parfum kesukaanmu
aku melihat gerimis seperti ujung jarum ditabur
menancap telak pada sekepal otak mereka
yang tak sanggup berpikir apakah dunia masih memiliki cinta
Sisa bau anggur dibibirmu pun telah mengering
mengalirkan gersang kemarau
pada rumah-rumah kardus berlantai tanah
menyisakan mimpi-mimpi semakin renggas
diliku-luka mereka yang terus bernanah
Ingin kutuntaskan gelut geliat cinta
agar keringat ini menghanyutkan doa
ke resah risau mulut mereka
Kebumen, 2011.
Tebing Hujan
Telah kubangun sebuah tebing
dengan hujan yang berlari dari mataku
Tangan-tangan waktu merayap di atasnya
meninggalkan sejarah demi sejarah
langkah demi langkah
Kau menyangka tebing ini adalah sebuah perhentian
sedang aku meyakini ia adalah sebuah hunian
tempat luka dan doa, nyanyi dan harapan
menempa dirinya menjadi akar
yang sulurnya merambat hingga matahari
Dan ketika matahari menusukkan sinarnya
ke ubun waktu dalam diammu
kau pun menjadi bagian dari tebingku
yang harus sedia menanggung perih cuaca
Kebumen, 2011
Geretan
akan kunyalakan lagi sebatang usiamu
dengan geretan matahari dan
ruas rusukku
lalu bara
menyala
melerai kantuk yang meringkuk
dipojok saku celana
masih ada abu didadaku
menari-nari nirukan liuk angsa yang terpana
pada semburan api dibola matamu
hari masih bersarang didasar benua
menyusui ikan-ikan yang berenang
ke sunyi dermaga
menyerahkan siripnya pada usia matahari
yang semakin renta dan penuh luka
2011
Ahmadiyah dan Buta Mata Kita
By: Salman Rusydie Anwar
Ahmadiyah menyimpang. Begitulah kira-kira keyakinan yang dipegang erat oleh sebagian orang, sehingga atas nama keyakinan itu pula mereka merasa perlu untuk menyerang, membakar dan melampiaskan amarah tanpa bisa dikendalikan.
“Melihat penyerangan yang begitu mengerikan, saya tiba-tiba ingat Abu Bakar,” kata seorang pemuda kepada temannya dengan suara lirih di suatu malam yang bergerimis. Ia kemudian bercerita kalau pada suatu waktu Abu Bakar pernah mendengar kebiasaan Rasulullah yang selalu pergi menemui seorang buta di pagi hari. Tak hanya pergi menemui. Beliau juga membawakan semangkuk bubur, segelas air dan menyuapkannya hingga si buta kenyang, paparnya.
Hingga Nabi Agung itu meninggal, kebiasaannya akhinya dilanjutkan oleh sahabat setianya, Abu Bakar. Untuk pertamakalinya, Abu Bakar datang menemui si buta, membawakan bubur dan meletakkannya di depan orang itu.
“Siapakah ini?” tanya si buta. Karena tidak ingin identitasnya diketahui, Abu Bakar menjawab, “Orang yang biasanya membawakan Anda bubur ke sini.”
“Tidak. Kau pasti bukan dia. Sebab biasanya dia juga membawakanku segelas air.” Abu Bakar diam dan pergi. Besok hari dia datang lagi membawakan bubur dan segelas air, lalu meletakkan di depan si buta. Seperti sebelumnya, si buta mengajukan pertanyaan yang sama dan Abu Bakar menjawab dengan jawaban yang juga sama.
“Tidak,” kata si buta, “Kau pasti bukan dia. Sebab biasanya dia juga akan menyuapi dan meminumiku hingga aku kenyang.” Kali ini Abu Bakar kembali pergi dan besok harinya dia datang membawa bubur, segelas air dan kemudian menyuapi serta meminumi si buta hingga kenyang. Setelah selesai, si buta kembali mengajukan pertanyaan:
“Sejak kemarin aku tahu kalau kau bukan orang yang biasanya datang kemari. Sekarang katakan, siapakah dirimu dan kemana perginya orang yang biasanya datang ke sini?”
Abu Bakar tercekat sebelum akhirnya dia menjelaskan, “Saya Abu Bakar. Dan orang yang selalu membawakan Anda bubur, segelas air dan menyuapi Anda hingga kenyang sudah meninggal dunia beberapa hari yang lalu. Tahukah engkau, kalau dia adalah Muhammad, utusan Allah.”
Kali ini ganti si buta yang tercekat. Tubuhnya gemetar dan air matanya tumpah tak tertahankan. Di tengah sedu-sedannya itu si buta berkata:
“Sungguh mulia Muhammad dan sungguh hinanya diriku. Wahai, Abu Bakar. Jadilah saksi atas perkataanku,” katanya sambil mengucapkan syahadat. Si buta itu ternyata adalah orang Yahudi yang sebelumnya tak hanya mengingkari kerasulan Muhammad, namun juga menyangkal keesaan Allah.
Pemuda itu menutup ceritanya sambil menghapus kedua matanya yang tampak sembab. Tak sanggup dia menahan haru melihat sedemikian mulianya sang Nabi dan sahabatnya memperlakukan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Kemuliaan itulah yang kemudian menumbuhkan simpati mendalam di hati Yahudi sehingga secara sadar ia pun bergabung dalam jamaahnya.
Si pemuda menarik napas. Sekarang dia berhadapan dengan kenyataan bahwa perbedaan keyakinan tak bisa lagi dijadikan peluang untuk berlomba melakukan sesuatu yang lebih indah dan benar. Keindahan dan kebenaran sepertinya hanya bisa dipahami lewat keseragaman yang pongah, sombong dan tak memberi kesempatan bagi pihak lain untuk mengambil jalannya sendiri tanpa harus dirintangi dan diganggu. Lain dari itu, perbedaan keyakinan sangatlah identik dengan ancaman. Sehingga orang yang berbeda keyakinan, kita anggap sebagai musuh yang tak berhak mendapat pengampunan.
“Dimanakah Abu Bakar?” teriak si pemuda tiba-tiba. “Aku rindu kehadirannya untuk menyuapi orang-orang yang kita anggap sesat dan buta akan kebenaran tanpa harus membuatnya tersedak dan tersengal. Dimanakah Nabi Agung itu berada diantara sekian ribu kepala orang-orang yang meyakini kerasulannya? Kenapa ia tidak hadir dalam kesadaran kita, sehingga apa yang kita perbuat cenderung menyimpang dari yang ia teladankan. Siapakah yang buta sekarang? Kita atau mereka yang kita yakini menyimpang itu?”
Teriakan pemuda memecah sunyi malam. Dan sahabatnya hanya memandang dengan tawa cekikikian.
Ahmadiyah menyimpang. Begitulah kira-kira keyakinan yang dipegang erat oleh sebagian orang, sehingga atas nama keyakinan itu pula mereka merasa perlu untuk menyerang, membakar dan melampiaskan amarah tanpa bisa dikendalikan.
“Melihat penyerangan yang begitu mengerikan, saya tiba-tiba ingat Abu Bakar,” kata seorang pemuda kepada temannya dengan suara lirih di suatu malam yang bergerimis. Ia kemudian bercerita kalau pada suatu waktu Abu Bakar pernah mendengar kebiasaan Rasulullah yang selalu pergi menemui seorang buta di pagi hari. Tak hanya pergi menemui. Beliau juga membawakan semangkuk bubur, segelas air dan menyuapkannya hingga si buta kenyang, paparnya.
Hingga Nabi Agung itu meninggal, kebiasaannya akhinya dilanjutkan oleh sahabat setianya, Abu Bakar. Untuk pertamakalinya, Abu Bakar datang menemui si buta, membawakan bubur dan meletakkannya di depan orang itu.
“Siapakah ini?” tanya si buta. Karena tidak ingin identitasnya diketahui, Abu Bakar menjawab, “Orang yang biasanya membawakan Anda bubur ke sini.”
“Tidak. Kau pasti bukan dia. Sebab biasanya dia juga membawakanku segelas air.” Abu Bakar diam dan pergi. Besok hari dia datang lagi membawakan bubur dan segelas air, lalu meletakkan di depan si buta. Seperti sebelumnya, si buta mengajukan pertanyaan yang sama dan Abu Bakar menjawab dengan jawaban yang juga sama.
“Tidak,” kata si buta, “Kau pasti bukan dia. Sebab biasanya dia juga akan menyuapi dan meminumiku hingga aku kenyang.” Kali ini Abu Bakar kembali pergi dan besok harinya dia datang membawa bubur, segelas air dan kemudian menyuapi serta meminumi si buta hingga kenyang. Setelah selesai, si buta kembali mengajukan pertanyaan:
“Sejak kemarin aku tahu kalau kau bukan orang yang biasanya datang kemari. Sekarang katakan, siapakah dirimu dan kemana perginya orang yang biasanya datang ke sini?”
Abu Bakar tercekat sebelum akhirnya dia menjelaskan, “Saya Abu Bakar. Dan orang yang selalu membawakan Anda bubur, segelas air dan menyuapi Anda hingga kenyang sudah meninggal dunia beberapa hari yang lalu. Tahukah engkau, kalau dia adalah Muhammad, utusan Allah.”
Kali ini ganti si buta yang tercekat. Tubuhnya gemetar dan air matanya tumpah tak tertahankan. Di tengah sedu-sedannya itu si buta berkata:
“Sungguh mulia Muhammad dan sungguh hinanya diriku. Wahai, Abu Bakar. Jadilah saksi atas perkataanku,” katanya sambil mengucapkan syahadat. Si buta itu ternyata adalah orang Yahudi yang sebelumnya tak hanya mengingkari kerasulan Muhammad, namun juga menyangkal keesaan Allah.
Pemuda itu menutup ceritanya sambil menghapus kedua matanya yang tampak sembab. Tak sanggup dia menahan haru melihat sedemikian mulianya sang Nabi dan sahabatnya memperlakukan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Kemuliaan itulah yang kemudian menumbuhkan simpati mendalam di hati Yahudi sehingga secara sadar ia pun bergabung dalam jamaahnya.
Si pemuda menarik napas. Sekarang dia berhadapan dengan kenyataan bahwa perbedaan keyakinan tak bisa lagi dijadikan peluang untuk berlomba melakukan sesuatu yang lebih indah dan benar. Keindahan dan kebenaran sepertinya hanya bisa dipahami lewat keseragaman yang pongah, sombong dan tak memberi kesempatan bagi pihak lain untuk mengambil jalannya sendiri tanpa harus dirintangi dan diganggu. Lain dari itu, perbedaan keyakinan sangatlah identik dengan ancaman. Sehingga orang yang berbeda keyakinan, kita anggap sebagai musuh yang tak berhak mendapat pengampunan.
“Dimanakah Abu Bakar?” teriak si pemuda tiba-tiba. “Aku rindu kehadirannya untuk menyuapi orang-orang yang kita anggap sesat dan buta akan kebenaran tanpa harus membuatnya tersedak dan tersengal. Dimanakah Nabi Agung itu berada diantara sekian ribu kepala orang-orang yang meyakini kerasulannya? Kenapa ia tidak hadir dalam kesadaran kita, sehingga apa yang kita perbuat cenderung menyimpang dari yang ia teladankan. Siapakah yang buta sekarang? Kita atau mereka yang kita yakini menyimpang itu?”
Teriakan pemuda memecah sunyi malam. Dan sahabatnya hanya memandang dengan tawa cekikikian.
Langganan:
Postingan (Atom)
